32.8 C
Jakarta

Konflik Papua dan Intoleransi akan Terlarut 10 Tahun ke Depan

Artikel Trending

Habib yang Menjamur

Dulu, saat saya kecil, di jalan-jalan tidak pernah terpampang baliho. Suasana damai sekali, bahkan tatkala gaduh pun, ya, paling itu karena persoalan biasa. Tidak...

Rizieq Shihab Mati Langkah?

Pesta penyambutan kepulangan Rizieq Shihab berubah menjadi bencana bagi masa depan perjuangan politik Rizieq Shihab dan kawan-kawan. Belum genap satu bulan menginjak kaki di...

Hukum Menyimpan Tali Pusar Bayi Menurut Islam

Tali pusar adalah jalan yang menghubungkan antara ibu dan bayinya ketika masih dikandungan. Tali pusar ini berfungsi untuk menyalurkan makanan dan oksigen dari ibu...

Ampuhnya Doa Orang Puasa

Berbicara tentang manjurnya doa orang puasa sejenak kita akan langsung tertuju pada sebuah hadis dalam Sunan Ibnu Majah yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Amr...

Relasi Iman, Keadilan dan Demokrasi ala Cak Nur

Nurcholish Madjid, atau yang biasa dipanggil Cak Nur, dikenal luas sebagai salah satu cendekiawan Muslim terbesar di Indonesia. Pemikirannya merupakan suatu usaha untuk mencari...

Makna Rahmat dalam Al-Qur’an Al-Karim

Rahmat terdiri dari tiga huruf râ’, hâ’, dan mîm. Menurut Ibnu Faris dalam Maqâyîs al-Lughah setiap kata Arab yang berakar dari tiga huruf râ’,...

Bagaimana Hukum Memberi Nasehat dalam Islam?

Tahukah kalian, mengapa agama merupakan suatu nasehat? Kehidupan seseorang bisa berubah dengan nasehat anda. Jalan kehidupan seseorang juga bisa berubah sedemikian baik lantaran duduk...

Presiden Soekarno, Waliyul Amri Dhoruri Bi-Syaukah

Presiden Soekarno, Waliyul Amri Dhoruri Bi-Syaukah Usai Kuliah Subuh, para santri yang menonton tayangan Khazanah dari sebuah stasiun televisi terlibat kegaduhan karena saling berkomentar tentang...

Harakatuna.com. Jakarta – Peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Cahyo Pamungkas, menilai Indonesia akan menghadapi dua persoalan terbesar dalam 10 tahun ke depan, yaitu intoleransi keagamaan dan separatisme konflik Papua.

“Itu konflik politik yang akan menghantui 10 tahun ke depan,” kata Cahyo dalam diskusi Resolusi Konflik di Tingkat Nasional dan Daerah, Jumat, 30 Oktober 2020.

Cahyo mengatakan intoleransi, radikalisme, dan politik identitas yang semakin terbuka telah mengancam prinsip kebinekaan dan semangat kebangsaan. Konflik Papua juga menjadi ancaman separatisme yang serius.

Persekusi dan pengusiran etnis Rohingya, kata Cahyo, mengingatkan bahwa Indonesia juga melakukan hal yang sama terhadap kelompok minoritas, seperti Syiah dan Ahmadiyah. “Ini contoh kegagalan negara melindungi minoritas,” ujarnya.

Adapun konflik Papua merupakan konflik yang paling lama di Indonesia. Persoalan ini juga merupakan salah satu krisis kemanusiaan yang jarang diperhatikan. Cahyo menuturkan, siklus kekerasan politik di tanah Papua berlangsung sejak 1965 dan tidak berhenti saat memasuki pasca reformasi. Misalnya, dengan adanya kasus pelanggaran HAM di Wasior, Wamena, dan Paniai.

Menurut Cahyo, konflik-konflik tersebut turut memperkuat memoria passionis atau ingatan penderitaan yang tidak tertulis tentang sejarah penderitaan orang Papua di masa lalu. “Kekerasan di Papua ini lah yang menyebabkan mereka ingin berpisah dengan Indonesia. Saya kira ini menyumbang menguatnya nasionalisme Papua,” kata dia.

