Harakatuna.com. New York – Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyatakan kondisi kemanusiaan di Jalur Gaza masih berada dalam situasi yang sangat memprihatinkan meskipun telah diberlakukan gencatan senjata. PBB menilai masyarakat Gaza masih menghadapi ketidakpastian yang mendalam di tengah berlanjutnya operasi militer Israel.
Pernyataan tersebut disampaikan Wakil Koordinator Khusus PBB untuk Proses Perdamaian Timur Tengah sekaligus Koordinator Tetap dan Kemanusiaan PBB, Ramiz Alakbarov, saat memberikan pengarahan kepada Dewan Keamanan PBB di Markas Besar PBB, New York, Senin (29/6/2026).
Dalam laporannya kepada 15 anggota Dewan Keamanan, Alakbarov memaparkan perkembangan implementasi Resolusi 2334 mengenai aktivitas permukiman Israel di wilayah Palestina yang diduduki, termasuk Yerusalem Timur. Ia juga menyoroti pelaksanaan Resolusi 2803 (2025) yang mendukung Rencana Perdamaian Komprehensif di Gaza yang difasilitasi Amerika Serikat serta pengerahan pasukan stabilisasi internasional.
Menurut Alakbarov, berbagai kebutuhan mendesak masyarakat Gaza harus menjadi prioritas melalui implementasi penuh resolusi tersebut. “Gaza masih menghadapi ketidakpastian yang mendalam dan penderitaan manusia yang luar biasa,” ujar Alakbarov, seperti dikutip kantor berita WAFA.
Ia menegaskan bahwa kebutuhan, aspirasi, dan kekhawatiran masyarakat Gaza harus segera ditangani melalui pelaksanaan penuh kesepakatan yang telah disahkan Dewan Keamanan. “Kebutuhan, kekhawatiran, dan aspirasi yang sah dari rakyat Gaza harus ditangani melalui implementasi penuh resolusi tersebut. Sebaliknya, situasi di Gaza dan Tepi Barat tetap tidak stabil,” katanya.
Dalam pemaparannya, Alakbarov menyebut operasi udara dan militer Israel masih terus berlangsung di berbagai wilayah Jalur Gaza, sehingga menyebabkan bertambahnya jumlah korban jiwa. Berdasarkan data Kementerian Kesehatan Gaza, jumlah korban tewas sejak pemberlakuan gencatan senjata kini telah melampaui 1.000 orang.
Selain itu, PBB juga mengungkapkan bahwa pasukan Israel terus memperluas penguasaan wilayah di Jalur Gaza. Hingga saat ini, sekitar 70 persen wilayah Gaza disebut telah berada di bawah kendali militer Israel. Alakbarov mengingatkan bahwa tanpa implementasi penuh terhadap resolusi Dewan Keamanan, situasi kemanusiaan di Gaza dan kawasan Tepi Barat berpotensi semakin memburuk serta menghambat upaya mewujudkan perdamaian yang berkelanjutan di Timur Tengah.

















Leave a Comment