Menjadi Sarjana Berkelas dengan Konsisten Mengasah Literasi

Dhonni Dwi Prasetyo

11/04/2026

3
Min Read
sarjana literasi

Harakatuna.com – Di Indonesia, jumlah sarjana terus meningkat setiap tahunnya. Dari sekian banyak itu, ada sebagian dari mereka yang melanggengkan satu kebiasaan kurang baik. Kebiasaan itu adalah tak lagi giat belajar saat sudah diwisuda dan menyandang gelar sarjana. Kalau dikatakan ya mereka tergolong sebagai sarjana yang tamat wisuda tamat pula membacanya.

Teman-teman, sebagai sesama sarjana, penulis ingin menyampaikan catatan reflektif ini kepadamu. Bahwa sebagai sarjana sejatinya kita adalah seorang pembelajar seumur hidup. Kita belajar itu tak mengenal batas waktu dan baru boleh berhenti kelak saat akhir waktu hidup kita telah tiba. Dan standar belajar paling minimal yang mesti kita biasakan setiap hari adalah membaca.

Kenapa membaca itu perlu? Untuk menjawab pernyataan itu, kita perlu mengerti bahwa kecerdasan otak kita itu diibaratkan seperti pisau yang tajam. Nah, setajam apapun pisau, bila tak sering diasah, pasti lama-kelamaan akan menjadi tumpul. Begitupun dengan otak kita, teman-teman. Meskipun pada mulanya sangat cerdas, tetapi kalau tidak sering diasah ya menjadi tumpul pula pada akhirnya.

Oleh karena itu, mari kita biasakan diri untuk konsisten membaca setiap hari. Tak peduli berasal dari latar belakang keluarga seperti apa; tak peduli kita lulusan sarjana apa dan dari kampus mana; tak peduli dengan apa komentar orang bila sudah lulus kok masih belajar, kita tetap perlu dan harus banyak membaca.

Dengan banyak membaca secara rutin, perlahan-lahan kita akan tetap dan senantiasa menjadi sarjana berkelas, bukan sekadar sarjana kertas. Dan memang betul-betul kalau kita amati para sarjana berkelas itu punya satu kesamaan, yakni gemar membaca, gemar mengasah literasi diri setiap hari.

Lantas, bagaimana cara agar kita dapat konsisten dalam mengasah literasi diri kita setiap hari? 

Untuk menjawab pertanyaan ini, setidaknya ada tiga hal yang penulis sarankan agar kita dapat menjadi sarjana berkelas dengan konsisten mengasah literasi, yakni:

BACA JUGA  Menulis Itu Pekerjaan Sunyi

Pertama, bacalah buku yang termuat pengetahuan positif di dalamnya setiap hari. Kalau belum bisa (mungkin sebab keterbatasan akses buku atau mahalnya harga buku, apalagi ditambah betapa gilanya pembajakan buku di negeri ini), maka usahakan untuk tetap membaca artikel positif di berbagai media yang kredibel. Usahakan hal ini rutin dijalankan setiap hari.

Kedua, setiap selesai membaca buku atau artikel yang bermuatan pengetahuan positif, lakukan proses merangkum dalam bentuk tulisan di kertas/ buku catatan. Segala informasi dan pengetahuan yang didapatkan dari membaca sebisa mungkin harus terdokumentasikan dalam bentuk tulisan. Tentu saja rangkuman tersebut ditulis secara singkat, padat, dan jelas, serta mudah dipahami oleh para pembaca. Minimal ya diri kita sendiri mudah memahaminya jika nanti membaca ulang.

Ketiga, untuk mengasah literasi kita, kita juga perlu menghindari drama selebriti/artis yang tak ada faedahnya. Pastikan apa yang masuk ke dalam pikiran kita adalah hal baik karena nanti ia pula yang akan tercermin dalam perangai kita. Pastikan apa yang menjadi tontonan atau bacaan kita setiap hari merupakan hal-hal positif, bukan negatif.

Selain membuang waktu dan energi, membaca atau menonton drama-drama selebriti/artis itu tak ada untungnya untuk hidup kita. Maka dari itu, lebih baik kita manfaatkan waktu dan energi kita untuk membaca buku, nonton podcast, menulis rangkuman insight, diskusi ilmiah, dan lain sebagainya.

Ketika tiga hal di atas kita konsistenkan setiap hari, maka kita akan menjadi pribadi yang tak hanya berbeda dari kebanyakan orang, melainkan menjadi sarjana yang “naik kelas”. Maka dari itu, mari kita biasakan diri kita untuk konsisten terus mengasah literasi kita dengan cara-cara sebagaimana tersebut di atas.

Saat kita menjadi sarjana yang “naik kelas”, insyaallah negara kita juga akan dipimpin oleh generasi berkelas pula, sehingga kelak negara ini akan semakin dengan dengan era kemajuan dan kejayaannya. Wallahu a’lam.

Leave a Comment

Related Post