Membaca Ulang Akar Terorisme dan Kegagalan Romantisme Radikalisme

Ikhsan Maulana

03/05/2026

5
Min Read
Akar Radikalisme Terorisme

On This Post

Judul Buku: The Infernal Machine: A True Story of Dynamite, Terror, and the Rise of the Modern Detective, Penulis: Steven Johnson, Penerbit: Crown (imprint dari Penguin Random House), Tahun Terbit: 2024, Tebal: ±368 halaman, ISBN: ISBN-13: 978-0593443958, ISBN-10: 0593443950, Peresensi: Ikhsan Maulana.

Harakatuna.com – Ada kecenderungan berbahaya dalam diskursus publik hari ini: menganggap radikalisme dan terorisme sebagai produk zaman digital semata. Seolah-olah akar radikalisme dan terorisme adalah media sosial, algoritma, dan polarisasi politik kontemporer. Padahal, jika ditarik lebih jauh, akar kekerasan ideologis sudah terbentuk sejak lebih dari satu abad lalu, dan pola dasarnya nyaris tidak berubah.

Di sinilah buku The Infernal Machine karya Steven Johnson menjadi penting, bukan sekadar sebagai catatan sejarah, tetapi sebagai cermin yang memantulkan ulang kegagalan berpikir kita dalam memahami radikalisme. Buku ini tidak saja mengisahkan ledakan dinamit dan aksi teror, tetapi juga membongkar ilusi lama: bahwa kekerasan dapat menjadi jalan pintas menuju perubahan sosial.

Johnson secara implisit menantang satu asumsi yang hingga kini masih hidup bahwa radikalisme memiliki justifikasi moral selama dibungkus oleh narasi ketidakadilan. Buku ini justru menunjukkan sebaliknya: ketika ideologi bertemu kekerasan, yang lahir bukan pembebasan, melainkan delegitimasi.

Salah satu kekuatan utama buku ini adalah kemampuannya menghubungkan teknologi dengan transformasi kekerasan politik. Dinamit yang awalnya diciptakan untuk kepentingan industri berubah menjadi alat destruksi simbolik dan strategis. Di tangan kelompok anarkis abad ke-19, dinamit bukan sekadar senjata. Ia adalah pesan. Ia adalah propaganda dalam bentuk ledakan.

Inilah yang dikenal sebagai propaganda by the deed, gagasan bahwa tindakan kekerasan spektakuler dapat mengguncang tatanan sosial dan memicu revolusi. Namun Johnson dengan tajam memperlihatkan bahwa asumsi ini keliru secara empiris. Alih-alih membangkitkan simpati publik, aksi-aksi tersebut justru menciptakan ketakutan massal dan memperkuat posisi negara.

Di titik ini, buku ini menjadi relevan dengan konteks hari ini. Jika dulu dinamit adalah medium propaganda, maka kini peran itu diambil alih oleh algoritma digital. Namun logikanya tetap sama: kekerasan, baik fisik maupun simbolik, digunakan untuk menarik perhatian dan menciptakan efek kejut.

Yang menarik, Johnson tidak hanya berhenti pada narasi kekerasan. Ia juga menunjukkan bagaimana negara berevolusi. Ketika metode tradisional gagal menghadapi jaringan anarkis yang lintas negara, aparat keamanan dipaksa berinovasi. Dari sinilah lahir teknik investigasi modern: sidik jari, pengumpulan data sistematis, hingga kerja intelijen yang lebih terstruktur.

Dengan kata lain, terorisme modern tidak hanya melahirkan ketakutan, tetapi juga melahirkan negara modern. Ini poin krusial yang sering diabaikan. Banyak narasi radikalisme membayangkan negara sebagai entitas statis yang bisa “ditumbangkan” melalui kekerasan. Padahal, sejarah justru menunjukkan bahwa negara bersifat adaptif. Semakin besar ancaman, semakin canggih responsnya.

