Bom Quetta dan Krisis Ekologi Politik Pakistan

Ayik Heriansyah

28/05/2026

4
Min Read
pakistan

Harakatuna.com – Ledakan bom bunuh diri di Quetta, Balochistan, Pakistan, pada 25 Mei 2026 yang menewaskan lebih dari 30 orang sekali lagi menunjukkan bahwa terorisme tidak semata-mata persoalan ideologi berbasis agama.

Klaim tanggung jawab oleh Baloch Liberation Army (BLA) atas serangan terhadap kereta penghubung yang membawa aparat keamanan dan keluarga mereka memperlihatkan bahwa kekerasan tersebut merupakan puncak dari akumulasi panjang ketidakadilan politik, ekonomi, dan ekologis yang membusuk selama bertahun-tahun.

Balochistan adalah wajah paling telanjang dari paradoks pembangunan modern Pakistan. Provinsi ini kaya gas alam, mineral, dan memiliki posisi geopolitik sangat strategis karena menjadi jalur utama proyek China-Pakistan Economic Corridor (CPEC).

Miris di balik limpahan sumber daya itu, masyarakat lokal justru hidup dalam kemiskinan, keterbelakangan, dan marginalisasi politik. Kekayaan bumi mereka bergerak keluar menuju pusat-pusat akumulasi modal, sementara kemiskinan tetap tertinggal di tanah mereka sendiri.

Di sinilah perspektif ekologi manusia menjadi relevan. Konflik di Balochistan tidak cukup dipahami sebagai persoalan keamanan atau separatisme semata. Melainkan gejala dari rusaknya relasi antara manusia, negara, lingkungan, dan distribusi sumber daya. Ketika suatu wilayah terus dieksploitasi tanpa keadilan sosial, maka ketegangan sosial akan berubah menjadi kemarahan kolektif.

Ekologi manusia memandang masyarakat sebagai bagian dari sistem kehidupan yang saling terkait. Relasi manusia dengan lingkungan tidak hanya bersifat biologis, tetapi juga ekonomi, sosial, politik, dan budaya. Karena itu, bom bunuh diri di Quetta refleksi dari kegagalan negara membangun hubungan yang adil dengan masyarakat dan ruang ekologisnya.

Balochistan selama ini diperlakukan lebih sebagai wilayah ekstraksi daripada ruang hidup manusia. Negara hadir terutama melalui aparat keamanan, proyek infrastruktur, dan eksploitasi sumber daya alam.

Dalam perspektif masyarakat lokal, negara tidak tampil sebagai pelindung warga, melainkan sebagai penjaga kepentingan geopolitik dan investasi asing. Ketika negara kehilangan legitimasi sosial, maka kelompok bersenjata memperoleh ruang untuk tampil sebagai representasi perlawanan.

Karena itu, insurgensi BLA tidak dapat dipahami hanya sebagai organisasi teror. BLA tumbuh sebagai jaringan sosial-politik yang memanfaatkan rasa keterasingan masyarakat Baloch. Ketidakadilan ekonomi, identitas etnis, dan pengalaman represi negara membentuk ekosistem sosial yang subur bagi radikalisasi. Kekerasan kemudian berubah menjadi bahasa politik bagi kelompok yang merasa kehilangan akses terhadap ruang hidup dan masa depannya.

BACA JUGA  Masalah Nasab Taqiyuddin an-Nabhani Pendiri Hizbut Tahrir

Perspektif ekologi juga menekankan prinsip saling-tergantung. Konflik di Balochistan bukan sekadar konflik lokal, tetapi bagian dari jaringan kepentingan global yang melibatkan negara Pakistan, China, modal internasional, jalur perdagangan, keamanan regional, dan rivalitas geopolitik Asia Selatan. Ledakan di Quetta adalah letupan dari jaringan ketegangan yang jauh lebih luas dibanding sekadar aksi kriminal bersenjata.

Masalah terbesar Pakistan adalah cara pandang pembangunan yang masih mekanistik dan teknokratis. Negara memandang pembangunan sebatas pembangunan jalan, pelabuhan, tambang, dan koridor ekonomi.

Wilayah diperlakukan sebagai objek ekonomi yang harus diamankan demi pertumbuhan nasional. Dalam pendekatan seperti itu, manusia sering kali hanya dianggap variabel pengganggu yang harus dikendalikan.

Padahal paradigma ekologi-holistik justru menekankan bahwa suatu sistem sosial tidak dapat dipahami secara parsial. Stabilitas tidak hanya ditentukan oleh kekuatan militer atau pertumbuhan ekonomi, tetapi juga oleh kualitas relasi sosial di dalam masyarakat.

Ketika pembangunan hanya dinikmati elite negara dan investor global, sementara masyarakat lokal tersingkir dari manfaat ekonomi, maka pembangunan berubah menjadi sumber konflik baru.

Proyek besar seperti CPEC akhirnya menghadirkan ironi. Dipromosikan sebagai simbol kemajuan dan modernisasi Pakistan, tetapi di saat bersamaan melahirkan ketidakpuasan baru di wilayah-wilayah pinggiran.

Modernisasi yang tidak disertai keadilan distribusi justru menciptakan rasa terampas di kalangan masyarakat lokal. Dalam kondisi seperti itu, kelompok bersenjata memperoleh bahan bakar sosial untuk mempertahankan insurgensi.

Kunjungan Perdana Menteri Shehbaz Sharif ke China saat serangan terjadi memberi pesan simbolik yang kuat. BLA tampaknya ingin menunjukkan bahwa stabilitas Pakistan tidak akan pernah benar-benar tercapai selama negara terus mengabaikan ketidakadilan ekologis dan politik di Balochistan. Serangan itu bukan hanya ledakan bom, tetapi juga pernyataan politik terhadap negara dan kapital global.

Kasus Quetta memperlihatkan bahwa pembangunan tanpa keadilan ekologis hanya menghasilkan stabilitas semu. Negara mungkin berhasil membangun pelabuhan, jalur kereta, dan koridor ekonomi, tetapi gagal membangun rasa keadilan sosial. Dan ketika rasa keadilan itu runtuh, bom sering kali menjadi ekspresi paling tragis dari krisis ekologi politik.

Leave a Comment

Related Post