31.4 C
Jakarta
Array

Ayat-Ayat Puasa dalam Al-Qur’an (2)

Artikel Trending

Ayat-Ayat Puasa dalam Al-Qur’an (2)
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Ayat-Ayat Puasa dalam Al-Qur’an (2)

Berbicara tentang puasa secara otomatis akan terdengar ayat yang cukup familiar di kalangan umat Islam khususnya pada bulan Ramadan yakni QS al-Baqarah [2]: 183. Ayat ini menjadi bukti akan kewajiban ibadah puasa.

يٰأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Wahai orang-orang yang beriman diwajibkan bagi kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan bagi orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa.

Ayat di atas tidak kurang memuat empat poin pokok:

Pertama, objek pembicaraan (khitâb) bagi setiap insan Muslim yang mengimani enam rukun iman. Sehingga umat manusia yang tidak ditemukan keimanan dalam hatinya, tidak diajak ‘mengobrol’ oleh ayat ini. Oleh karenanya orang non-Muslim tidak mendapat intruksi kewajiban puasa. Ini kesimpulan dari penggalan awal ayat.

Kedua, kewajiban berpuasa bagi umat Muhammad saw. Dalam sejarahnya puasa disyariatkan pada tahun kedua Hijriah. Namun pada saaat itu yang diwajibkan adalah puasa Asyura. Para sahabat ketika itu sudah menjalankan kewajiban ibadah puasa Asyura. Kemudian di tahun ketiga Hijriah kewajiban puasa Asyura diganti dengan puasa Ramadan.

Selanjutnya puasa Asyura menjadi puasa sunah. Pemilihan Ramadan sebagai waktu pelaksanaan ibadah puasa bukan tanpa alasan. Sebab di bulan Ramadan-lah Nabi Besar Muhammad saw beribadah secara fokus di Gua Hira. Pada waktu itu juga Beliau saw menerima mandat kenabian dan turunnya al-Quran. Sebagai bentuk syukur dan peringatan atas nikmat yang diperoleh Nabi Muhammad saw dan umatnya, disyariatkan-lah puasa Ramadan. Sejatinya masih banyak hikmah yang tersembunyi di balik pemilihan Ramadan sebagai waktu pelaksanaan puasa.

Ketiga, puasa umat-umat terdahulu. Perintah kewajiban berpuasa disamakan dengan puasa umat nabi-nabi yang telah lewat mengandung beberapa kesan. Pertama, sama-sama wajibnya. Puasa sudah menjadi ritual ibadah semenjak zaman Nabi Adam as hingga nabi penutup, Nabi Muhammad saw. Kedua, sama dari sisi waktu pelaksanaan. Ketiga, sama dalam jumlah harinya. Keempat, sama dari segi caranya yaitu tidak makan minum dan berhubungan badan. Dari semua pendapat ini kesan pertama yang paling kuat. Menurut Fakhruddin al-Razi, poin ini memiliki hikmah bahwa puasa merupakan ibadah yang berat. Rasa berat itu akan terasa ringan jika semua –termasuk umat-umat terdahulu- melaksanakannya juga.         

Keempat, ujung puasa adalah bertakwa. Pada poin ini (agar kalian bertakwa) juga mempunyai beberapa kemungkinan penafsiran. Pertama, puasa memudahkan untuk bertakwa. Sebab dengan berpuasa syahwat perut dan kemaluan –yang menjadi awal mula keinginan bermaksiat- akan terjaga. Sehingga menghindari larangan Allah swt akan lebih terasa mudah dilakukan. Kedua, berpuasa agar menjadi orang yang bertakwa.

Mengingat puasa menjadi ciri khusus orang-orang yang bertakwa. Ketiga, dengan berpuasa orang akan menjadi takut kepada Allah swt. Sebab kata tattaqûn juga berarti takut. Tanpa didasari rasa takut kepada-Nya, perintah berpuasa akan sulit terlaksana. Sebab tidak ada yang mengetahui berpuasa secara benar-benar kecuali Allah swt. Keempat, berpuasa agar terhindar dari neraka. Redaksi tattaqûn berasal dari kata dasar wiqâyah (menjaga). Sehingga tattaqûn bisa diartikan dengan terjaga atau terhindar. Wallahu Aʻlam []

Baca selengkapnya juga: Ayat-Ayat Puasa dalam Al-Qur’an (1)

Harakatuna
Harakatuna
Harakatuna.com merupakan media dakwah berbasis keislaman dan kebangsaan yang fokus pada penguatan pilar-pilar kebangsaan dan keislaman dengan ciri khas keindonesiaan. Transfer Donasi ke Rekening : BRI 033901002158309 a.n PT Harakatuna Bhakti Ummat

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru