Bijak Menyikapi Peristiwa Penyerangan Tokoh Agama


0
2 shares
Harakatuna
Doc. Harakatuna.com

Peristiwa penyerangan Gereja St Lidwina Sleman dan penganiayaan terhadap pastor serta jemaat gereja tidak hanya membuat muram bagi kehidupan beragama di Tanah Air, melainkan juga mencerderai kesepakatan bersama, yakni menjunjung tinggi toleransi.

Kejadian penyerangan terhadap jemaat di Slemen itu merupakan kejadian keempat di awal tahun ini. Sebelumnya, penyerangan tokoh agama juga terjadi pada akhur Januari kemarin. Di mana seorang Kyai yang baru saja khusuk menunaikan shalat Subuh di persekusi oleh orang yang diduga “gila”. Peristiwa mencengangkan juga terjadi pada Ustadz Prawoto dari Persatuan Islam (Persis). Setelah mendapatkan penanganan medis, Ustadz Prawoto harus meninggalkan segenap keluarga dan umatnya. Sementara kejadian yang ketiga adalah kasus Biksu, yang terpaksa harus menandatangani surat perjanjian untuk tidak beribadah sementara waktu. Padahal, biksu ini sudah lama menetap di kampungnya sendiri.

Dari kejadian demi kejadian yang menimapa tokoh agama secara berdekatan ini, dapat ditarik sebuah analisis yang tajam. Bahwa kebhinnekaan yang telah disepakati para pendiri bangsa, kni, harus dipertaruhkan, dicederai.

Bangsa yang menggenggam persatuan dan kesatuan di atas pilar-pilar kebhinnekaan dan persaudaraan kian terseok-seok menghadapi kelompok yang intoleran, gemar mengadu-domba, dan lain sebagainya.

Penyerangan terhadap tokoh agama, baik secara langsung maupun tidak langsung, akan menimbulkan kegaduhan dalam masyarakat. Sebab, penyerangan ini menimpa tokoh agama, yang sudah barang tentu umat atau masing-masing kelompok memiliki loyalitas dan kecintaan terhadap para tokoh itu. Jika dua, tiga, tokoh saja diserang dan dibumbui dengan berita provokatif, maka umat akan terpancing dan tersulut emosinya. Jika yang demikian terjadi, sulit kiranya membayangkan masa depan Indonesia yang damai dan sejahtera.

Untuk itu, tokoh agama dan sekaligus masyarakat luas, harus bijak dalam menyikapi persoalan seperti ini. Pertama, stop spekulasi berlebihan. Munculnya beragam spekulasi tanpa dasar yang dalam dan valid hanya akan menimbulkan suasana semakin runyam. Oleh sebab itu, hentikan spekulasi berlebihan. Tunggu pernyataan tokoh atau aparat yang berwenang untuk menjelaskan peristiwa yang terjadi.

Baca Juga:  Stop Politisasi Rumah Ibadah

Kedua, jaga persatuan dan kesatuan. Setelah tidak melakukan spekulasi yang tidak-tidak, maka masyarakat hendaknya memperkuat persatuan. Ingat! Kejadian pada masa lalu, misalnya peristiwa Banyuwangi—dimana para tokoh agama di culik dan dibunuh, motif utamanya adalah memecah-belah umat dan menjadikan fokus umat terbelah pula, sehingga umat atau masyarakat tidak solid.

Untuk itu, mari kita kuatkan persaudaraan dan persatuan antar sesama. Terhadap saudara kita, sekalipun berlain agama, ras dan lainnya, jika tertimpa musibah, maka kita wajib menolongnya, bukan malah membubui dengan isu yang sensitif.

Ketiga, jangan menaruh curiga pada kelompok lain. Secara psikologis, aksi pembacokan dan penganiayaan terhadap para tokoh agama akan menimbulkan ekses negatif terhadap kelompok tertentu. Stop berfikir seperti ini! Mari kita lepaskan segala prasangka buruk.

Justru yang harus dilakukan oleh para tokoh agama dan juga masyarakat adalah sinergi antar lintas agama, perkuat silaturrahmi lintas agama. Duduk bareng, kita bangun komunikasi, konsolidasi, samakan persepsi dan lain sejenisnya.

Dengan cara-cara elegan seperti itulah, bangsa ini akan tetap aman, NKRI akan selalu eksis sepanjang masa. Orang beribadah akan tenang. Imam Ali pernah berkata: “Jika ia bukan saudaramu dalam iman, maka ia adalah saudara dalam kemanusiaan.”

Buya Syafi’i Ma’arif dalam makalahnya Persaudaraan Sejati Umat Manusia menegaskan bahwa merusak tempat ibadah suatu agama adalah perbuatan yang tercela, tidak dibenarkan, baik dalam hukum negara maupun agama.

Pernyataan Buya Syafi’i ini sesuai dengan firman Allah: ” Dan sekiranya Allah tidak menolak (keganasan) sebagian manusia atas sebagian yang lain, tentulah telah dihancurkan biara-biara umat Kristen, gereja-gereja, rumah-rumah ibadat orang Yahudi dan masjid-masjid yang di dalamnya banyak disebut nama Allah.” (Qs. Al-Hajj: 40).

Baca Juga:  Sujud Sebagai Simbol Bersyukur

Akhirnya, masyarakat harus tenang, jangan terprovokasi dengan spekulasi-spekulasi yang tidak jelas. Biarkan aparat bergerak dan melakukan tugasnya atas kejadian ini. Sementara bagi tokoh agama, kasus yang sudah terjadi menjadi kewaspadaan tersendiri dan semakin memantabkan nilai-nilai persaudaraan, bukan malah saling membenci. Begitu juga dengan masyarakat, memperkuat fondasi persadaraan dan mengencangkan persaudaraan berlandaskan kebhinnekaan adalah hal utama.

Perlu diketahui pula bahwa, oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab seperti kasus yang terjadi belakangan ini yang menimpa tokoh agama mempunyai tujuan yang besar, yakni menciptakan chaos. Mereka (oknum) tidak senang jika kondisi umat atau masyarakat semakin membaik, rukun, guyup dan sejenisnya.


Like it? Share with your friends!

0
2 shares

What's Your Reaction?

Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Lucu Lucu
0
Lucu
Sedih Sedih
0
Sedih
Terkejut Terkejut
0
Terkejut
Wow Wow
0
Wow
Bingung Bingung
0
Bingung
Marah Marah
0
Marah
Suka Suka
0
Suka
Harakatuna

Harakatuna merupakan media dakwah yang mengedepankan nilai-nilai toleran, cerdas, profesional, kritis, faktual, serta akuntabel dengan prinsip utama semangat persatuan dan kesatuan bangsa yang berdasar pemahaman Islam: rahmat bagi semua makhluk di dunia.