Kiai Suyuthi Abdul Qadir Guyangan, Penerus Kiai Hasyim Asy’ari


0
49 shares

KH. A. Suyuthi Abdul Qadir merupakan sosok kiai kharismatik, sosoknya yang alim, santun, memiliki hubungan sosial yang begitu baik terhadap seluruh elemen masyarakat (merakyat), menjadikan suatu kerinduan tersendiri bagi masyarakat Guyangan, Trangkil, Kabupaten Pati, Jawa Tengah.

Tak sekadar lingkup Guyangan, akan tetapi bagi masyarakat Pati, nama Mbah Kiai Suyuthi memiliki peranan besar terhadap pendidikan dan kemajuan Nahdlatul Ulama’ di Kabupaten Pati. Bahkan, sepeninggalnya, Mbah KH. A. Suyuthi Abdul Qadir, masyarakat betapa rindu terhadap sosok humanisnya, yang merangkul masyarakat tanpa menyekat, siapa dirinya, dan siapa yang diajak ‘ngobrol’, leluasa berbicara tanpa ada sekat.

Mbah Kiai Suyuthi sendiri merupakan anak dari KH. Abdul Qadir, ia lahir dari rahim Nyai  Hj. Arum, dengan nama Suyuthi Abdul Qadir, yang lahir pada 1904 M, akan tetapi menurut catatan kitab dari ayahandanya, A. Suyuthi lahir pada Dzulhijjah 1325 H/1908 M. KH. Abdul Qadir sendiri adalah seorang ulama yang alim dan mempelajari kitab-kitab besar, laiknya Iqna’ dan Qishashul Anbiya’. Dari situlah, awal rihlah ilmiah Suyuthi bermula, meskipun tak lama ayahandanya meninggal.

Namun, Suyuthi muda, dikenal tak kenal lelah, semangat dalam memburu ilmu, ia adalah pemuda yang haus akan ilmu pengetahuan, tercatat dalam rihlah ilmiahnya, ia menempa ilmu pada kiai-kiai nusantara yang terkemuka.

Ilmu yang pertama, ia dapatkan dari Kiai Idris, di Pondok Mambaul Ulum Jamsaren Solo kurang lebih dua tahun ia tempuh, lalu di Pesantren Kasingan Rembang dengn Kiai Kholil dan KH. Mas’ud, juga menyambung rihlah ilmiahnya ke Pesantren Tebu Ireng, Jombang, yang langsung diasuh oleh Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari, juga ke Madura, memperdalam hafalan Al-Qur’an dengan KH Munawir, di Pesantren Sampang.

Tak hanya itu, KH. A. Suyuthi juga belajar ke Makkah, selam kurun waktu lima tahun dengan Syaikh Umar Hamdan, yang terkenal ahli kitab, di Haramain, KH. A. Suyuthi belajar berbagai kitab hadis, khususnya  Shahih Bukhari dan Muslim, juga belajar lintas disiplin ilmu, antara lain, tafsir, hadis, fiqh,  nahwu, sastra, sejarah, balaghah, dll. Masih terasa belum cukup dengan ilmu yang didapatnya, KH. Suyuthi melanjutkan ke Pesantren Sedayu Gresik yang diasuh oleh KH. Munawir dan dipungkasi dengan kembali ke Pesantren Tebu Ireng, Jombang.

Baca Juga:  Kontekstualisasi Pemaknaan Khilafah

Terlihat dengan jelas, melalui rihlah ilmiahnya, KH. A. Suyuthi, sejak kecil sudah dibentuk karakternya oleh kedua orangtuanya, keluarga, dan dikokohkan oleh guru-gurunya, sehingga dapat kita pahami, bahwa Mbah Suyuthi adalah sosok yang haus ilmu (hal : 49), bahkan penempuhan ilmu kepada Hadratusysyaikh Hasyim Asy’ari yang kedua kalinya dilakuakan semasa ia sudah menikah.

Bahkan cerita di Tebu Ireng, Kiai Suyuthi serasa istimewa dimata santri-santri lainya, ia sudah menjadi qari’ (pembaca kitab) pada eranya Mbah KH. Hasyim Asy’ari tersebut, tercatat juga, Kiai Suyuthi pernah menjadi lurah (ketua) pondok, sewaktu itu ia dikenal dengan nama Suyuthi Juwana (hal : 32).

Dengan kegemilangan dan segudang prestasi semasa pendidikan di berbagai pondok tersebut, khususnya di Tebu Ireng, pastinya, pada kepulanganya ke daerah kelahiranya, KH. Suyuthi memiliki kiprah yang bagus pada Nahdlatul Ulama’, ia menjabat sebagai Rais Syuriyah NU Kabupaten Pati, dan kawan seperjuanganya dari Pati, ketika jadi santri, hingga aktif di NU, diantaranya yakni, KH. Abdullah Zain Salam, KH. Muhammadun Pondowan, KH. MA. Sahal Mahfudh.

KH. Suyuthi adalah sosok kiai yang intelektual, berwawasan luas, mendalam keilmuanya, dan berbaur dengan masyarakat luas, selain Hafidzul Qur’an, dan pakar dalm berbagai ilmu, diantaranya, tafsir, hadis, nahwu, balaghah, fiqh, ushl fiqh, falak dll, (hal : 79), dan ilmu-ilmu tersebut disampaikanya kepada seluruh santri-santri yang menimba ilmu kepadanya.

Bahkan, Kiai Suyuthi, dalam mengasuh santri dan anak, tak pernah membeda-bedakanya, oleh karena itu, Kiai Suyuthi memiliki banyak santri, yang dibedakanya santri kalong dan santri mukim. Oleh asuhanya, santri kalong maupun mukim pun banyak menjadi kiai yang berpengaruh.

Dimata santri, KH. Suyuthi menjadi sosok yang diidolakan, penyabar, murah hati, dan begitu menyayangi santri, tidak jarang, santri yang pernah diasuhnya , menangis mengingat jasa-jasa KH. Suyuthi dalam mendidik dan menyebarkan Ahlusunnah Wal Jamaah (hal :95). Bahkan, YPRU (Yayasan Pendidikan Raudhatul Ulum) dan Pondok Pesantren Raudhatul Ulum terkenal dengan lembaga yang mengirimkan santrinya ke Al-Azhar, Mesir. Hal tersebut menunjukkan Mbah Suyuthi adalah kiai tradisional yang melek terhadap modernitas.

Baca Juga:  Mewaspadai Gerakan Kelompok Pengusung Khilafah

Halnya gurunya, Hadratusysyaikh Hasyim Asy’ari, yang memiliki jiwa nasionalisme yang begitu tinggi, Mbah Suyuthi, disela-sela mengajarkan ilmu agama, Mbah Suyuthi juga mengajarkan kepada santri, terhadap pentingnya nasionalisme harus selalu ditumbuhkan.

KH. Suyuthi Abdul Qadir, yang notabenya adalah santri Hadratusysyaikh Hasyim Asy’ari, terlibat dalam usaha kemerdekaan Indonesia, merebut kemerdekaan dari cengkeraman Belanda dan Jepang (hal : 168-169 ).

Akan tetapi, KH. Suyuthi, berperan lebih pada dakwah nasionalisme, karena pada 1932, Kiai Suyuthi sudah merintis berdirinya madrasah. Bahkan dengan perjuanganya lewat dakwah tersebut, ia pernah terancam diculik PKI, karena kegigihanya berjuang mempertahankan kemerdekaan NKRI melalui Nahdlatul Ulama (hal :169).

Perjuangan-perjuangan dakwah terus dilakukan oleh Mbah Suyuthi, tentunya makin masif, dalam wawasan kebangsaan, ia selalu menjelaskan kepada santri, untuk memtuhi pemimpin hukumnya ialah wajib dalam segala hal yang diperintahkanya, secara lahir dan batin, selagi yang diperintahkanya tidak haram atau makruh. Jika yang diperintahkanya iapah wajib, maka harus lebih dikuatkan, dan jika mubah, juga wajib apabila terdapat kemaslahatan.

Mbah Suyuthi, juga sering berpesan kepada santri, untuk menjadi orang yang selalu bermanfaat (dalam bidang apapun) dan menebar kemanfaatan.

Dalam praktik kebangsaan lainya, Mbah Suyuthi, mempraktikkan segala yang diajarkan kepada santrinya, Mbah Suyuthi juga dekat dengan pemerintahan, misalnya pada Bupati Kabupaten Pati, yang sewaktu itu dipimpin oleh Rustam Santiko, selalu berkonsultasi kepada KH. Suyuthi, dan menggunakan pertimbangan-pertimbangan yang dihaturkan oleh KH. Suyuthi terhadap pemerintahan Kabupaten Pati, dan tercatat KH. A. Suyuthi Abdul Qadir, juga pernah menjabat sebagi DPRD Kabupaten Pati.

Tercatat dengan kompleks, bagaimana peranan KH. A. Suyuthi Abdul Qadir dalam buku ini, sosoknya yang piawai dalam berbagai bidang ilmu, khidmah terhadap umat, bahkan, sebelum sepeninggalnya, Mbah Suyuthi mendermakan seluruh hartanya kepada Madrasah dan Pondok Pesantren YPRU. kedekatan dengan masyarakat kini makin di rindukan oleh masyarakat, Mbah KH. Suyuthi bukan hanya milik Raudlatul Ulum, akan tetapi milik semua umat (khusunya Kabupaten Pati), mia dari itu, maqbarahnya berada di pemakaman umum Guyangan, sebagai bentuk Mbah Suyuthi adalah milik seluruh umat. Dan kecintaanya terhadap ilmu pengetahuan dan wawasan kebangsaanya menjadi suri tauladan yang tentunya kita harapkan anak-cucu kita mewarisi segala keilmuanya.

Baca Juga:  Belajar Bijak Dari Nasihat Tiga Tokoh Bangsa

Dalam buku tulisan Dr. Jamal Ma’mur Asmani, MA, ini sangat laik dibaca lebih lanjut, untuk mengetahui segala perjuangan Mbah KH. A. Suyuthi Abdul Qadir yang dipersembahkan semuanya kepada umat, seperti pesan langsung yang disampaikan oleh KH. Hasyim Asy’ari kepadanya, “Thi, nek dadi kiai, kue siap melarat. Wallahu a’lam.

Judul Buku: KH. A. Suyuthi Abdul Qadir Guyangan, Penerus Kiai Hasyim Asy’ari

Penulis.    : Dr. Jamal Ma’mur Asmani, MA

Penerbit: LESKA (Lembaga Studi Kitab Kuning), Masjid Az-Zahrotun, Wonocatur, Rt 06 Rw 24, Banguntapan, Bantul, Daerah Istimewa Yogayakarta

Cetakan I: Maret 2019

Jumlah halaman: 230 + xxxi

Peresensi   : Achmad Fakhrudin, Presiden BEM STIBI Syekh Jangkung Pati, aktif di Gubuk Literasi Tansaro Kudus, Kader Aktif GP. Ansor Kecamatan Mejobo, Kudus.


Like it? Share with your friends!

0
49 shares

What's Your Reaction?

Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Lucu Lucu
0
Lucu
Sedih Sedih
0
Sedih
Terkejut Terkejut
0
Terkejut
Wow Wow
0
Wow
Bingung Bingung
0
Bingung
Marah Marah
0
Marah
Suka Suka
1
Suka