29.3 C
Jakarta
Array

Belajar Dari China Meneguhkan Pancasila

Artikel Trending

Belajar Dari China Meneguhkan Pancasila
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Belajar Dari China Meneguhkan Pancasila

Oleh: Zastrouw Al-Ngatawi*

Tanggal 30 s/d 7 Juni, saya diberi kesempatan oleh UNIMA Indonesia (Union Internasinal d’la Marionette) berangkat ke China, menjadi official tim kesenian Indonesia mengikuti International Puppert Art Week di Nanchong, China.

Nanchong, zaman kuno disebut Anhan, terletak di sebelah Timur Laut Sichuan dengan luas area 12.500 KM persegi dengan jumlah penduduk 7,6 juta jiwa. Di tengah kota, membelah sungai Jialing, kota ini telah berdiri lebih dari 2200 tahun silam.

Kota ini telah melahirkan beberapa pesohor dan tokoh seperti Luo Xiahong, Sima Xiangru, Jixin dalam dinasti Han, Jendral Zude, Luo Ruiqin, sang revolusioner Zhanglan dan beberapa kaum revolusioner lain pada masa revolusi China.

Kota tua ini mengalami peremajaan pada beberapa tahun terakhir. Pemerintah China melakukan pembangunan besar-besaran di wilayah ini. Gedung-gedung pencakar langit, apartemen dan rumah susu yang menjulang tinggi memenuhi area perkotaan seluas 116 KM persegi. Di sepanjang tepian sungai Jialing dibangun pelestarian yang asri dan bersih, tempat pejalan kaki menikmati indahnya sungai di pagi dan senja hari.

Nanchong memang sedang dipersiapkan menjadi Kota Wisata Nasional, Taman Kota Nasional yang menjadi bagian penting dari kawasan ekomomi Chongqin-Chengdu seperti halnya kawasan Central City di timur laut Sichuan. Dengan gedung dan berbagai sarana modern ini, kota tua Nanchong menjadi berwajah muda.

Nanchong merupakan kota budaya. Berbagai ragam warisan kebudayaan ada di sini. Sejarah pertanian murbey dan kerajinan sutra China telah ada di sini ratusan abad silam. Itulah sebabnya, Nanchong juga disebut kota sutra. Tiga budaya kerajaan Nanchong, yaitu budaya sutra, budaya revolusi merah dan kebudayaan sungai Jialing juga ada di kota ini.

Karena kekayaan seni budaya dan tradisi inilah, maka Nanchong dijadikan sebagai kota budaya atau zona ekonomi yang berbasis seni budaya. Berbagai event seni budaya – baik dalam skala nasional maupun internasional – diselenggarakan di kota ini, termasuk event International Puppet Art Week kali ini.

Pembangunan kota ini terkesan dilaksanakan dengan perencanaan dan pengelolaan yang baik. Sehingga, tata ruang dan tata letak bangunan terlihat indah dan rapi, tidak semprawut.

Tak ada baliho, spanduk, poster dan iklan yang memajang wajah artis atau politisi yang menggangu keindahan kota. Semua wajah kota yang eksotik bisa dilihat secara telanjang tanpa terhalang oleh baliho dan spanduk iklan. Iklan-iklan promosi dipajang melalui layar LCD yang dipasang di tempat strategis, sehingga bisa mempercantik keindahan kota. Tak ada kaki lima yang mambuat jalanan macet. Tak ada kendaraan yang saling serobot yang membuat lalu lintas jadi semprawut.

Semua ini terjadi karena pemerintah dan aparatnya bertindak tegas dalam penegakan hukum dan rakyatnya disiplin serta patuh menjalankan hukum (meski bukan hukum syariah….). Ini artinya, mau hukum apapun asal dilaksanakan secara baik dan konsisten, akan membuat kehidupan menjadi baik. Demikian sebaliknya.