Dan ironisnya, kelompok radikal sering kali menjadi katalis bagi penguatan sistem yang mereka lawan. Salah satu kontribusi paling tajam dari buku ini adalah pembongkaran terhadap romantisme radikalisme.

Kelompok anarkis dalam buku ini percaya bahwa tindakan destruktif mereka adalah bentuk keberanian moral. Mereka melihat diri sebagai agen perubahan. Namun Johnson memperlihatkan realitas yang jauh lebih keras: publik tidak melihat mereka sebagai pembebas, melainkan sebagai ancaman. Di sinilah letak kegagalan fundamental radikalisme: ia terlalu percaya pada logika internal ideologi, tetapi mengabaikan persepsi sosial. Dan pola ini berulang hingga hari ini.

Dalam konteks kontemporer, banyak gerakan ekstrem masih mengandalkan narasi heroik melawan ketidakadilan, melawan sistem, melawan kekuasaan. Namun seperti yang ditunjukkan sejarah, ketika kekerasan menjadi alat utama, narasi tersebut runtuh dengan sendirinya. Bukan karena negara lebih kuat semata, tetapi karena legitimasi publik hilang.

Apa yang membuat buku ini sangat kuat adalah relevansinya dengan kondisi hari ini. Jika pada abad ke-19 teknologi mempercepat destruksi fisik, maka pada abad ke-21 teknologi mempercepat radikalisasi kognitif. Media sosial menciptakan echo chamber, memperkuat bias, dan memungkinkan ide ekstrem menyebar tanpa filter.

Namun pelajaran dari buku ini tetap berlaku: radikalisme yang mengandalkan ekstremitas, baik dalam bentuk kekerasan fisik maupun retorika, pada akhirnya akan menghadapi resistensi sosial dan respons negara. Dalam konteks Indonesia, ini menjadi sangat penting. Pendekatan keamanan saja tidak cukup. Sejarah menunjukkan bahwa radikalisme tidak lahir dari ruang hampa. Ia tumbuh dari ketidakpuasan, ketimpangan, dan krisis identitas.

Namun ketika ketidakpuasan itu dibungkus dengan justifikasi kekerasan, ia berubah menjadi ancaman kolektif. Ada beberapa keunggulan utama dari buku ini. Pertama, gaya penulisan yang naratif membuat sejarah terasa hidup. Pembaca tidak hanya membaca data, tetapi mengikuti alur cerita yang dramatis dan penuh ketegangan.

Kedua, kemampuan Johnson menghubungkan masa lalu dengan masa kini menjadikan buku ini lebih dari sekadar historiografi. Ia menjadi alat refleksi. Ketiga, pendekatannya yang multidimensional yakni menggabungkan teknologi, ideologi, dan institusi memberikan gambaran yang utuh tentang dinamika terorisme.

Namun buku ini bukan tanpa kekurangan. Kepadatan tokoh dan peristiwa kadang membuat alur terasa berat, terutama bagi pembaca yang tidak familiar dengan konteks sejarah Eropa dan Amerika.

Selain itu, fokus geografis yang terbatas membuat perspektif global kurang tergali. Padahal, radikalisme adalah fenomena lintas budaya yang memiliki variasi konteks di berbagai wilayah.

Pada akhirnya, The Infernal Machine menyampaikan satu pesan yang seharusnya sederhana, tetapi sering diabaikan: kekerasan bukan jalan menuju perubahan yang berkelanjutan. Lebih dari itu, kekerasan justru memperkuat struktur yang ingin dilawan.

Buku ini memaksa kita untuk berhenti melihat radikalisme sebagai fenomena “baru”, dan mulai memahaminya sebagai pola historis yang berulang. Dari dinamit hingga algoritma, dari anarkis hingga ekstremis digital, logikanya tetap sama. Dan jika ada satu hal yang bisa dipetik, itu adalah ini: melawan radikalisme tidak cukup dengan kekuatan, tetapi juga dengan pemahaman.

Leave a Comment

Related Post