25.4 C
Jakarta

Jakarta yang Aku Rindu (Bagian XVI)

Artikel Trending

Habib yang Menjamur

Dulu, saat saya kecil, di jalan-jalan tidak pernah terpampang baliho. Suasana damai sekali, bahkan tatkala gaduh pun, ya, paling itu karena persoalan biasa. Tidak...

Hukum Menyimpan Tali Pusar Bayi Menurut Islam

Tali pusar adalah jalan yang menghubungkan antara ibu dan bayinya ketika masih dikandungan. Tali pusar ini berfungsi untuk menyalurkan makanan dan oksigen dari ibu...

Ampuhnya Doa Orang Puasa

Berbicara tentang manjurnya doa orang puasa sejenak kita akan langsung tertuju pada sebuah hadis dalam Sunan Ibnu Majah yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Amr...

Rizieq Shihab Mati Langkah?

Pesta penyambutan kepulangan Rizieq Shihab berubah menjadi bencana bagi masa depan perjuangan politik Rizieq Shihab dan kawan-kawan. Belum genap satu bulan menginjak kaki di...

Relasi Iman, Keadilan dan Demokrasi ala Cak Nur

Nurcholish Madjid, atau yang biasa dipanggil Cak Nur, dikenal luas sebagai salah satu cendekiawan Muslim terbesar di Indonesia. Pemikirannya merupakan suatu usaha untuk mencari...

Makna Rahmat dalam Al-Qur’an Al-Karim

Rahmat terdiri dari tiga huruf râ’, hâ’, dan mîm. Menurut Ibnu Faris dalam Maqâyîs al-Lughah setiap kata Arab yang berakar dari tiga huruf râ’,...

Bagaimana Hukum Memberi Nasehat dalam Islam?

Tahukah kalian, mengapa agama merupakan suatu nasehat? Kehidupan seseorang bisa berubah dengan nasehat anda. Jalan kehidupan seseorang juga bisa berubah sedemikian baik lantaran duduk...

Wudhu Menurut aL-Qur’an dan Sunah

Wudhu merupakan ritual penting dalam Islam untuk menjaga kesucian dalam beribadah. Perintah dan dasar landasan berwudhu berangkat dari firman Allah swt dalam QS al-Maidah...

“Mbak! Kereta udah nyampek!” seorang penumpang membangunkan Diva. Tatapan samar-samar. Meraba sekitar. Ia baru terbangun dari tidur. Sebagian penumpang menggendong ransel masing-masing. Sebagian  yang lain menarik koper. Diva berdiri dan bergegas keluar kereta.

Jakarta masih malam. Melihat arloji menunjuk jam 22.45 WIB. Jadwal presentasi masih besok siang. Ada banyak waktu untuk istirahat setelah lelah selama perjalanan dan belajar lebih dalam untuk presentasi.

Diva belum mempunyai teman di kota Jakarta. Tiada seorang pun yang dapat dihubungi untuk sekedar menumpang istirahat di asrama atau kosannya. Panitia Sayembara Menulis sebenarnya sudah menyediakan biaya kebutuhan peserta, baik transportasi maupun biaya tempat tinggal. Tak ambil pusing Diva booking hotel.

Di hotel Syahida Inn Diva beristirahat untuk menghilangkan rasa capek. Lokasi hotel ini tidak jauh dari tempat acara. Berjalan sekitar dua puluh menit sudah sampai. Apalagi naik ojek online akan jauh lebih cepat.

Tidur di hotel tidak seperti istirahat di pesantren. Di pesantren tidak diperbolehkan membawa kasur. Selain itu, di pesantren tidurnya bersamaan. Satu kamar memuat sekitar sepuluh orang. Bahkan, terkadang tidurnya tidak rapi. Walaupun begitu, Diva merasa betah, karena bisa menikmati kebersamaan tanpa membedakan satu dengan yang lain.

Di pesantren, santri tidak diperbolehkan membawa ponsel. Bermain game pun dibatasi, selain hari-hari libur, yaitu hari Selasa dan hari Jumat. Menonton televisi juga dilarang. Santri yang ketahuan membawa ponsel biasanya dipulangkan dari pesantren atau paling tidak mendapat hukuman shalat jama’ah di belakang pengasuh pesantren.

Sekian peraturan pesantren jelas berbeda saat Diva berada di Jakarta. Diva bebas otak-otik ponsel, bahkan bisa menonton film online. Pesantren memberi batasan-batasan yang ketat agar santri fokus belajar dan tidak merasa aman berada dalam zona nyaman. Karena, tidak selamanya fasilitas yang memadai dan cukup akan melahirkan orang yang sukses. Justru kebanyakan sebaliknya. Kesuksesan itu biasanya datang saat seseorang mampu mengubah keterbatasan menjadi prestasi.

Jakarta memang bising. Polusi suara tak dapat dibendung. Banyak kendaraan berlalu-lalang , kendati pada malam hari. Masing-masing orang saling memiliki kepentingan. Badan memang penat, tapi Diva tidak ingin tidur.

Ia mencoba duduk dekat jendela kamar. Kelap-kelip lampu motor dan rumah memadati sekitar. Terlihat indah dipandang. Tak kuasa melepaskan pandangan. Inginnya tetap berada di dekat jendela sambil menulis cerpen.

