Harakatuna.com – Mei sudah lewat. Bulan-bulan baik semoga tiba dengan khidmad. Mei—yang terkadang membawa bayangan banjir merah-merah—bagi saya adalah persoalan bangsa Indonesia. Bukan hanya soal-menyoal Hari Buruh, kelas pekerja, atau masyarakat proletar yang selalu dirayakan tiap-tiap tahun. Tetapi juga ingatan ngeri dan trauma pada tragedi Mei jelang runtuhnya rezim Soeharto dan harapan reformasi yang dijuang-juangkan masyarakat, khususnya masyarakat pergerakan.
Mei adalah bulan tragedi dan sebab itu, kita selalu bisa mengingatnya dengan pelbagai cara. Salah satu yang cukup populer, dengan membaca karya sastra.
Perjuangan melawan kekuasaan adalah perjuangan melawan lupa. Begitu, kata penyair Cekoslowakia, Milan Kundera. Maka ketika dihadapkan dengan realitas yang demikian mengerikan dan upaya pembungkaman sejarah oleh penguasa, tak berlebihan jika kita ‘yang berjuang melawan lupa’ mengandalkan sejarah alternatif yang diupayakan hadir oleh sastra dalam beragam bentuk, utamanya novel atau bahkan cerita pendek.
Pekan lalu, saya baru menyelesaikan bacaan ulang terhadap novel berjudul Laut Bercerita karangan Leila S. Chudori. Buku tebal yang diadaptasi menjadi film ini, bagi saya, selalu sangat menggugah. Bukan hanya sebab bagaimana penulis menceritakan kisah tokoh bernama Laut dalam upaya melawan kesewenang-wenangan pemerintah atau misalnya, kebengisan aparat ‘menyiksa’ lawan politiknya. Lebih dari itu: Buku ini mengajak pembaca untuk segera membuat sikap dan membangkitkan perasaan peduli pada sekitar.
Saya ingat, ketika membaca buku ini, hanya memerlukan lima jam penuh untuk menyelesaikannya. Perasaan dan degup jantung yang terkadang naik-turun tak tentu mendapati bahwa ada “realitas” yang semacam ini di negeri bernama Indonesia sungguh sangat menyebalkan. Sejarah alternatif ini, saya rasa diperlukan untuk dibaca oleh masyarakat muda agar kita bisa memahami apa dan bagaimana sebetulnya dunia itu dibentuk.
Sungguh benar saya percaya, masyarakat muda kita adalah masyarakat terdidik yang paham betul bagaimana kondisi bangsa. Misalnya, jika boleh menyebut, soalan yang terjadi sebab-musabab banjir Sumatera awal tahun ini. Kita sudah tidak mudah percaya narasi “umum” yang menyebut bahwa banjir tersebut murni bencana alam. Banjir hanya akibat. Lebih dari itu, ada “sebab” yang menjadikan itu terjadi. Sebagai contoh, kita sudah menelusuri secara terperinci bahwa pembabatan hutan untuk dijadikan berhektar-hektar sawit sebagai salah satu sebab utama.
Saya rasa, itu adalah kemajuan penting. Utamanya, karena begitu jernihnya informasi yang tersebar di sosial media. Meski begitu, apakah itu cukup?
Karena pada dasarnya, data informasi sejernih apapun selalu ada penanggulangannya. Salah satu narasi tandingan menyebutkan bahwa sawit juga termasuk pohon dan itu juga bisa menanggulangi banjir dan tanah longsor. Tetapi berkat karya sastra serius, untuk merespon narasi salah yang dibangun, kita kembali disadarkan akan realitas yang sebetul-betulnya. Misalnya, pada rubrik sajak di Tempo yang berjudul, “Ke Tamiang, Ke Tamiang” yang dengan jernih menyadarkan kita betapa banjir tersebut tidak hanya soalan bencana alam.
Pengalaman Pendek dan Panjang
Terlepas dari itu, mengenai buku prosa berjudul Laut Bercerita, saya memiliki pengalaman yang cukup membekas. Sekitar lima tahun lalu, saat saya masih keranjingan sebagai remaja pergerakan, demo betul-betul terjadi di pelbagai daerah. Hal itu buntut dari beragam kebijakan yang diterapkan oleh pemerintah saat itu. Rasanya, banyak anak muda turun ke jalan. Sebuah upaya yang seperti diungkapkan dalam salah satu adegan di novel tersebut. Mereka menyebut sebagai “momentum yang diciptakan”. Perlawanan-perlawanan yang rasanya hanya dapat dilakukan masyarakat muda.
Saya memang percaya, sastra selalu mengandalkan imajinasi. Meski begitu, saya juga sama percayanya bahwa sastra bersandar pada teks atau realitas. Maka saat itu, di tengah kami berusaha bergerak sama-sama menuju ruang publik—gedung pemerintah, aparat keamanan menghadang. Memang, mereka tak selalu anarkis waktu itu. Tetapi saya tak ingat itu hari keberapa, tiba-tiba –saat kami berusaha merobohkan pagar gedung pemerintah– mereka dengan beringas berteriak untuk membubarkan kami: melempar bom asap, melepas air canon, dan beberapa mengejar sesekali memukul.
Saya sungguh tercekat. Ternyata yang dialami tokoh Laut dan kawan-kawannya dalam novel yang ditulis Leila S. Chudori menimpa kami. Rasanya saat itu kami ingin melawan balik sembari berteriak marah. Apa daya kami? Kami tak memiliki pentungan atau misalnya, senjata api yang disarungkan di pinggang. Kami hanya memiliki tekad, poster perlawanan, serta harapan untuk memiliki bangsa yang lebih baik. Sesungguhnya, situasi saya saat itu sama persis seperti apa yang dialami tokoh Laut setelah dilepas oleh aparat saat melakukan aksi Blangguan: Merasa takut dan trauma.
Di saat-saat setelahnya, saya jadi terkenang tokoh novel tersebut dan memahami bahwa memang betul ada sejarah alternatif yang diciptakan sebuah sastra serius dan beruntung sekali kita mengkonsumsinya. Sehingga, jika tidak ingin disebut sebagai ironi, kita perlu bersyukur telah memiliki dan membacanya sebab ketika hal itu terjadi pada kita, kita sungguh lebih siap menghadapinya. Pada akhirnya, sastra serius memiliki sumbangsih besar bagi kita, sebagai manusia merdeka.

















Leave a Comment