Benarkah Islam Anti Feminisme?


0
2 shares
Harakatuna-Benarkah Islam Anti Feminisme?

Di Medsos lagi ramai muncul gerakan Indonesia tanpa feminis. Seolah-olah feminis adalah masalah, sehingga Indonesia harus bersih dari feminis. Penolak feminis ini menggunakan agama sebagai argumen. Benarkah Islam anti feminisme, sehingga harus dibersihkan?

Anti Kebaruan dan Pembaruan
Saya lihat, apa-apa yang baru mesti kau lawan. Kau tolak. Atas nama agama lagi. Demokrasi kau sesatkan. Pluralisme kau haramkan. HAM kau kafirkan. Sekarang, feminisme kau tolak. Sampai RUU Penghapusan Kekerasan Seksual pun kau tidak setuju. Rupanya hidupmu gak tenang dengan munculnya hal-hal baru. Pemahaman agamamu tidak nyambung dengan perkembangan zaman yang terus berubah.

Anehnya, kau malah ingin hidupkan kembali peradaban masa lalu yang telah usang. Khilafah sekarang kau puja-puja. Poligami kau kampanyekan. Cadar kau banggakan. Perkawinan anak kau yakini. Pengurungan perempuan (domestifikasi) kau dukung.

Sebetulnya mau mu apa toh? Kenapa tidak sekalian saja kau ganti mobil mewahmu dengan onta-onta itu? Kenapa tidak kau buang laptop dan tabletmu, kau ganti dengan pelapah korma? Kenapa tidak kau bakar dollarmu dan rupiahmu, diganti dengan dinar dan dirham?

Ahh… Kau ini ada-ada saja. Apa ini yang kau kehendaki jika kau berkuasa pasca-Pilpres nanti? Hmm….

Sahabatku, janganlah begitu cara memahami agama. Agama yang kita pahami haruslah tetap shalihun li kulli zamanin wa makanin (relevan untuk setiap ruang dan waktu). Jangan kau posisikan agama seperti konservasi museum, yang hanya cocok untuk barang-barang kuno. Lalu, kau tolak hal-hal baru karena tidak sesuai dengan karakter museum itu.

Nabi Muhammad, Sang Feminis
Tak seorang pun mengingkari bahwa Nabi Muhammad SAW sepanjang hidupnya memperjuangkan harkat, martabat, dan hak-hak perempuan. Pada saat masyarakat malu memiliki anak perempuan, Nabi Muhammad malah membanggakannya. Sebelumnya diwariskan, oleh Islam perempuan malah memperoleh warisan. Dari dilecehkan, Islam malah sangat memuliakan perempuan. Dari praktik poligami yang tak terbatas, Islam menyatakan bahwa untuk poligami wajib adil dan monogami adalah adna an la ta’ulu (lebih dekat untuk tidak berbuat zalim (lebih dekat untuk berbuat adil). Anjuran monogami lebih ditekankan oleh Islam.

Baca Juga:  Pemuda; Menyemai Damai Dari Desa

Pada haji wada’ (632 M), Nabi SAW berkhutbah bahwa inna li nisa’ikum ‘alaikum haqqan wa lakum ‘alaihinna haqqan (sesungguhnya bagi para perempuan memiliki hak atas lak-laki, dan laki-laki pun memiliki hak atas perempuan). Masing-masing memiliki hak. Ada prinsip kesalingan (mubadalah) di situ. Nabi SAW juga berpesan, ala istawshu bi an-nisa’i khairan (ingatlah, berwasiatlah kalian terhadap perempuan dengan kebaikan). Nabi SAW juga dalam kesempatan lain mengatakan bahwa an-nisa’u syaqa’iqu ar-rijal (perempuan itu adalah saudara kandung laki-laki).

Tentu masih banyak lagi upaya-upaya Nabi SAW dalam mengangkat harkat, martabat, dan hak-hak perempuan agar memperoleh keadilan dan kesetaraan dalam kehidupan umat manusia. Apa yang dilakukan Nabi SAW pada 15 abad yang lalu adalah ikhtiar-ikhtiar yang selama ini dilakukan para feminis dewasa ini. Dengan demikian, menurut saya, Nabi Muhammad SAW adalah seorang feminis sejati, lahir dan batin. Bukan sekadar pada gerakan mengubah posisi perempuan, tetapi juga membangun dasar-dasar pemikiran dan teologi yang kokoh untuk kesetaraan dan keadilan gender.

Phobia Feminisme
Jika Anda tidak setuju dengan istilah feminisme, tidak ada masalah. Anda bisa menggantinya dengan nama yang lain. Anda boleh menyebut harokah nisa’iyyah (gerakan perempuan) atau apa saja. Akan tetapi, Anda tidak boleh mengingkari bahwa Islam sejak kelahirannya memperjuangkan harkat, martabat, dan hak-hak perempuan. Inilah esensi feminisme.

Tentu saja gerakan feminisme Islam berbeda dengan feminisme Barat. Jangankan dengan Islam, antar feminisme di Barat pun berbeda-beda, tergantung ideologi yang melatari gerakan tersebut. Tidak usah antipati dengan perbedaan. Perbedaan dalam gerakan adalah hal yang biasa terjadi.

Jangan karena Anda pro-poligami, pro-perkawinan anak, setuju dengan kekerasan seksual, lalu Anda menuduh feminisme tidak Islami. Poligami dan perkawinan anak, apalagi kekerasan seksual, jelas bukan ajaran Islam. Ini adalah budaya yang berlaku pada saat itu dan direspons secara kritis oleh ajaran Islam. Ajaran Islam sendiri mengajarkan keadilan (al-‘adalah), kesetaraan (al-musawah), kemaslahatan (al-mashlahah), kasih sayang (ar-rahmah), dan kebijaksanaan (al-hikmah). Poligami, perkawinan anak, dan kekerasan seksual, semuanya bertentangan dengan prinsip-prinsip dasar ajaran Islam tersebut.

Baca Juga:  Keadilan Sosial Bagi Perempuan Menuju Pembangunan Negara

Dengan demikian, jelaslah ada titik singgung dan titik temu antara feminisme dan Islam. Tetapi juga harus diakui ada titik bedanya. Islam tidak anti feminisme, dan feminisme tidak berarti anti-Islam.

Janganlah kebencianmu terhadap suatu kelompok membuat dirimu berlaku tidak adil (Wa la yajrimannaku syana’anu qawmin ‘ala an la ta’dilu). Berlaku adillah sejak dalam pikiran, perkataan, hingga perbuatan, karena keadilan itu lebih dekat kepada taqwa (I’dilu huwa aqrabu littaqwa)[]

Oleh Marzuki Wahid


Like it? Share with your friends!

0
2 shares

What's Your Reaction?

Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Lucu Lucu
0
Lucu
Sedih Sedih
0
Sedih
Terkejut Terkejut
0
Terkejut
Wow Wow
0
Wow
Bingung Bingung
0
Bingung
Marah Marah
0
Marah
Suka Suka
0
Suka
Harakatuna

Harakatuna merupakan media dakwah yang mengedepankan nilai-nilai toleran, cerdas, profesional, kritis, faktual, serta akuntabel dengan prinsip utama semangat persatuan dan kesatuan bangsa yang berdasar pemahaman Islam: rahmat bagi semua makhluk di dunia.