28.2 C
Jakarta

Kesiapsiagaan Digital Cegah Radikalisasi di Media Sosial

Artikel Trending

AkhbarNasionalKesiapsiagaan Digital Cegah Radikalisasi di Media Sosial
image_pdfDownload PDF

Harakatuna.com. Jakarta – Media sosial menjadi tempat subur bagi narasi intoleransi dan ujaran kebencian, terutama menjelang tahun politik. Karena itu membangun kesiapsiagaan digital dalam bentuk daya tangkal yang kuat, deteksi dini, dan resistensi terhadap konten radikalisme di media sosial sangat penting untuk ditanamkan kepada generasi bangsa.

Hal ini disampaikan konsultan komunikasi dan pakar media sosial, Rulli Nasrullah dalam keterangan tertulis, Selasa (8/8/2023). Menurutnya, media sosial menjadi ladang penyebaran radikalisasi berjubah agama.

Buktinya, banyak terjadi self radicalization di internet yang menimbulkan bibit lone wolf teroris yang berbahaya bagi bangsa dan negara. Selain itu, Rulli mengungkap fenomena yang dapat merubah perilaku di media sosial.

Kasus penipuan, radikalisme, dan terorisme dilakukan dengan pendekatan persuasif, bukan hard selling. Ketika pengguna sudah merasa nyaman, maka ditanamkanlah ide, video dan pendekatan secara perlahan.

“Setelah itu next step-nya dimasukkan dalam grup-grup diskusi seperti WhatsApp, Telegram atau messaging yang lain, dan kemudian informasi yang lebih personal,” ucap Kang Arul, sapaan Rulli Nasrullah di Jakarta.

Kang Arul menekankan karakter dan tingkat literasi media individu berperan penting untuk menyaring referensi yang dibaca, mengingat algoritma dalam internet cenderung akan memberikan referensi sesuai dengan apa yang sering dibaca.

Jika seseorang suka dengan konten konten keras, radikal, terorisme, dan kebencian, maka dengan sendirinya referensi yang muncul akan konten konten sejenis. Namun terkadang, individu itu sendiri yang kurang cakap untuk menyaring filter yang negatif.

Karena itu, Kang Arul menilai pentingnya komunikasi orang tua kepada anak, adik kepada kakak, atau sesama teman untuk saling mengingatkan dan mendorong penggunaan media sosial dalam hal yang positif. “Komunikasi untuk meyakinkan bahwa di media sosial itu ini pasar ide bebas, anda bisa mendapatkan banyak hal, bisa mendapatkan mulai dari yang positif dan negatif,” katanya.

BACA JUGA  Begini Ketertarikan Agamawan Jerman terhadap Kerukunan Umat Beragama di Indonesia

Selain itu, penulis buku Teori dan Riset Media Siber (Cybermedia) ini juga menambahkan, kondisi emosional seseorang berperan penting terhadap referensi yang dilihatnya. Terkadang orang yang mengakses media sosial dalam situasi yang tidak normal, sehingga dengan logika waktu cepat, dia tidak dapat memfilter atau melakukan verifikasi informasi terhadap orang lain atau media massa.

Ketika sudah mengakses suatu konten, maka seolah-olah itu adalah informasi yang benar. Hal inilah yang membuat maraknya hoax dan misinformasi. “Pulang kerja (lelah), ada masalah, baik itu di kantor, di rumah, ada masalah dengan teman, dengan pasangan, segala macam. Jadi ketika mengakses itu, emosinya lagi tinggi, dapatlah dengan situasi seperti itu,” tuturnya.

Dosen Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta ini juga mengapresiasi kehadiran Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) melalui Duta Damai dan Duta Damai Santri yang tersebar di 18 provinsi.

Menurutnya, langkah ini perlu dikembangkan ke seluruh provinsi Indonesia agar dapat mengisi ruang digital dengan pesan damai dan hal yang positif. Minimal, kata Kang Arul, setiap relawan Duta Damai maupun Duta Santri mampu memberikan aura terhadap teman-teman, keluarga dan lingkungannya. Dengan begitu, gerakan ini setidaknya mampu mendukung tiga unsur penting dalam literasi digital.

“Tiga kecakapan ini akan terpenuhi, pertama kecakapan dalam penggunaan media digital, kedua adalah kecakapan dalam budaya digital, dan kecakapan dalam keamanan digital,” katanya.

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru