Harakatuna.com – Sejarah gerakan sosial di Indonesia ditulis dengan tinta emas sekaligus air mata skeptisisme. Bagaimana aktivis Angkatan ‘66 jadi motor runtuhnya Orde Lama, atau bagaimana heroisme Angkatan ‘98 berhasil merobohkan rezim otoriter Soeharto yang berkuasa tiga dekade, itu patut diapresiasi dan diteladani. Namun, setiap aksi berujung pada penangkapan ratusan penyusup. Jalanan tempat mahasiswa berpijak tidak pernah benar-benar steril dari pertautan kepentingan luar. Catat!
Kasus Tiyo Ardianto, eks-Ketua BEM UGM, yang disorot tajam hari-hari ini ihwal mobil Fortuner memicu mosi tidak percaya massal. Kepemilikan mobil itu disebut jejaring purnawirawan TNI dan poros kekuatan partai besar, hingga membuka tabir yang selama ini tabu. Isu penemuan alat pelacak (tracker) di bawah mobil tersebut kini tak lagi dipandang sebagai sekadar teror fisik, melainkan metafora dari gerakan yang sedang diintai oleh bayang-bayang kepentingan elite.
Kasus Tiyo UGM penting untuk diurai bukan untuk membunuh karakter seorang aktivis. Tulisan ini hanya ingin jadi jembatan analitis (bridge) yang menelanjangi krisis integritas dan disonansi kognitif gerakan mahasiswa hari ini. Ada sesuatu yang retak, atau tidak utuh, dalam persepsi publik ihwal aktivisme. Masyarakat dipaksa menyaksikan bagaimana batas-batas antara perjuangan akar rumput dan fasilitasi borjuis kabur dalam hitungan detik.
Faktanya perlu dipersoalkan, mengapa gerakan yang diklaim murni organik begitu mudah didelegitimasi? Ini bahaya untuk perjuangan aktivis itu sendiri. Ketika perhatian publik berhasil bergeser jadi debat ad hominem seputar siapa yang memotori atau meminjamkan mobil mewah, maka di titik itulah gerakan mahasiswa secara de facto mengalami kalah telak. Persoalan logistik menjelma menjadi senjata makan tuan yang melumpuhkan daya tawar gerakan.
Tulisan ini hendak membedah anatomi gerakan mahasiswa dari sudut pandang yang jujur, rasional, dan melampaui romantisme buta. Mahasiswa bukanlah pahlawan suci tanpa cela, namun juga bukan boneka bayaran tanpa isi kepala. Ada ruang abu-abu yang luas di antara kedua ekstrem tersebut, yakni ruang di mana idealisme bertransmisi jadi komoditas taktis yang rapuh ketika bersentuhan dengan realitas politik praktis yang kejam di luar pagar kampus.
Tagar #MahasiswaDitunggangi tren di X semalam. ‘Penumpangan’ yang dimaksud dalam aktivisme adalah pola mapan yang terus bermutasi mengikuti perkembangan zaman. Maka, di sini akan ditelisik bagaimana waktu mengubah arah perjuangan para mantan singa podium, serta menguji apakah idealisme yang sering diobral di jalanan itu memang memiliki tanggal kedaluwarsa. Konkretnya, apakah Tiyo hari ini sebenarnya adalah Budiman Sudjatmiko di masa depan?
Aktivisme Masa Lalu dan Masa Depan
Di judul, tidak dikatakan bahwa aktivisme itu bullshit. Hanya sebagian, yang artinya tulisan ini tidak hendak menggeneralisir ke-bullshit-an idealisme para aktivis. Kendati demikian, menilik lompatan sejarah antara masa lalu dan hari ini seperti sedang menyaksikan sebuah proses domestikasi ideologis yang tak berkesudahan. Budiman Sudjatmiko itu, pada dekade 1990-an, jadi simbol perlawanan sayap kiri yang radikal, mendirikan PRD, selalu siap digebuki, dipenjara, dan mempertaruhkan nyawa demi meruntuhkan kediktatoran Orde Baru.
Namun, hari ini, Budiman yang sama duduk nyaman di dalam lingkar utama kekuasaan, berjalan beriringan dengan mantan rival politik, dan melunasi utang waktu perlawanannya dengan pragmatisme politik praktis. Ketika ditarik garis lurus dari Budiman di masa lalu ke Tiyo di masa kini, ada cetak biru dari apa yang disebut ‘Kutukan Kronos’, realitas di mana waktu, usia, dan struktur sosial punya daya luruh yang luar biasa terhadap aktivisme anak muda.
Jadi, apa jaminan bahwa singa-singa podium yang hari ini urat lehernya nyaris putus mengutuk pemerintah, tidak akan mengantre di pintu belakang untuk menjilat sisa kue kekuasaan yang sama di kemudian hari? Tidak ada. Transformasi dari ‘Anak Revolusi’ jadi elite birokrasi yang bebal bukanlah anomali, melainkan siklus regenerasi politik. Banyak mantan aktivis ‘98 yang dulu berdarah-darah di jembatan Semanggi, kini justru menduduki kursi komisaris BUMN, jadi anggota DPR yang mengesahkan UU kontroversial, bahkan menjabat wakil menteri. Para aktivis itu kini sudah bermutasi.
