Harakatuna.com – Saya baru saja menyelesaikan bacaan novel berjudul Bulan dari serial “Bumi” milik Tere Liye, dan saya merasa menyenangkan membaca petualangan Ali dan kawan-kawan dalam dunia paralel. Maka sebab hal-ihwal tersebut, saya ingin membincangkannya.
Tere Liye, salah satu pengarang produktif buku sastra tanah air telah menerbitkan novel beragam genre yang diminati pasar. Karya-karyanya, hampir selalu berada di urutan depan dalam pajangan toko buku, di berbagai tempat, berbagai daerah. Dan barang tentu, sebab laku keras, seharusnya itu menjadi kabar cukup menyenangkan bagi dunia literasi yang sering dipandang stagnasi atau bahkan dekaden dari tahun ke tahun.
Rasa-rasanya, kabar baik ini selalu dipandang sebagai bentuk polemik bagi peminat sastra tertentu sebab menurut pemerhati sastra, buku semacam ini tidak termasuk dalam daftar buku penting dan adiluhung dalam sastra serius. Maka ada kejadian lucu yang menimpa saya beberapa bulan lalu, dan itu terjadi sebab buku ini, novel Bulan karya Tere Liye. Sebuah buku yang dipandang tidak berbobot dan memiliki kekuatan sastra yang rendah.
Itu awal musim panas, dan kampus saya libur pekan pertama. Agaknya, hawa di Sewon cukup untuk merontokkan kulit kepala. Dan seperti biasa, daripada pergi keliling kota siang hari, saya memilih berdiam di kos dengan memeriksa tulisan.
Saya ingat betul, selain susu tawar yang saya stok di kulkas, hampir tak ada yang menarik perhatian saya saat itu. Maka tiba-tiba seorang kawan yang baru keranjingan membaca melempari dua buku novel, Bulan karya Tere Liye dan Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas karya Eka Kurniawan.
Segera setelah itu, mata saya berbinar. Saya merasa kebosanan saya akan segera enyah dan hari yang datar juga menyebalkan akan lenyap. Ia berujar pendek: “Buku apa yang akan kamu ambil pertama kali?”
Sungguh benar, saya tercenung lama. Di situasi semacam ini, meski buku Eka Kurniawan hampir selalu menawarkan beragam perenungan dahsyat manusia dengan segala macam tetek bengek psikisnya, saya betulan tak hendak memungutnya. Dengan enteng dan tenang saya mengambil buku Tere Liye, membolak-baliknya, dan lumayan takjub dengan covernya yang imajiner. Saya membaca sinopsis pendek di belakang buku dan tersenyum kecil. Setidaknya hari ini akan menyenangkan, pikir saya.
Kawan saya memiringkan kepala dan bertanya heran, “Kenapa kamu mengambil buku itu?” Saya hanya mengangkat bahu. “Kau ‘kan punya riwayat pendidikan sastra, apalagi sastra Indonesia. Sederhananya, banyak bersinggungan dengan teori-teori yang menakar mutu dan nilai seni sastra. Kenapa memilih buku Tere Liye daripada buku Eka Kurniawan?” Saya hanya tersenyum ringan dan meneguk susu tawar. Kawan saya memperhati dengan dahi mengkerut.
“Aku rasa,” kata saya, “buku ini akan cocok dibaca untuk situasiku sekarang.” Saya pun menyeret kursi dan hendak membaca. Tetapi kawan saya memberi interupsi, “Lho, bukannya novel Eka ini cocok di segala situasi, ya?” Tidak juga, jawab saya. Maka akhirnya saya pun menjelaskan alasan mengapa lebih memilih Tere Liye untuk dibaca.
Memang benar, kata saya, buku yang menceritakan Ajo Kawir ini memikat dengan sana-sini sisipan ironi. Buku setebal 250-an halaman itu mengisahkan kehidupan yang berangkat dari pengalaman realis. Kendati demikian, pembaca diajak berpikir berlebihan dengan nasib masyarakat marginal yang mengiringi Ajo Kawir. Maka apabila tidak memiliki perhatian serius atau konsentrasi ekstra, niscaya kisah ini, pesan yang hendak disodorkan oleh Eka Kurniawan akan lewat begitu saja.
Lain soalnya dengan buku Bulan karya Tere Liye. Ia hanya menawarkan fantasi berkepanjangan dan pesan-pesan pendek yang mudah dicerna. Maka bukankah sebab itu, novel ini sangat cocok dibaca pada situasi saya yang dalam keberadaan bosan ini? Kawan saya diam sebentar, lalu mengangguk pelan.
Terlepas dari itu, saya beranggapan bahwa Tere Liye memang mengambil posisi itu dalam sastra Indonesia. Alih-alih menulis dengan beragam simbol, ia lebih senang memotret dengan bahasa yang jernih sehingga dapat diikuti oleh seluruh karangan.
Saya kira, upaya semacam ini, dilakukan pula oleh J.K. Rowling dengan serial Harry Potter-nya. Dan serial tersebut menjadi salah satu buku terlaris dunia dengan jutaan kopi. Nah, pertanyaannya, apakah Tere Liye memiliki kemungkinan untuk melakukan hal demikian?
Kawan saya berujar, “bisa saja kurasa. Asal memiliki beragam aspek pendukung seperti yang diterima J.K. Rowling.” Tepat, kata saya. Tentu bisa tetapi aspek-aspek ini sungguh sangat berat untuk diterapkan di negara kita. Salah satunya adalah ‘polemik sastra serius-sastra pop’ yang masih terus membanjiri kantung-kantung kebudayaan kita.
Memang, dengan adanya polemik ini, sastra yang kurang diminati pasar tetapi memiliki nilai seni tinggi akan dilirik oleh pembaca, tetapi kadang pengarang menghina hal-ihwal eksistensi sastra pop berikut pengarang-pengarangnya. Situasi ini saya kira yang ikut menghambat eksistensi sastra sebagai buku bacaan secara luas.
Di luar dari itu, setidaknya kita perlu bersyukur bahwa masih ada masyarakat yang menyenangi sastra. Sastra dalam bentuk apapun itu, genre apapun itu. Kita perlu bersyukur dan berharap dunia perbukuan kembali semarak dan menyenangkan.

















Leave a Comment