Cahyo mengatakan, Pemerintah sudah menggunakan illiberal dan liberal peace untuk mengatasi konflik Papua dengan otonomi khusus hingga mengirim TNI dan polisi. Namun, langkah tersebut gagal menciptakan perdamaian.

Untuk menghadapi dua persoalan terbesar ini, Cahyo pun menyarankan agar menjadikan nasion sebagai proyek bersama untuk masa sekarang dan masa depan. Misalnya, membiarkan setiap etnis menjadi orang Indonesia dengan jalan yang berbeda.

Selama ini, Cahyo menilai diskursus politik lebih banyak menitikberatkan pada state atau orientasi negara. Padahal, negara selalu dimaknai hierarki dan kontrol terhadap masyarakat.

Jika saat ini bangsa sedang menyaksikan oligarki yang makin kuat dan mereduksi demokrasi, Cahyo mengatakan bahwa bangsa sedang menyaksikan state sedang kuat setelah reformasi. Jika ditambah politik identitas, kaum oligarki bisa menyetop proses pembentukan kebangsaan. “Nasion sebagai proyek bersama bisa berhenti karena kaum oligarki mendorong reduksi demokrasi. Masalah konflik sangat terkait demokrasi,” ucap Cahyo.

Harakatuna
Harakatuna
Harakatuna.com merupakan media dakwah berbasis keislaman dan kebangsaan yang fokus pada penguatan pilar-pilar kebangsaan dan keislaman dengan ciri khas keindonesiaan. Transfer Donasi ke Rekening : BRI 033901002158309 a.n PT Harakatuna Bhakti Ummat

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Artikel Terbaru

Serial Kebangsaan (I): Spirit Kebangsaan dan Kelalaian FPI

Sekitar semingguan kemarin, saya dapatkan sebuah buku yang cukup menarik dan tentunya masih relevan dibaca di era sekarang, apalagi buku ini baru saja launching....

Bom Mobil Meledak di Afghanistan, 30 Petugas Keamanan Tewas

Harakatuna.com. Ghazni-Sebuah mobil berisi bom meledak di Provinsi Ghazni, Afghanistan. Setidaknya 30 aparat keamanan tewas akibat ledakan tersebut. Seperti dilansir Reuters, Senin (30/11/2020), Direktur Rumah...

Uang Kertas Mengalami Perubahan Nilai, Bagaimana dengan Mekanisme Pembayaran Hutang?

Sudah kita ketahui bersama bahwa seiring perubahan zaman maka berubah pula nilai sebuah mata uang. Terdapat beberapa kasus yang memiliki inti permasalahan sama, yakni...

Eks Napiter, Haris Amir Falah Sebut Paham Radikalisme Mengancam Pancasila

Harakatuna.com. Solo – Munculnya paham radikalisme ekstrem yang tersebar di wilayah Indonesia mengancam Pancasila dan kedaulatan NKRI. Hal ini perlu diantisipasi, mengingat mereka telah...

Wanita dalam Pusaran Aksi Radikalisme dan Terorisme

Berbagai aksi terorisme dan radikalisme dalam beberapa dasawarsa ini kain “subur” terlebih di era milenial ini. Bergama aksi teror di Indonesia semakin banyak terjadi...

Hayya ‘Alal Jihad, Mari Berjihad Berantas FPI!

Boleh jadi, setelah membaca tulisan ini, atau sekadar membaca judulnya saja, Hayya ‘Alal Jihad, sementara orang akan berkomentar: “Bocah kemarin sore kok mau bubarkan...

Israel Musnahkan Tangga Bersejarah Masjid Al-Aqsa

Harakatuna.com. Yerusalem - Pemerintah Kota Yerusalem Israel menghancurkan tangga bersejarah yang mengarah ke Bab Al-Asbat, Masjid Al-Aqsa dan Kota Tua Yerusalem. Penghancuran tangga bersejarah ini...