Diva melihat jarum arlogi menunjuk jam 01.00. Matanya belum mengantuk. Seakan Jakarta memiliki magnet untuk menghibur kesendirian. Diva membatin sembari mengingat kesatria yang menunggu cinta dalam mimpinya tadi. Andaikan aku ada dalam mimpi itu, rasanya ingin belajar tentang cinta kepada sang kakek yang cerdik. Mimpi itu rasanya mengesankan daripada kenyataan yang kosong. Jika aku adalah cinta, ingin rasanya menunggu kesatria di tepi danau.

“Kesatria? Bukannya dongeng?” desis Diva seorang diri.

Berbicara pada diri sendiri ternyata mengasikkan juga. Diva merenung kembali.

Kesatria itu tampaknya rupawan. Ingin menatapnya tanpa ingin melepasnya. Auranya begitu jujur. Tiada sesuatu yang disembunyikan. Aku suka orang jujur, termasuk jujur pada perasaannya sendiri.

“Ah, siapa kesatria itu sih?” Diva mulai penasaran.

Diam sejenak.

“Bukan kesatria, putri, dan bintang jatuh dalam novel Dee Lestari?” Diva terbelenggu kebingungan. Tidak tahu arah, seakan berada di tengah gelombang dan kembali tenggelam dalam imajinasi.

Kek, ajari Diva tentang cinta seperti kesatria itu! Pinta Diva kepada kakek tua renta.

Kakek itu duduk sambil meletakkan tongkatnya di pangkuannya. Kau ini putri? tanya kakek terbata-bata.

Bukan, Kek. Aku Diva.

Diva?! Kelihatannya kakek itu penasaran. Tatapannya makin tajam. Tampak wajahnya yang keriput.

Diva Rizka Maulia, Kek.

Kau mau tahu tentang cinta?

Diva mengangguk dan berdesis: Iya, Kek.

Nampak sangat akrab antara si kakek dengan Diva, padahal baru bertemu. Kakek berkata: Cinta itu manifestasi sifat Tuhan, Nak. Kau tidak akan menyesal begitu kau menyelaminya, menyelam di samudra cinta yang maha luas. Kau tidak akan merasakan sakit hati.

Diva tertegun menyimak penjelasan kakek dengan pelan. Diva bertanya: Mencintai manusia juga, Kek?

Si kakek mengangguk.

Bukannya mencintai selain Tuhan termasuk menduakan-Nya? Diva mencoba membantah.

Tidak. Mencintai makhluk adalah langkah mencintai Tuhan. Tuhan absolut, tidak bisa diindera. Sulit bagi seorang hamba langsung mencintai Tuhan tanpa mencintai makhluk-Nya.

Bagaimara cara mencintai makhluk Tuhan? Diva menyerocos.

Tiba-tiba kakek itu menghilang. Diva tersadar dari lamunannya. “Kakek,” desis Diva dengan tatapan kosong. Kakek yang ditemui dalam imajinasinya pergi tidak tahu ke mana. Pertanyaan Diva belum terjawab.

Diva pindah ke atas kasur dan berbaring, akhirnya terlelap.

* Tulisan ini diambil dari buku novel “Mengintip Senja Berdua” yang ditulis oleh Khalilullah

Khalilullah
Khalilullah
Lulusan Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru

Ideologi Teroris dan Cara Memberantasnya

Ideologi teroris dan sikapnya dalam dasawarsa mutakhir ini semakin memiriskan. Pemenggalan demi pemenggalan atas nama agama mereka lakukan. Sungguh begitu banyak contoh untuk dibeberkan atau...

Pandemi Covid-19 Tak Kurangi Ancaman Radikalisme

Harakatuna.com. Jakarta-Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam) Mahfud MD menyebut pandemi virus korona (covid-19) tidak menghentikan ancaman radikalisme dan terorisme. Hal itu terjadi di...

Serial Kebangsaan (I): Spirit Kebangsaan dan Kelalaian FPI

Sekitar semingguan kemarin, saya dapatkan sebuah buku yang cukup menarik dan tentunya masih relevan dibaca di era sekarang, apalagi buku ini baru saja launching....

Bom Mobil Meledak di Afghanistan, 30 Petugas Keamanan Tewas

Harakatuna.com. Ghazni-Sebuah mobil berisi bom meledak di Provinsi Ghazni, Afghanistan. Setidaknya 30 aparat keamanan tewas akibat ledakan tersebut. Seperti dilansir Reuters, Senin (30/11/2020), Direktur Rumah...

Uang Kertas Mengalami Perubahan Nilai, Bagaimana dengan Mekanisme Pembayaran Hutang?

Sudah kita ketahui bersama bahwa seiring perubahan zaman maka berubah pula nilai sebuah mata uang. Terdapat beberapa kasus yang memiliki inti permasalahan sama, yakni...

Eks Napiter, Haris Amir Falah Sebut Paham Radikalisme Mengancam Pancasila

Harakatuna.com. Solo – Munculnya paham radikalisme ekstrem yang tersebar di wilayah Indonesia mengancam Pancasila dan kedaulatan NKRI. Hal ini perlu diantisipasi, mengingat mereka telah...

Wanita dalam Pusaran Aksi Radikalisme dan Terorisme

Berbagai aksi terorisme dan radikalisme dalam beberapa dasawarsa ini kain “subur” terlebih di era milenial ini. Bergama aksi teror di Indonesia semakin banyak terjadi...