31.1 C
Jakarta
Array

Khilafah Adalah Satu-Satunya Jalan

Artikel Trending

Khilafah Adalah Satu-Satunya Jalan
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Khilafah Adalah Satu-Satunya Jalan

Oleh: Robbi Gandamana*

Aku kaget, ketika Cak Nun ditanya apakah beliau setuju khilafah. Beliau menjawab sangat setuju, karena khilafah adalah satu-satunya jalan dalam kehidupan. Tapi Cak Nun tidak mau memaksakan harus dilabeli khilafah. Karena sebenarnya NKRI itu sudah khilafah. Gak sido kaget.

Menurut Cak Nun, khilafah itu sistem yang alamiah, taat kepada Allah. Semua yang ada di dalam badan kita itu khilafah. Detak jantung itu khilafah. Semua yang ada di alam itu juga khilafah. Angin berhembus, ayam berkokok itu khilafah, tapi tidak perlu disebut khilafah. Hewan itu taat sama Allah, mereka tidak pernah salah karena tidak dikaruniai akal pikiran seperti manusia.

Ada 2 macam khilafah, ada khilafah yang makro, menyeluruh dan ada khilafah yang sekedar kemampuan manusia. Allah tidak menagih melebihi kadar kemampuan manusia. Untuk jadi orang islam yang baik, tidak mesti hafal Al Qur’an, tidak harus menguasai semua dimensi ilmu Islam. Nggak masalah kalau tahunya masih surat Al Fatihah, yang penting hidupmu benar, penuh kasih sayang, menghormati tamu, ringan tangan menolong orang lain.

Keinginan untuk bersatu membentuk suatu negara itu juga khilafah. Jadi tanpa diresmikan negara khilafah pun, NKRI sudah khilafah. Buat apa memaksakan  negara khilafah seolah-olah bangsa Indonesia tidak taat sama Allah. Bahwa tingkat ketaatan manusia berbeda-beda, itu lumrah, tidak ada muslim yang ketaatannya 100%. Sudah umroh sepuluh kali pun tetap bisa tersesat.

Bahwa bentuknya NKRI, apakah NKRI itu bertentangan dengan khilafah? Apakah Pancasila bertentangan dengan Islam? Tidak. Pancasila lahir atas sumbangan nilai-nilai dan ilmu Islam. Bagaimana para perumus Pancasila dulu tahu “Ketuhanan yang Maha Esa” kalau tidak dari Allah sendiri lewat Al Qur’an (surat Al Ikhlas). Begitu juga dengan sila-sila yang lain, semua memenuhi kriteria Islam.

Tidak perduli namanya NKRI atau apa, yang penting sudah memenuhi kriteria Islam. Bahkan secara substansial negara Indonesia itu adalah negara Islam. Satu contohnya adalah pada saat acara Halal Bi Halal, non muslim nggak cuman ikutan, tapi juga ikut urunan. Tapi secara formal tidak perlu menyebutnya negara Islam. Sungkan rek.

Jadi, negara ini secara substansial sudah khilafah. Jangan diresmikan secara formal. Yang penting perbuatannya sudah khilafah. Mau disebut ayam atau tidak, yang penting berkokoknya. Tidak perduli namanya gula atau apa, yang penting rasanya manis. Yang penting itu manisnya, bukan gulanya.

Khilafah itu bisa dengan akal (punya kesadaran untuk mengabdi pada Allah) dan bisa khilafah begitu saja, seperti alam semesta  yang taat, mengabdi, bertasbih padaNya. Jadi seandainya tidak ada Hizbut Tahrir, tidak ada PKS, bahkan tidak ada NKRI pun khilafah itu sudah ada sejak Allah menciptakan kehidupan di dunia.

Boleh saja khilafah dijadikan sistem nilai dalam sebuah negara, asal harus dimulai dari nol. Lha wong negara ini sudah berdiri selama 72 tahun. Pancasila sudah final, disepakati sebagai falsafah bangsa. Kalau diganti negara khilafah, maka harus mengubah Pancasila, UUD 45, DPR, MPR dan seterusnya.

Kita punya saudara sebangsa yang berbeda keyakinan, beda sejarah, beda latar belakang. Jika dipaksakan khilafah pasti akan terjadi benturan, permusuhan dan pertumpahan darah. Itu tidak sesuai dengan Islam yang Rahmatan Lil Alamin : menjamin semua keamanan semua umat manusia di sekitarnya. Jangan sampai ada nyawa yang terancam, jangan sampai ada harta yang dicuri, jangan sampai ada martabat yang dinista.

Jadi, jangan jadikan khilafah sebagai alat politik dan memaksakan negara bersistem khilafah. Itu namanya radikal. Radikal itu memaksakan sesuatu paham atau keyakinan pada orang lain agar sama dengan keinginan si pemaksa atau kelompok tertentu.

Sistem Khilafah tidak bisa diwujudkan kecuali dengan menumpahkan darah saudara sebangsa. Maka, terimalah NKRI dengan segala kekurangannya. Hidup tidak berlangsung berdasar keinginanmu, tapi berdasar harusnya begitu. Hiduplah berdasarkan yang punya hidup dan kehidupan, Allah.

*Penulis adalah pengamat sosial-keagamaan

 

Harakatuna
Harakatuna
Harakatuna.com merupakan media dakwah berbasis keislaman dan kebangsaan yang fokus pada penguatan pilar-pilar kebangsaan dan keislaman dengan ciri khas keindonesiaan. Transfer Donasi ke Rekening : BRI 033901002158309 a.n PT Harakatuna Bhakti Ummat

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru