Hoax, Mungkinkah Diberangus?

Ach. Tijani/Dok.Pribadi

Hoax, Mungkinkah Diberangus?

Oleh: Ach. Tijani*

 Cogito ergo sum, jargon Rene Descartes seorang rasionalis asal Prancis yang mengasumsikan bahwa realitas dan bahkan “aku” menjadi ada oleh karena ada dalam ide. Sekiranya “aku” tidak pernah menyadari tentang “aku” maka tidak akan ada “aku”. Oleh karenanya “aku berfikir, maka aku ada”.

Barangkali tidak semua orang menyukai pola berfikir berliku seperti di atas. Sebagian mungkin sudah merasa bosan dengan jargon klasik tersebut, sebagian yang lain mungkin menganggap terlalu berlebihan dan jelimet jika hanya mempersoalkan yang sebenarnya sederhana menjadi sangat teoritis. Mungkin memang  akan lebih banyak orang yang memilih nyeruput kopi hitam bersama kepulan asap kretek di warung kopi, ketimbang berfikir tentang identitas “aku”.

Jika pembaca berminat, mari kita mencoba memilih menjadi kelompok kecil dengan pilihan berfikir berliku, walau penulis juga tidak punya hak untuk menuntun pilihan setiap orang. Jikapun Anda mungkin lebih rileks memilih nyeruput kopi sambil berfikir, itu akan lebih baik. Setidaknya untuk sementara, Anda akan melupakan pedasnya harga cabe dan kenaikan harga kebutuhan hidup yang lain.

Apapun pilihan kita, menjadi kelompok mayoritas yang pragmatis, maupun kelompok kecil yang berfikir kritis, keduanya merupakan kebebasan perenial yang harus saling kita hormati. Kelompok pertama merupakan kelompok yang tidak mau ambil pusing dengan dinamika dan masa depan kehidupan, takarannya hanya untung dan rugi. Kemudian kelompok kedua, adalah kelompok yang selalu kritis terhadap dinamika kehidupan, takarannya adalah benar dan salah. Sejatinya ada kelompok ketiga yang mungkin mengungguli secara kuantitas atas dua kelompok sebelumnya, kelompok ini adalah kelompok yang merasa menjadi bagian dari orang-orang yang diuntungkan dan merasa menjadi bagian orang-orang yang dirugikan dari segala aksiden setiap fenomena, kelompok ini tidak memiliki pandangan takaran yang jelas.

Baca Juga:  Mudzakarah Pimpinan Pesantren se-Banten Lahirkan Beberapa Rekomendasi

Peta pilihan di atas jika diturunkan pada kehidupan nyata mempunya korelasi dengan stratifikasi sosial masyarakat. Pilihan pertama lebih banyak diminati oleh para pemburu kekuasaan, sehingga segala tindak ucap dan laku hanya bisa ditakar pada ukuran untung dan rugi. Jika menguntungkan, itulah yang diucapkan dan dilakukan, sebaliknya jika merugikan maka itulah yang ditinggalkan. Rumusan benar dan salah tidak dikenal dalam kelompok ini, bahkan kapasitas individu tidak dilihat dari kompetensinya. Pada situasi yang sangat menggelikan, orang bodoh yang menguntungkan bisa saja menjadi tumpuan dan pemimpin, sebaliknya orang cerdik hanya menjadi tumbal yang meringkuk di balik jeruji besi jika keberadaannya merugikan.

Kelompok kedua berkomposisi dari kalangan kaum terdidik, dimana seluruh minatnya banyak diukur melalui takaran benar dan salah. Tinjauannya bersifat normative, kadang terlihat sangat kaku dan relatif kurang cekatan dalam mengambil tindakan dan keputusan. Walau demikian, pandangan dan anjurannya tidak dapat diabaikan begitu saja, bahkan pandangan kaum terdidik ini mengambil pola relasi yang signifikan terhadap dinamika kehidupan.

Sementara yang ketiga adalah kelompok masyarakat umum dengan jumlah yang sangat banyak. Kelompok ini menjadi sasaran untuk dicerdaskan dengan pola-pola berfikir seperti pada kelompok kedua atau bisa juga menjadi sasaran empuk untuk dilibatkan pada kepentingan-kepentingan kelompok pertama. Karenanya kelompok ketiga ini banyak orang menyebutnya sebagai clouds (gerombolan awan gelap, namun mudah tercerai berai).

Keberadaan kelompok ketiga seakan-akan telah menjadi gelanggang perebutan dominasi dari dua kelompok strata masyarakat yang saling berjibaku (politis dan kaum terdidik). Sayangnya dua kelompok tersebut tidak memiliki porsi yang sama di negeri ini. Porsi untuk strata kelompok yang pertama sangat luas, bahkan dapat dikatakan sepanjang waktu jika merujuk pada sistem dan dinamika politik di negeri ini. Lihat saja pertarungan perebutan kekuasaan dari hulu ke hilir hampir terjadi sepanjang waktu, hingga kemudian tercipta atmosfer bernegara di tengah-tengah masyarakat hanya identik dengan persoalan perebutan kekuasaan saja. Sementara gerakan pendewasaan tatanan berfikir logis relatif berporsi sangat minim.

Baca Juga:  HTI Tidak Membaca Dalil Soal Khilafah Secara Utuh

Pada gelanggang masyarakat kelompok ketiga tersebut terlihat puncak kegalauan yang cukup akut. Hembusan narasi-narasi pragmatis dari strata masyarakat kelompok pertama bertebaran meliputi kelas masyarakat ketiga. Alam demokrasi dan reformasi mengolah narasi tersebut terhembus dari barat ke timur, mengombang ambingkan kesadaran masyarakat kelas ketiga ini. Antara kepastian dan kepalsuan nyaris tanpa ada dinding pemisah yang jelas. Perebutan kekuasaan semakin memperparah narasi pragmatis tersebut, hingga kemudian kelas masyarakat ketiga ini seakan menjadi bagian dari kelas pertama. Dengan maksud yang lebih sederhana, masyarakat kelas bawah ini terbelah menjadi lawan dan kawan, seumpama yang juga terjadi di kelas elit antara oposisi dan koalisi demi kekuasaan.

Sebagai konsekuensi berikutnya, relasi komunikasi antar individu di kelas masyarakat bawah berbentuk duplikasi salin-tempel (copy-paste) narasi para elit yang pragmatis. Narasi yang dianggap menguntungkan dianggap kepastian, sementara yang merugikan dianggap kepalsuan. Baginilah logika yang dibenarkan saat ini. Kondisi masyarakat yang terbelah ribut membenarkan narasi-narasi miliknya serta menyalahkan narasi yang tidak berpihak pada kelompoknya. Disinilah kemudian istilah hoax (pemberitaan palsu) mulai menghantui setiap kelompok. Sebagai puncaknya, kegundahan tersebut sampai pada konsensus dan gerakan simbolis anti hoax, seperti yang banyak diberitakan oleh sejumlah media akhir-akhir ini.

Seiring dengan gerakan anti hoax tersebut, pemerintah nampaknya juga tidak siap dengan konsekuensi realitas politik di negeri ini, sejumlah media online sengaja diblokir dengan tuduhan media tersebut dianggap sebagai sumber dan penebar hoax  yang membahayakan. Dua pola anti hoax yang dilakukan masyarakat dan pemerintah seakan menjumpai titik temu yang konstruktif untuk mensterilkan negeri ini dari kebohongan. Kesimpulan tersebut walau tidak salah secara keseluruhan, namun secara filosofis bukanlah pilihan yang efektif.

Baca Juga:  Kapolda Jawa Tengah Larang Konvoi HTI

Gerakan simbolis anti hoax oleh masyarakat dan pemblokiran media online yang dilakukan pemerintah terhadap media yang dituding penebar hoax sama sekali tidak menjamin negeri ini bebas dari kepalsuan. Karena pada kenyataannya,masyarakat elit dan masyarakat kelas bawah sudah terbelah menjadi bentuk kawan dan lawan di tingkat bawah, serta koalisi dan oposisi di tingkat elit. Realitas tersebut tidak dapat diberangus, namun tidak menutup kemungkinan untuk saling dimengerti.

Pada situasi yang seperti ini, representasi strata kaum akademisi perlu bersuara sebagai solusi dari porak porandanya kemandegan masyarakat elit dan bawah. Kali ini tawaran metode Rene Descartes dalam jargonnya Cogito ergo sum dirasa layak untuk merespon kemandegan tersebut. Makna metodis dari jargon tersebut meniscayakan setiap “aku” agar selalu berdiri sebagai peragu yang meragukan semua realitas, termasuk “aku”  yang berfikir untuk dirinya sendiri. Sederhananya, bahwa kehidupan dan realitas yang melingkupinya tidak pernah sampai pada titik kepastian. Jangankan narasi dan berita, kehidupan inipun tidak pernah ada yang menjamin kepastiannya, atau jangan-jangan hidup ini juga hoax. Lalu, mungkinkah kita menolak dan memberangus hoax?. Selamat berfikir.

*Penulis adalah Staf Pengajar Filsafat di IAIN Pontianak