Penulis Fiksi, Referensi-referensi, dan Realitas Imajiner

M. Rifdal Ais Annafis

11/07/2026

4
Min Read
Penulis Fiksi

Harakatuna.com – Awal bulan lalu, saya—dengan sedikit merasa bersalah—hadir terlambat di suatu acara kesenian di tengah kota. Lebih terperincinya, pembukaan pameran seni. Saya sampai di gedung pameran ketika tiap-tiap undangan berdiri dengan wajah semringah sembari bertepuk-tangan meriah. Saya lihat kawan yang mengundang saya tersenyum lalu berujar pendek: “Terima kasih telah hadir ke pameran saya. Terima kasih.”

Sore itu, senja seakan tersangkut di cakrawala. Dan pelbagai soalan kebudayaan telah selesai kawan saya diskusi juga presentasikan. Kendati demikian, sore itu juga pasca seremonial, seorang remaja tersenyum ke arah saya. Ia mendekat pelan-pelan dan bertanya dengan mata penuh-penuh: “Mas penulis, kan?” Saya mengangguk. “Tadi sewaktu presentasi Mas S (menyebut nama kawan saya) menyela dialog sambil menyapa sampeyan.”

Saya lagi-lagi hanya mengangguk dan membalas senyumnya. Kenalin, kata remaja tersebut sambil mengulurkan tangan, “saya juga penulis. Lebih tepatnya penyuka cerita pendek. Lebih tepatnya lagi, baru belajar.” Ia melepas jabat tangan dan memberondong pertanyaan pada saya seolah-olah seorang mahasiswa berjumpa dosen pembimbingnya, “Jika saya adalah penulis pemula, apakah saya harus membaca banyak-banyak fiksi untuk menggali imajinasi dan mengabaikan tulisan lain, atau perlukah saya turut membaca karya-karya non-fiksi sebanyak saya membaca fiksi untuk jadi referensi?”

Saya tak langsung menjawab. Saya berjalan pelan menuju stand minuman yang disediakan panitia, meneguk segelas teh dan menerawang jauh-jauh lalu berujar: “Tergantung.”

Ia mengikuti saya dengan wajah penuh minat, mata yang jika boleh meminjam perumpamaan Ahmad Tohari sebagai “Mata yang enak dipandang”, samar-samar saya tersenyum: Ya, begitulah. Setidak-tidaknya, penulis harus punya modal penasaran. Maka saya pun melanjutkan, “Kau hendak menjadi penulis seperti apa?” Demi mendengar pertanyaan saya, ia membetulkan posisi berusaha menanggapi, “yang karangannya terbit di koran-koran besar dan penting di negara kita.”

Saya menjelaskan pelan-pelan. Saya percaya, begitu kata saya, penulis fiksi dibagi menjadi dua: Penulis bakat alam dan penulis intelektual. Keduanya menjamur di belantara kepenulisan. Penulis bakat alam adalah tipe penulis yang percaya bahwa dengan modal mengamati realitas, mendalami teknik, serta menggali lebih jernih imajinasi, ia akan menghasilkan karangan dahsyat yang menyentuh pembaca.

Tipe penulis seperti ini, banyak modelnya di sastra kita. Terutama, sekelompok penulis yang hadir lebih dulu dari kita. Alasan mereka pun banyak. Misalnya, mereka percaya bahwa kemurnian imajinasi akan lebih tampak menggugah jika tidak bersinggungan dengan pemikiran lain. Sebagai contoh, cerpenis Hamsad Rangkuti.

BACA JUGA  Teknik Membuka Tulisan dengan “Kalcer”

Ia, Hamsad Rangkuti, dalam pengamatan saya—seperti juga pengakuannya dalam kumpulan cerita pendek “Maukah Kau Menghapus Bekas Bibirnya di Bibirku Dengan Bibirmu?—memilih menjadi tipe penulis yang mengandalkan imajinasi dan amatan realitas.

Sehingga mudah ditebak, karangannya yang jujur, selalu dapat menyentuh perasaan pembaca. Karangannya yang menakjubkan, memberi kekuatan murni yang realis dan imajiner.

Berbeda dengan tipe penulis intelektual. Tipe ini, selain mengandalkan imajinasi, juga memberikan tempat sejajar pada karya/karangan non-fiksi di dalam karangannya. Dalam beberapa kasus, bahkan karangan non-fiksi berupa buah pikir filsafat atau spritual menjadi penggerak utama cerita yang mengantarkan pembaca mengerti soalan-soalan apa yang hendak disampaikan penulisnya pada khalayak.

Sebagai contoh tipe penulis ini, adalah Ayu Utami. Penulis perempuan berkebangsaan Indonesia yang mendapatkan banyak penghargaan Internasional seperti Prince Claus Award (2000). Misalnya dalam seri bilangan fu. Ia banyak mengeksplor pemikiran ataupun pemahaman diluar imajinasinya sebagai pengarang. Di novel bertajuk Larung, ia menggunakan pemikiran Carl Gustav Jung tentang psikologi dan spritual setelah perpisahannya dengan kelompok psikologi Sigmund Freud sebagai penguat dan perekat cerita.

Saya berhenti sejenak. Meloloskan sebatang rokok, membakarnya, menghisap kuat-kuat dan menghembuskannya ke udara. Asapnya yang membubung, seturut juga dengan pikiran-pikiran saya yang menguap.

Saya perhatikan, remaja ini mengernyitkan bahu. Berdiam sebentar lalu melemparkan pertanyaan pendek pada saya, “Jadi Mas tipe penulis seperti apa?” Saya tertawa dan tak segera menjawab. Ia seakan-akan menguliti saya penuh-penuh. Saya pun menjawab dengan mantab: “Saya adalah penulis yang mengandalkan teks lain untuk menggenapi tulisan saya. Saya tak cukup kuat untuk hanya bermain-main dengan imajinasi, maka ketika saya hendak menulis karangan, harus lebih dulu membaca buku non-fiksi yang akan menguatkan naskah fiksi saya sebagai referensial.”

Di ‘gerombolan’ saya, ujar saya, kami percaya bahwa “bersandar pada teks” adalah usaha paling mungkin untuk membuat tulisan menjadi menakjubkan. Saya tidak menganggap menjadi tipe penulis bakat alam sebagai cara yang buruk, tetapi tipe dengan bakat alam hanya dimiliki oleh pengarang-pengarang spesial seperti misalnya, Hamsad Rangkuti. Tidak banyak orang yang bisa menirunya. Jika tak sampai pada taraf kualitas seperti itu, niscaya karangannya akan menjadi tidak menarik dan hambar.

Ia ringan-ringan tersenyum, “jadi menurut Mas, saya harus bersandar pada teks ya?” Saya tertawa terbahak-bahak. Tidak juga, jawab saya. Ia pun ikut tertawa terbahak-bahak.

Leave a Comment

Related Post