Media Sosial dan Budaya Literasi Digital Kita


0
33 shares

Hampir semua orang mulai dari muda hingga tua, pasti memiliki smartphoneSmartphone telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan seseorang pada masa kini. Mulai dari bangun tidur hingga tidur lagi kita selalu berinteraksi dengan benda ini. Bahkan studi dari lembaga riset Qualtrics and Accel menemukan fakta bahwa generasi milenial rata-rata memiliki kebiasaan mengecek smartphone mereka 150 kali setiap harinya.

Tingginya kepemilikan smartphone juga dibarengi dengan banyaknya masyarakat Indonesia yang menggunakan media sosial. Hasil riset yang dilakukan oleh Wearesocial Hootsuite yang dirilis Januari 2019 lalu menunjukkan bahwa pengguna media sosial (medsos) di Indonesia mencapai 150 juta jiwa atau sebanyak 56% dari total populasi. Jumlah tersebut mengalami peningkatan sebesar 20% dibanding tahun sebelumnya. Dari jumlah tersebut sebesar 130 juta jiwa atau 48% dari total populasi merupakan pengguna medsos mobile (gadget). Jenis media sosial yang beragam ditambah dengan fitur-fitur menarik yang tersedia membuat media sosial begitu digandrungi banyak orang.

Media sosial sendiri memiliki beberapa manfaat, tidak hanya sebagai sarana komunikasi dan silaturahmi yang mampu menghubungkan kita dengan keluarga maupun teman yang terpisah jarak jauh saja. Bagi entrepreneur, medsos dapat menjadi media untuk memasarkan produk atau jasa yang mereka tawarkan agar lebih dikenal orang. Bagi pejabat publik, medsos dapat digunakan sebagai sarana untuk memberikan layanan maupun informasi penting kepada masyarakat sehingga lebih cepat, mudah, hemat biaya dan transparan. Bahkan medsos bisa saja menjadi sarana untuk berlatih menulis. Siapa tahu hanya berawal dari sering menulis status-status yang informatif, bermanfaat, memotivasi dan inspiratif bisa membuatmu jadi dikenal orang? Apalagi kalau jadi viral. Siapa tahu dengan begini akan makin memotivasimu sehingga lebih semangat menulis.

Baca Juga:  Gonjang-ganjing Literasi

Disamping membawa manfaat, medsos juga bisa membawa dampak buruk. Menurunkan fokus dan produktivitas seseorang karena terlalu sering mengecek smartphone, membuat kita lupa waktu karena keasyikan membuka medsos sampai-sampai medsos digunakan sebagai tempat pamer oleh mereka yang terlalu sering mengumbar kehidupan pribadinya. Selain itu, medsos juga menjadi wadah yang cukup subur untuk penyebaran berita hoax, ujaran kebencian dan isu SARA serta fitnah. Bayangkan saja sebanyak 65% dari pengguna internet di Indonesia percaya dengan informasi yang beredar di dunia maya tanpa pengecekan terhadap kebenaran informasi tersebut. Kebiasaan menelan informasi mentah-mentah kemudian dengan mudahnya langsung klik tombol share inilah yang menyebabkan berita hoax mudah dan cepat sekali tersebar. Hal ini menunjukkan bahwa literasi digital kita masih memprihatinkan.

Literasi Digital dan Cakupannya 

Apa itu literasi digital? Dari wikipedia.org, literasi digital adalah pengetahuan dan kecakapan menggunakan media digital, alat-alat komunikasi, atau jaringan dalam menemukan, mengevaluasi, menggunakan, membuat informasi dan memanfaatkannya secara sehat, bijak, cerdas, cermat, tepat dan patuh hukum dalam rangka membina interaksi dan komunikasi dalam kehidupan sehari-hari. Apabila kita perhatikan dari pengertian tersebut jelaslah bahwa literasi digital tidak hanya sebatas mampu menggunakan teknologi saja, namun juga harus mampu mengolah, menganalisis dan bahkan mengevaluasi suatu informasi atau data yang kita peroleh. Maraknya penyebaran berita hoax di media-media online termasuk juga di media sosial sebenarnya menunjukkan bahwa sebagian masyarakat mudah sekali terpengaruh dan percaya dengan berita-berita tersebut. Selama kesadaran masyarakat akan pentingnya fact checking ketika menerima informasi masih rendah, berarti informasi-informasi menyesatkan seperti itu masih banyak konsumennya. Jadi, jangan heran jika para pembuat dan penyebar berita hoax masih banyak berkeliaran. Hukum supply and demand berlaku disini.

Baca Juga:  Agar Tidak Mabuk Informasi

Setidaknya ada 3 cakupan dalam literasi digital, yaitu sebagai berikut.

Pertama, kesadaran akan pentingnya menjaga privasi di dunia digital. Media sosial menjadi tempat paling bebas untuk mengekspresikan diri, terutama bagi anak dan remaja. Minimnya pengetahuan tentang literasi digital bisa membuat mereka mengumbar informasi pribadi secara sembarangan, seperti nomor HP, alamat rumah, alamat email bahkan mengaktifkan fitur GPS sehingga keberadaan mereka mudah diketahui bahkan oleh orang asing. Risiko-risiko berbahaya mulai dari pelanggaran privasi, penipuan hingga cyberbullying bisa mengintai mereka. Orangtua perlu mengedukasi anak-anaknya tentang apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan di dunia maya berikut risiko-risikonya.

Kedua, kemampuan analisis data. Dunia digital menyediakan beragam informasi yang kita butuhkan. Namun tidak semua informasi yang beredar di dunia digital layak untuk dikonsumsi. Kita harus mampu bersikap kritis terhadap informasi yang kita terima apakah informasi tersebut masuk akal atau tidak, apakah didukung dengan data yang valid atau tidak.

Ketiga, kemampuan fokus untuk menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan di depan mata. Terlalu sering mengecek smartphone membuat seseorang menjadi tidak fokus dalam menyelesaikan pekerjaan-pekerjaannya. Terlalu banyak membuka tab baru saat sedang bekerja dengan laptop atau komputer membuat kita tergoda untuk menunda-nunda menyelesaikan pekerjaan. Salah satu kegunaan teknologi adalah untuk membantu mempermudah dan mempercepat pekerjaan manusia bukan melalaikan manusia dari pekerjaannya. Jika manusia lalai dari menyelesaikan pekerjaannya, itu karena manusianya sendiri yang tidak mampu mengendalikan dirinya, mudah tergoda sehingga tidak fokus pada hal-hal yang lebih penting untuk dikerjakan.

Nampaknya pelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) di sekolah-sekolah kini jangan hanya mengajarkan siswa-siswanya untuk mampu mengoperasikan software-software komputer saja, melainkan juga mengajarkan tentang budaya literasi digital bahkan etika dalam berinteraksi dan berkomunikasi di dunia maya. Dan yang tidak kalah penting adalah orangtua harus memperkenalkan literasi digital pada anak sedini mungkin sesuai dengan jenjang usianya.

Baca Juga:  ⁠⁠⁠⁠⁠Menyehatkan Literasi Media

 


Like it? Share with your friends!

0
33 shares

What's Your Reaction?

Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Lucu Lucu
0
Lucu
Sedih Sedih
0
Sedih
Terkejut Terkejut
0
Terkejut
Wow Wow
0
Wow
Bingung Bingung
0
Bingung
Marah Marah
0
Marah
Suka Suka
0
Suka
lunaseptalisa