Kafir Rahmatan Lil’alamin dan Muslim Jajahan Lil’alamain


0
21 shares

Judul yang penulis maksud disini bukanlah untuk mendiskretsikan muslim, ataupun mengunggulkan kafir. akan tetapi judul yang dimaksud penulis adalah disamping fenomena yang faktual akhir-akhir ini mengenai hasil bahsul masail mengenai status non muslim bukan kafir yang dikeluarkan oleh Munas Nahdlatul Ulama yang dilaksankan di Kota Banjar, Jawa Barat. juga untuk melihat terma kafir dalam berbagai aspek, diantaranya adalah sains, teknologi dan peradaban.

landasan utama keputusan tersebut dibuat menurut hemat penulis adalah untuk menjaga kerukunan dan perdamaian, karena memanggil selain muslim dengan sebutan kafir dalam konteks sekarang adalah amat sangat menyakitkan dan bisa menyinggung perasaan, padahal menyakiti perasaan dan menyinggung perasaan orang lain adalah hal yang sangat tidak diajarkan oleh Islam. bahkan Nabi sangat melarang pemeluk Islam untuk saling menyakiti, walaupun itu terhadap kafir dhimmi.

Mempertahakan akidah adalah hal yang sangat ditekankan dalam Islam, keputusan tersebut dibuat juga bukan untuk menggerogoti akidah umat Islam, dalam I’tiqodnya yang selain muslim sudah pasti adalah kafir, akan tetapi ketika berinteraksi janganlah panggilan kafir itu disematkan dalam ucapan kepada mereka, nah dalam konteks inilah keputusan Bahsul masail ditujukan.

Membahas terma kafir memang membutuhkan waktu yang panjang untuk mendiskusikanya, akan tetapi lihatlah apabila terma kafir ditinjau dari berbagai aspeknya, dalam kehidupan sehari-sehari antara muslim dan kafir sudah terbiasa melakukan pergaulan dan muamalah, mereka saling membantu untuk menciptakan kemajuan dan peradaban yang unggul.

Melihat terma kafir, juga seharusnya membuat muslim semakin sadar untuk berkompetisi dengan mereka dalam bidang sains dan teknologi, diakui atau tidak bahwa saat ini kafir lebih maju dalam hal itu dibanding dengan muslim. hal ini dikarena kafir sangat menekankan terhadap pendidikan, pendidikan muslim malah kebanyakan mengekor kepada mereka. salah seorang tokoh pendidikan disalah satu kota menyatakan “Yang bersekolah di sini adalah anak-anak buangan”, Mendengar pengakuan jujur dan lugas itu penulis menahan nafas. Tapi ternyata pernyataan demikian tidaklah langka. Berulang-ulang penulis mendengar pengakuan serupa.

Baca Juga:  Kenapa Terus Memperdebatkan 1% dari Ajaran Islam?

Menurutnya juga pendidikan Islam seolah-olah sudah menyerah dalam hal mengasah nalar dan daya cipta. Daripada mendalami matematika dan sains, yang mereka mereka tidak mungkin sanggup, lebih baik fokus pada menghafal al-Quran, pramuka, outbound, dsb.

Matematika dan sains, sesuai tuntutan kurikulum tetap mendapat porsi jam pelajaran besar. Tapi itu lebih serupa basa-basi. Kemubaziran ribuan jam masa muda milik jutaan siswa seolah dianggap biasa.

Namun, bisa dimaklumi. Selama belasan tahun memang tokoh tersebut talah mengajar sekelompok siswa terbaik di kotanya. Dari mulut siswanya langsung, pengakuan apa yang paling terungkap? “Saya tidak paham apa-apa kecuali mencatat dan menghafal rumus.” Ia juga tidak hanya mengajar muslim saja . Ada juga Kristen, Katolik atau Buddha. Tapi sebagian besar muslim. Jadi teringat dosen di ITB saat berbicara empat mata. “Secara rata-rata yang membedakan signifikan mahasiswa muslim dan non muslim adalah etos kerja.”

Di tengah rendahnya kemampuan nalar dan budaya ilmiah, umat yang kalah ini lebih sering menegaskan kekalahan. Adab lebih penting dari ilmu. Pendidikan kita terlalu berfokus pada otak, bukan hati dan akhlak. Masalahnya apa, solusinya apa. Kebiasaan merendahkan ilmu adalah adab terburuk.  perlu diketahui juga bahwasanya adab adalah buah daripada Ilmu, adab tidak akan muncul tanpa adanya ilmu, oleh karenanya hal ini harus berjalan selaras.

Apabila saat ini politik, ekonomi, sosial, budaya, dan apalagi sains-teknologi dikuasai oleh nonmuslim itu lebih karena mereka lebih mempersiapkan diri. Ketika umat Islam semakin riuh berteriak dan mengasah otot, karena tidak terlatih mengasah otak, kaum kafir terus mengasah nalar dan berfikir. Tampaknya tidak banyak berubah, umat Islam bersiap menjadi jajahan lil ‘alamin. Terbiasa mengangat isu tak penting, untuk menjadi bahan keributan dan saling gunting.

Baca Juga:  Fatwa Dâr al-Iftâ` al-Mishriyyah (Lembaga Fatwa Mesir) Tentang Khilafah dan Negara Modern/Nation State

Sementara itu, bagaimana mengelola atmosfer dan biosfer, lautan dan daratan, bahkan jagad raya dan inti atom, seolah hak istimewa orang kafir. Umat Islam tinggal mengamini, bahwa orang kafir adalah rahmatan lil ‘alamin. Berterima kasihlah kepada mereka.

dengan demikianlah nyata bahwa nonmuslim dalam sekarang ini dalam penguasan sains dan teknologi lebih maju dibanding muslim, pada abad pertengahan memang muslim boleh dikatakan menguasai dunia, baik sains teknolgi dan filsafat, akan tetapi zaman terus berkembang, jadi jangan terlena dengan kegemilangan masalalu dan jangan pula merasa pesimis menghadapi perkembangan zaman.

buktikan bahwa muslim dapat bersaing dengan non muslim dalam berbagai hal, kalau nonmuslim bisa, seharusnya muslimpun lebih bisa. karena ajaran dalam islam mendukung pemeluknya untuk selalu maju, dan untuk memakmurkan dunia.


Like it? Share with your friends!

0
21 shares

What's Your Reaction?

Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Lucu Lucu
0
Lucu
Sedih Sedih
0
Sedih
Terkejut Terkejut
0
Terkejut
Wow Wow
0
Wow
Bingung Bingung
0
Bingung
Marah Marah
0
Marah
Suka Suka
3
Suka