Ketika Mesin Pun Bisa Berdakwah

Harakatuna

30/06/2026

4
Min Read
Ketika Mesin Pun Bisa Berdakwah

Harakatuna.com – Ada yang berubah dari cara anak muda sekarang mencari jawaban. Dulu, ketika bingung soal hukum shalat jamak atau tafsir ayat Al-Qur’an, mereka membuka kitab atau bertanya kepada ustaz. Kini, jari-jari mereka lebih cepat mengetik nama sebuah mesin kecerdasan buatan: ChatGPT, Gemini, atau sejenisnya. Dalam hitungan detik, jawaban muncul rapi, panjang, dan seolah meyakinkan.

Fenomena ini bukan sekadar perubahan kebiasaan. Ia adalah pertanda zaman: kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) kini mulai memasuki ruang yang selama ini dianggap sakral—ruang dakwah, spiritualitas, dan pendidikan keagamaan.

Data dari We Are Social 2024 menunjukkan bahwa pengguna internet di Indonesia mencapai 185 juta jiwa, dengan rata-rata waktu akses lebih dari delapan jam per hari. Di antara waktu itu, jutaan orang mencari konten keagamaan secara daring. Survei yang dilakukan Kominfo bersama LIPI juga mencatat bahwa platform digital kini menjadi sumber informasi keagamaan utama bagi Generasi Z—menggeser peran majelis taklim dan ceramah langsung. Di sinilah AI hadir bukan sebagai penonton, melainkan sebagai aktor.

Sebagai mahasiswa Komunikasi dan Penyiaran Islam, saya menyaksikan sendiri bagaimana teman-teman sekelas menggunakan AI untuk menyusun materi dakwah, menulis caption Islami di media sosial, hingga menjawab pertanyaan-pertanyaan keagamaan yang cukup serius. Ada yang menggunakannya dengan bijak, menjadikannya alat bantu sebelum merujuk ke sumber primer. Namun, tidak sedikit pula yang menerimanya begitu saja, tanpa tabayun, tanpa konfirmasi.

Islam sebenarnya tidak alergi terhadap teknologi. Sejarah peradaban Islam justru diwarnai oleh semangat ilmu dan inovasi. Ibnu Khaldun dalam Muqaddimah-nya menegaskan bahwa kemajuan suatu umat bergantung pada kemampuannya beradaptasi dengan perubahan zaman. Al-Qur’an sendiri dalam Surah Al-Anbiya ayat 80 merekam bagaimana Allah mengajarkan manusia membuat baju besi, sebuah teknologi untuk kemaslahatan. Teknologi, dalam bingkai Islam, bukan musuh. Ia adalah amanah.

Namun, amanah selalu datang bersama tanggung jawab. Dan di sinilah letak dilema yang sesungguhnya.

AI tidak memiliki ruh. Ia tidak merasakan khusyuk saat membaca ayat suci, tidak menangis dalam doa, serta tidak memahami konteks, nuansa budaya, dan tradisi lokal yang begitu kaya dalam praktik Islam Nusantara. Ketika ia menjawab pertanyaan tentang hukum fikih, jawabannya dibangun dari pola data statistik, bukan dari kedalaman pemahaman dan tanggung jawab moral seorang ulama. Kiai atau ustaz yang berfatwa menanggung beban spiritual atas ucapannya. AI tidak.

BACA JUGA  Kenapa Perempuan Terus Disalahkan?

Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin mengingatkan bahwa ilmu yang tidak dilandasi adab hanya akan melahirkan bencana. Jika dakwah digital hari ini banyak dibantu AI tanpa landasan literasi keagamaan yang kuat, maka yang tersebar bukan pencerahan, melainkan simplifikasi kebenaran yang berbahaya. Kesalahan kecil dalam penyampaian akidah bisa menjadi besar ketika viral di media sosial.

Lalu, apa yang seharusnya kita lakukan? Jawabannya bukan menolak AI, melainkan mendewasakan cara kita menggunakannya. UNESCO dalam Recommendation on the Ethics of Artificial Intelligence (2021) menekankan pentingnya human oversight (pengawasan manusia) dalam setiap sistem kecerdasan buatan. Dalam konteks dakwah Islam, human oversight ini berarti AI boleh membantu menyusun konten, tetapi ulama dan cendekiawan Muslim yang memverifikasi, mengedit, dan meluruskan. AI adalah pena; manusia beriman tetaplah penulisnya.

Perguruan tinggi Islam, termasuk kampus kita sendiri, memiliki tanggung jawab besar di sini. Kurikulum yang mengintegrasikan literasi digital dengan etika Islam bukan sekadar kebutuhan akademis; ia adalah keniscayaan dakwah. Mahasiswa KPI, HKI, dan jurusan-jurusan keagamaan lainnya perlu dibekali kemampuan menggunakan AI secara kritis: tahu kapan harus percaya, kapan harus mempertanyakan, dan kapan harus menutup layar lalu membuka kitab.

Di pesantren-pesantren besar, beberapa kiai mulai membimbing santri tentang cara berinteraksi dengan AI secara Islami. Ini adalah ikhtiar yang patut diapresiasi dan diperluas. Dakwah era digital bukan tentang siapa yang paling viral, melainkan siapa yang paling amanah dalam menyampaikan kebenaran.

Mesin memang kini bisa berdakwah. Namun, hanya manusia yang bisa mempertanggungjawabkannya—di hadapan manusia dan di hadapan Allah.

Oleh: Nurul Sobikhatus Tsalisah (Mahasiswa KPI, Fakultas Ushuluddin, Adab, dan Dakwah, UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan).

Leave a Comment

Related Post