Khutbah Jumat dan Narasi Anti-Korupsi


Dalam beberapa dekade belakangan ini, kasus korupsi bukannya hilang atau berkurang, justru laku yang mengkebiri amanah rakyat itu semakin menjadi-jadi. Hal ini dapat dilihat dari kasus demi kasus korupsi yang terungkap dan sudah terpublikasi di tengah-tengah masyarakat; korupsi  sudah terjadi di segala ini kehidupan berbangsa dar bernegara, dari elite politik dan agama hingga masyarakat biasa.

Jika ingin jujur, akan terungkap bahwa penyebab utama Indonesia sampai detik ini masih tertinggal dari negara lain, termasuk negara tetangga, adalah karena mental korupsi yang belum juga “minggat” dari segenap individu-individu yang mengelola dan menghuni republik ini. Bayangkan saja, untuk menduduki posisi jabatan tertentu, seseorang atau kelompok harus membayar ini itu (nyogok/suap) kepada pejabat setempat yang memiliki pengaruh atau otoritas untuk mengangkat atau memberhentikan pejabat dilingkungannya.

Sungguh ironis, memang. Namun mau bagaimana lagi, laku korupsi tidak hanya seolah menjadi “budaya” yang sudah melekat, namun sudah jauh menjadi mental bagi segenap bangsa ini. Ibarat penyakit, korupsi di Indonesia sudah kronis dan sulit disembuhkan. Maka sementara pakar menyebut bahwa untuk menyembuhkan penyakit kronis korupsi di Indonesia, tak ada cara yang ampuh selain memotong tiga generasi.

Namun, bangsa dan negara ini masih punya mimpi untuk terbebas dari jeratan korupsi yang dilakukan oleh masyarakat Indonesia sendiri tanpa harus melakukan pemotongan tiga generasi. Ya, cara tersebut adalah dengan melakukan dan membumikan gerakan revolusi mental agar masyarakar Indonesia secara keseluruhan mempunyai pandangan dan tindakan bahwa korupsi adalah perbuatan haram dan merugikan banyak orang sehingga tidak saja dihindari namun juga harus diperangi sampai ke akar-akarnya.

Gerakan revolusi mental yang mengarah pada membebaskan bangsa ini dari belenggu korupsi bisa dimulai dari mimbar-mimbar Masjid. Ya, melalui khutbah Jumat. Mengapa harus dimulai dari sini? Setidaknya ada beberapa alasan mendasar.

Baca Juga:  3 Persen Anggota TNI Terpapar Radikalisme

Pertama, Masjid itu tempat untuk mendalami/belajar agama secara rutin dan berkesinambungan. Urusan sosialisasi atau mengornisir suatu gerakan, Masjid adalah tempat yang amat sangat efektif untuk memuluskan dan mensukseskan gerakan anti-korupsi. Apalagi Masjid adalah tempat untuk mendalami ilmu agama. Secara bersamaan, visi-misi Masjid dalam konteks ini sudah seleras dengan gerakan Anti-Korupsi karena semua agama, termasuk Islam di dalamnya, sangat mengutuk (mengharamkan) perbuatan korupsi dalam bentuk apapun dan juga dalam skala apapun juga.

Kedua, khutbah Jumat di Masjid-masjid sudah pasti disaksikan dan didengarkan oleh masyarakat. Kondisi ini memudahkan gerakan Anti-Korupsi untuk segenap bangsa ini tanpa harus mengkoordinir atau mengumpulkan masyarakat di suatu tempat yang jelas memakan waktu dan biaya yang tidak sedikit. Oleh sebab itu, melalui khutbah Jumat, tokoh agama bisa sedemikian rupa menyalipkan nilai-nilai atau budaya yang mengarah pada kejujuran dan menjauhi laku korupsi.

Ketiga, khutbah Jumat di Masjid merupakan momentum yang pas untuk mengkampanyekan gerakan Anti-Korupsi. Dan di sini pula, secara tidak langsung, ada semacam teladan yang diberikan oleh tokoh agama kepada masyarakat (jamaah). Teladan tokoh agama sangat pentig dalam rangka menumbuhkan budaya-budaya yang bersih, jujur dan tidak korupsi.

Terakhir, jumlah Masjid di nusantara ada ribuan. Kondisi ini tentu memudahkan untuk terus mengkampanyekan budaya anti korupsi kepada masyarakat.

Namun harus ditegaskan bahwa, gerakan Anti-Korupsi melalui mimbar-mimbar atau materi khutbah bukan berarti menyudutkan umat Islam sebagai pelaku atau biang maraknya korupsi di negeri ini. Sekali lagi jauhkan persepsi seperti ini jika memang itu muncul. Perlu diketahui bahwa, tanpa menegasikan peran dan keberadaan agama lain, sebagai mayoritas, umat Islam di Indonesia bertanggung jawab penuh atas segala apa-apa yang terjadi dan menimpa bangsa ini, sekalipun itu negatif. Dan secara bersamaan, umat Islam juga bertanggung jawab menyelesaikan problem-problem yang mengintai bangsa dan negara ini.

Baca Juga:  LDK; Benteng Radikalisme di Kalangan Mahasiswa

Menyelipkan Materi Anti-Korupsi dalam Khutbah

Meminjam teori hipodermik milik David K. Berlo, bahwa suatu narasi, termasuk khutbah, ibarat sebuah peluru yang menghujam dan memasuki pikiran khalayak dan menyuntikkan beberapa pesan khusus. Pesan khusus inilah yang kemudian akan mengalir ke pembuluh darah para jamaah kemudian jamaah (shalat jumat) akan bereaksi seperti yang diharapkan si khatib.

Hal ini terbukti dengan, misalnya, ajakan khotib di suatu masjid untuk melakukan jihad dan membenci pemerintah. Ajakan ini sangat efektif untuk mempengaruhi jamaah. Nah, jika ajakan dalam khutbah itu positif, perang terhadap perilaku koruptif misalnya, maka sungguh perubahan di negeri ini akan benar-benar terjadi.

Oleh sebab itu, mari kita dorong agar pemerintah, dalam hal ini Komisi Pemberantasan Korupsi dan lembaga pemerintah lain yang terkait, untuk merangkul dan menggandeng masjid-masjid, terutama masjid di lingkup kementerian dan lembaga untuk bersinergi memberantas korupsi.

Banyak cara atau program yang bisa disinergikan, salah datunya adalah menekankan kepada para khatib khutbah Jumat untuk, minimal, menyalipkan materi pemberantasan korupsi, menjunjung tinggi budaya bersih dan jujur.

Kita yakin seyakin yakinnya, bahwa program sinergi pemerintah dengan segenap takmir Masjid dalam rangka membumikan gerakan anti-korupsi di masyarakat akan berhasil dan efektif. Jika demikian yang terjadi, maka kejayaan Indonesia sebagaimana yang dicita-citakan oleh para pendiri bangsa, yakni indonesia yang maju, adil, makmur dan menjadi pemimpin peradaban dunia yang damai akan terwujud. Aamiin.


Like it? Share with your friends!

What's Your Reaction?

Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Lucu Lucu
0
Lucu
Sedih Sedih
0
Sedih
Terkejut Terkejut
0
Terkejut
Wow Wow
0
Wow
Bingung Bingung
0
Bingung
Marah Marah
0
Marah
Suka Suka
0
Suka
Harakatuna

Harakatuna merupakan media dakwah yang mengedepankan nilai-nilai toleran, cerdas, profesional, kritis, faktual, serta akuntabel dengan prinsip utama semangat persatuan dan kesatuan bangsa yang berdasar pemahaman Islam: rahmat bagi semua makhluk di dunia.