Berdasarkan informasi yang saya terima (perlu dicek lebih lanjut), semua pembangunan di kota ini ditangani oleh negara. Mulai proses perencanaan, pembangunan, sampai pengawasan semua dibiayai oleh negara, bukan swasta. Jadi, semua itu tetap milik Negara, bukan milik swasta. Dengan demikian, pemerintah memiliki otoritas mengatur penggunaan dan peruntukannya.

Inilah bedanya dengan di negeri kita, banyak gedung mewah dengan fasilitas yang megah menghiasi kota, terutama kota-kota baru. Tapi kebanyakan milik swasta, bukan milik negara. Akibatnya, pemerintah tak punya hak mengatur penggunaannya. Karena milik para pengusaha, maka mereka bebas menjual kepada siapa saja yang bisa membelinya.

Hal lain yang menarik adalah, pembangunan di kota Nanchong tetap.menjaga dan memperhatikan akar-akar budaya, tradisi yang ada. Dengan kata lain, pemerintah China mampu menggali nilai-nilai dan spirit yang ada dalam tradisi dan budaya lokal masyarakatnya, kemudian menjadikannya sebagai bahan (resources) untuk membangun menuju modernitas.

Kemampuan bangsa China melakukan rekonstruksi tradisi dan budaya inilah yang membuatnya menjadi bangsa yang berkarakter kuat, bisa menjadi bangsa modern tanpa kehilangan identitas dan jati diri. Bangsa yang tidak hanyut dalam tekanan dan kepungan arus modernitas tanpa harus menolak keberadaan modernitas.

Secara sosilogis-antropolohis dan faktual-historis, bangsa Indonesia memiliki potensi budaya dan tradisi yang banyak dan beragam. Jika hal ini digali dan dikembangkan secara serius, seperti yang dilakukan oleh pemerintah China, maka akan menjadi modal sosial dan kultural yang memiliki nilai strategis dan ekonomis untuk membangun Indonesia menjadi bangsa modern yang tetap berkarakter Nusantara.

Untuk mewujudkan Indonesia menjadi negara yang maju dan sejahtera, kita tak perlu mengubah negeri ini menjadi negara Islam. Atau menjadikan syariah Islam sebagai hukum formal di negeri ini. Karena hal ini hanya akan membuat bangsa ini retak dan terjebak dalam konflik berkepanjangan. Dan, tanpa ini pun, umat Islam di negeri ini bisa menjalankan syariat Islam dengan baik.

Ini bukan berarti kami anti syariat Islam atau negara Islam. Bagi kami, umat Islam Indonesia, Pancasila adalah sublimasi dari intisari ajaran Islam yang memuat aspek aqidah, syariah dan tasawwuf (akhlaq), sebagaimana yang disampaikan oleh Kyai Hamid Kajoran Magelang. Dengan demikian, kalau umat Islam Indonesia menjalankan Pancasila dengan baik dan istiqamah, dia akan menjadi umat Islam yang baik.

Cukup dengan bentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang berdasarkan Pancasila dan UUD 45, bangsa ini akan maju dan sejahtera jika pemerintah dan para pemimpin bangsa menjalankannya secara tegas dan konsekuwen, seperti yang dicontohkan oleh pemerintah dan pemimpin China dalam menjalankan amanahnya. Kemudian, rakyatnya menjalankan dasar negaranya secara disiplin dan patuh seperti yang dilakukan oleh rakyat China.

Saya yakin, jika pemerintah dan rakyat Indonesia bisa menjalankan dasar negara, Pancasila, secara konsisten dan serius maka bangsa ini akan menjadi bangsa besar seperti China – bahkan, bisa lebih besar dari China. Keyakinan inilah yang membuat saya tetap bangga menjadi bangsa Indonesia. Dirgahayu Pancasila

*Penulis adalah Budayawan dan dosen di Pascasarjana STAINU Jakarta

 

Harakatuna
Harakatuna
Harakatuna.com merupakan media dakwah berbasis keislaman dan kebangsaan yang fokus pada penguatan pilar-pilar kebangsaan dan keislaman dengan ciri khas keindonesiaan. Transfer Donasi ke Rekening : BRI 033901002158309 a.n PT Harakatuna Bhakti Ummat

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru