Buruh Migran dan Perjuangan Ber-Islam di Hong Kong

Menjadi TKI itu pilihan, namun meneruskan hidup adalah titipan Tuhan. Mengejar dunia tanpa meninggalkan akhirat.


0
62 shares

Sebuah buku terbitan PT Elex Media Komputindo pada lini Quanta berjudul Nikmat Bersua dengan-Mu, yang ditulis oleh Nur Musabikah, seorang mantan TKI yang pernah bekerja sebagai pekerja rumah tangga di Hong Kong, membuat saya terkesima dengan perjuangan para pahlawan devisa itu terutama dalam hal konsistensi berislam, menjalankan ajaran agama di tengah kehidupan sehari-hari di keluarga yang berbeda keyakinan.

TKI (Tenaga Kerja Indonesia) atau BMI (Buruh Migran Indonesia), menurut Buku Panduan TKI, 2014, adalah setiap warga Negara Indonesia yang memenuhi syarat untuk bekerja di luar negeri dalam hubungan kerja untuk jangka waktu tertentu dengan menerima upah. Setiap tahun, Negara kita melalui Badan Nasional Pemerintah Tenaga Kerja Indonesia (BNPTKI) mengirimkan sekitar dua ratus ribu orang untuk bekerja ke sejumlah Negara, dari Asia, Timur Tengah, sampai Eropa.

Menurut uraian Nur Musabikah dalam bukunya setebal xvi + 164 halaman ini, menjadi TKI rentan stres, karena lingkungan adat, budaya, musim, dan bahasa baru. Apalagi bekerja di sektor rumah tangga/informal (baca: pekerja rumah tangga) yang dituntut untuk bisa berhadapan dengan berbagai peralatan rumah yang serbamodern, yang menjadi hal baru karena semasa di kampung halaman di Indonesia, tidak pernah bersentuhan dengan peralatan kekinian tersebut. Ditambah lagi, harus berhadapan langsung dengan majikan. Orang-orang dengan suara lantang dan tegas jika berbicara. Beruntung sebelum pemberangkatan, PJTKI (Perusahaan Jasa Tenaga Kerja Indonesia) bekerja sama dengan BLK (Balai Latihan Kerja) terlebih dulu mengadakan pelatihan skill bagi para calon TKI.

Menurut data Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Hong Kong, jumlah TKI yang bekerja sebanyak kurang lebih 165.000 jiwa di sektor informal, yakni pekerja rumah tangga. Job-nya bervariasi, jaga lansia, jaga anak-anak, beres-beres rumah, sampai ada yang mengurus kebun.

Baca Juga:  Bangga Menjadi Negara Pancasila

Selalu ada risiko setiap melakukan sesuatu, pun dengan menjadi TKI. Di Hong Kong menjadi rahasia umum bahwa pekerja sewaktu-waktu bisa kena interminit, pemutusan kerja secara sepihak dari majikan atau pekerja sebelum kontrak kerja selesai. (halaman 5)

Nur Musabikah bercerita tentang permasalahan yang sering muncul, terutama tentang penerapan ajaran Islam. Jilbab yang dikenakannya sering menjadi sorotan majikan. Dengan kemampuan bahasa yang terbatas, Nur mencoba menjelaskan dengan sangat hati-hati. “Dhai dhai sinsang, dalam agamaku seorang perempuan wajib menutup seluruh anggota tubuhnya kecuali muka dan telapak tangan, termasuk rambut. Sehelai pun tidak boleh kelihatan.” (halaman 13)

Salat wajib adalah persoalan kedua yang sering jadi masalah ketika majikan keberatan pekerjanya melaksanakannya. Nur menyiasati sejak dini, saat interview dengan calon majikan. Ia memberanikan diri untuk minta diizinkan salat 5 waktu sebelum menandatangani kontrak kerja. Banyak sekali TKI yang terpaksa meninggalkan salat dan jilbab karena tidak diperbolehkan majikan. (halaman 34)

Kemudian, ketika bulan Ramadan tiba, perjuangan TKI muslim adalah bagaimana bisa berpuasa sebulan penuh dengan baik. Sebisa mungkin puasa tidak mengganggu segala aktivitas pekerjaan sehari-hari, agar majikan tidak murka hingga berujung pelarangan berpuasa.

Menjadi TKI dengan segala suka-dukanya membuat Nur Musabikah merasakan betapa ia sadar sepenuhnya bahwa kehadiran Allah Swt dalam hidup sangat terasa. Jauh dari keluarga, jauh dari orangtua, jauh dari kampung halaman, satu-satunya tempat mengadu yang selalu mendengarkan doanya adalah kepada Allah Swt.

Dalam 30 bab, catatan demi catatan selama di Hong Kong yang ditulis Nur Musabikah, merupakan buah perenungan yang penuh hikmah. Membacanya membuat saya mensyukuri segala nikmat terutama bisa berkumpul dengan keluarga. Bahasa yang digunakan penulis untuk menyampaikan kisahnya ini sangat sederhana sehingga terasa sekali kita bisa turut merasakan kehidupan sehari-hari di Hong Kong, sebagai seorang pekerja rumah tangga. Memang benar, di manapun berada, asal di hati kita ada Allah Swt, maka kenikmatan bersua dengan-Nya kentara terasa.

Baca Juga:  Kurikulum Islam Indonesia: Khutbah-Khutbah Imam Besar

Selamat membaca.

Judul buku: Nikmat Bersua dengan-Mu
Penulis: Nur Musabikah
Penerbit: PT Elex Media Komputindo (Quanta)
ISBN: 978-602-04-9023-6
Cetakan: I, 2019
Tebal: xvi + 164 halaman


Like it? Share with your friends!

0
62 shares

What's Your Reaction?

Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Lucu Lucu
0
Lucu
Sedih Sedih
0
Sedih
Terkejut Terkejut
0
Terkejut
Wow Wow
0
Wow
Bingung Bingung
0
Bingung
Marah Marah
0
Marah
Suka Suka
0
Suka