Perubahan watak tersebut terjadi karena adanya perbedaan mendasar pada ekosistem penempaan dan orientasi gerakan antara masa lalu dan masa depan. Aktivisme masa lalu, terlepas dari segala kekurangannya, lahir dari rahim represi fisik yang riil dan diskusi teoretis bawah tanah yang butuh waktu bertahun-tahun untuk matang. Sebaliknya, iklim aktivisme hari ini berjalan penuh kekalutan; bergeser jadi panggung personal branding yang minim substansi. Gaya-gayaan belaka.
Seseorang bisa dinobatkan sebagai ‘pahlawan bangsa’ hanya dalam waktu satu semester lewat potongan video orasi yang viral. Popularitas, panggung media, hingga tawaran fasilitas seperti kasus Fortuner hitam Tiyo akan selalu standby untuk mengetuk pintu sang aktivis jauh sebelum mereka selesai dengan urusan kematangan emosional dan stabilitas finansial pribadinya. Antara di masa lalu dan nanti, aktivisme akan selalu jualan paling laris dan menagih, utamanya bagi anak-anak muda.
Ini mengapa, setengah dari aktivisme itu bullshit, dan idealisme mahasiswa di Indonesia ada dalam kutukan kemiskinan atau kelas sosial yang penuh iming-iming. Ketika sebuah aktivisme tidak lagi ditopang oleh basis massa yang terdidik secara ideologis, dan hanya digerakkan oleh tren digital dan sentimen sesaat, maka gerakan tersebut akan sangat rapuh. Aktivisme jadi fase inkubasi karier (careerism) semata. Jaket almamater dan skill orasi tak lebih dari obralan belaka. Ironi.
Idealisme itu Obralan Anak Muda?
Mengapa aktivisme mahasiswa saat ini begitu mudah dicap setengah bullshit? Jawabannya ada pada sifat dari idealisme itu sendiri ketika masih mendekam dalam tempurung kampus. Semasa kuliah, idealisme adalah barang murah yang mudah dirawat karena hidup dalam ekosistem tiruan yang steril. Mahasiswa tidak perlu pusing memikirkan potongan pajak, tagihan listrik, cicilan rumah, atau keharusan memberi makan anak istri.
Di ruang hampa udara tersebut, menjadi kritis, mengutuk kapitalisme, dan meneriakkan perlawanan adalah hal yang sangat murah, karena risiko ekonominya nol besar, sementara insentif sosialnya berupa tepuk tangan, validasi moral, dan likes di medsos sangat tinggi. Ini adalah ironi terbesar: bahwa banyak dari mereka yang merasa paling idealis, sejatinya hanya sedang bersikap sok idealis di bawah ketiak subsidi orang tua. Ini memang keras, tapi faktanya demikian.
Namun, tragedi kemanusiaan yang sesungguhnya dimulai justru pada hari ketika tali toga mereka dipindahkan dari kiri ke kanan. Begitu melangkah keluar dari gerbang kampus, realitas struktural kapitalisme menyambut para fresh graduate dengan hantaman yang brutal. Kebutuhan perut merangsek menuntut ruang. Teori-teori Karl Marx atau Tan Malaka yang dulu mereka banggakan di ruang seminar sama sekali tidak bisa dipakai untuk bayar kontrakan.
Ada satu jebakan yang jarang diketahui para aktivis: iklim sosial-politik di tanah air sengaja dirancang agar tidak menyediakan infrastruktur yang sehat bagi eks-aktivis untuk tetap kritis sekaligus hidup layak. Pilihan pasca-kampus dibuat sangat ekstrem dan kejam, yaitu bertahan di luar menjadi martir yang miskin dan tersingkir, atau melacurkan diri masuk ke dalam sistem yang menawarkan kemapanan finansial secara instan.
Bagi mahasiswa yang tidak matang secara ideologis, tawaran-tawaran kekuasaan terasa seperti apresiasi atas perjuangan mereka. Padahal, tidak pernah ada makan siang gratis. Fasilitas itu bukanlah hadiah, melainkan DP untuk menyegel suara kritis. Ketika seorang aktivis menerima suatu fasilitas, di situlah terjadi kontrak pelacuran intelektual: mereka setuju untuk dijinakkan, dipotong taringnya, dan dikendalikan arah gerakannya lewat remote control bernama ‘kemewahan’.
Karena itu, kaum idealis perlu tahu bahwa idealisme itu adalah barang yang teramat mahal, yang tidak layak diobral murah di pasar loak kekuasaan. Menjadi kritis di jalanan sembari memegang proposal bantuan dari elite politik di kantong belakang adalah kemunafikan yang menjijikkan. Perjuangan tidak boleh hanya modal urat leher dan retorika kosong di podium Gejayan atau depan Gedung DPR. Jangan biarkan aktivisme hanya menjadi sekadar hobi musiman atau ajang personal branding demi memuluskan jalan menuju korporasi oligarki.
Jika iklim aktivisme yang setengah bullshit itu tidak segera diamputasi oleh kesadaran kolektif mahasiswa sendiri, maka kutukan sejarah akan terus berulang tanpa ampun. Kampus akan terus bertindak sebagai pabrik munafik yang memproduksi calon-calon pengkhianat. Anak-anak muda yang sok idealis hanya tinggal menunggu waktu untuk bertransformasi jadi penindas rakyat yang baru—persis dengan Budiman yang menjilat ludah sendiri mengenai musuh lamanya ketika dia seorang aktivis.
Wallahu A’lam bi ash-Shawab…

















Leave a Comment