5700 KM Menuju Surga (Bagian XLVIII-Tamat)


0
3 shares

AKU TIDAK BUTUH SEGELAS AIR PUN. BIARKAN AKU LEWAT. AKU SUDAH MENUNGGU 66 HARI DI PERBTASAN INI

Waktu terus berjalan, hari terus berganti, namun selama itu sama sekali tidak ada kejelasan kapan visa yang selama ini dinanti Senad akan turun. Berbagai perasaan penat, letih, lapar, haus, dan berbagai kesulitan hidup selama berada di tenda kecil di gurun pasir itu menjadi bagian yang meninggallkan kesedihan mendalam bagi hidup Senad. Ia menjalani semua itu dengan hati yang lapang dan sabar.

Perjalanan waktu begitu cepat, kini Senad telah genap menunggu selama 66 hari atau 1584 jam atau dua bulan lebihdi perbatasan Arab Saudi dengan kondisi yang sangat mengkuatirkan itu. Senad terkenang ketika dalam perjalanan melalui Bulgaria selama 22 hari dengan suhu – 50 derajat celsius, siang malam dia merasakan dingin yang tiada terkira sehingga membuat tubuhnya seakan membeku , bagaimana beratnya perjalanan di Turki selama 60 hari melalui gunung, hutan dan berjuang melewati jembatan Bosphorus untuk menyeberang dari Eropa ke Asia, mempertaruhkan nyawanya ketik memasuki medang konflik Syiria dan kini ketika sampai Arab Saudi seakan Arab Saudi bukan hanya mengacuhkannya namun menyiksanya dengan penantian panjang tiada kejelasan.

Selama itu Arab Saudi tidak memberi segelas air pun kepadanya. Dubes Arab Saudi, Fahad A el Zeid yang memiliki kedua nomor telepon genggam Senad tak pernah sama sekali menelphone Senad sekedar menanyakan kabar apakah Senad masih hidup atau tidak?

Senad makin diterkam kesepian dan kesendiran di gurun pasir tandus yang sudah 66 hari ini memanggangnya dengan terik matahari yang panas,terpaan debu kotor tiada henti, dan dinginnya angin malam yang berhembus. Ia sayang kepada Arab Saudi, sayang kepada rakyatnya rakyatnya, namun yang paling ia sayangi adalah Allah, nabi Muhammad , Islam, Bosnia, dan kebenaran. Yah, kebenaranlah yang paling disayangi Senad. Dan Senad berpikir bahwa apa yang dilakukan oleh Arab Saudi bukanlah Islam yang benar yang diajarkan al-Qur’an dan nabi Muhammad Saw.

Berbagai lamunan merangkai, membentuk sebuah kisah yang penuh dengan kesedihan, duka, dan perasaan miris di tengah penantian panjangnya untuk bisa sekedar melakukan ibadah di tanah suci, Makah al Mukaromah, sekali lagi Senad terisak sendirian sambil melamuni penantian panjangnya itu. ***

YA ALLAH JANGAN BIARKAN AKU SAKIT DI SINI

Senad sekali lagi memegang keningnya. Panas sekali. Kepalanya mulai pening dan semua tulang persendiannya seakan merasa ngilu. Ia merasakan matanya berkunang-kunang. Tak bisa melihat dengan jelas. “Ya Allah, jangan biarkan aku sakit di sini,” pintanya di dalam hati. Ia buru-buru mengcompress keningnya dan mencari-cari obat penurun panas.

Baca Juga:  5700 KM Menuju Surga (Bagian XXXIV)

Kepalanya mulai berdenyut-denyut. Pening sekali. Badannya mulai menggigil kedinginan. Ditambah desir angin malam di gurun pasir yang tak terhalang apa pun seakan berusaha menyelinap ke dalam tendanya dan menaburkan udara dingin pada badan yang sudah kurus kering karena kurang makan itu.

Hari ini adalah hari ke 77 atau selama 1800 jam Senad terpanggang sinar matahari dan didekap dinginnya angin malam. Ini adalah menjadi penantian terpanjang dalam sejarah perjalanannya hanya sekedar untuk beroleh visa dari kedubes Arab Saudi agar dia bisa menunaikan ibadah haji. Kondisi cuaca yang ekstrim panasnya ketika siang dan udara dingin yang menerjang di setiap malam dalam keadaan lemas, letih, capek, dan kurang makan serta istirahat membuat kesehatan Senad ngedrop. Dalam kondisi lemas lunglai tiada satu orang pun yang membantunya agar bisa pulih dari kondisi sakitnya itu.

Dalam kondisi menggigil karena sakit itu, tiada henti Senad berdoa kepada Allah agar ia secepatnya diperbolehkan untuk melewati perbatasan dengan ransel berisi Quran, peta, dan bendera Bosnia yang ia bawa kemana-mana itu. Ia hanya ingin menunaikan ibadah haji dan menyembah Allah, Tuhan yang sangat dicintainya untuk kebahagiaan, cinta, dan kehidupan yang indah bagi seluruh umat manusia di seluruh dunia. Ia ingin berdoa kepada Allah tersayang agar mengampuni dosa umat muslim di Mekah, di tempat peribadahan pertama yang dibuat di atas bumi (Ka’bah hitam yang indah) dan di dalam masjid Nabi yang indah di Madinah.

Sebelum jatuh sakit, karena sulitnya birokrasi, ia sudah tiga kali berusaha untuk mendapatkan visa dari kedubes Arab Saudi di Amman, Yordania. Sedangkan jarak antara perbatasan Arab Saudi dengan Amman, ibu kota Yordania itu sekira 400 KM. Sebuah perjalanan melelahkan di tengah perjalanan panjang yang maha meletihkan itu.

Senad mengepal-ngepalkan tangannya dan menutupi telapak kakinya dengan kaos kaki untuk mengurangi rasa dingin yang makin merajai. Diurut-urutnya keningnya yang terasa makin pusing. Segala rasa capek, letih, dan sakit yang dideritanya tidak lepas dari penantian panjangnya untuk beroleh visa.

Dalam rasa sakit yang dideritanya, tiba-tiba bayang wajah Mevla, ibunya melintas. Ibu yang senantiasa mengajarkan nilai-nilai akhlak dan kemuliaan kepada anak-anaknya. Ibu yang mengajarkan  kepadanya bahwa siapa pun yang datang di depan pintu rumah kita tidak boleh kita biarkan pergi dengan perut kosong (lapar). Jika tidak ada uang, paling tidak berilah pengemis itu jeruk, atau jeruk nipis. Kenangnya pilu.

Baca Juga:  5700 KM Menuju Surga (Bagian XX)

Senad berpikir bahwa selama peperangan yang berlangsung di dunia, di tempat penampungan mana pun para pengungsi bahkan para tahanan perang itu dikasih makan. Sedangkan ia yang merasa dirinya musafir dan tamu Allah ditelantarkan begitu saja. Ia bertanya-tanya ibu macam apakah yang melahirkan duta besar Arab Saudi di Yordania? Ibu macam apa yang melahirkan dubes Bosnia di Riyadh. Ramiz Colic? Soalnya kepada diri sendiri. Senad telah memberitahu Ramic Colic bahwa dia sudah berada di perbatasan Arab Saudi dan tidak bisa memasuki Arab Saudi karena masalah administrasi.

Dia pun mengirimkan segala berkas pribadinya ke Ramiz Colic juga no kontak pribadinya, berharap dia bisa membantu menyelesaikan masalah Senad. Senad membayar fax sampai $10 untuk mengirimkan fax dan berhari-hari tidak makan karenanya. Namun selama hampir 3 bulan Senad berada di perbatasan, tidak pernah dia menelphone sama sekali sekedar untuk menanyakan apakah Senad masih hidup atau sudah mati?

Tidak ada yang menjawab pertanyaan-pertanyaan Senad selain kesedihan yang makin merajai hatinya yang kini sudah diwakili dengan air mata yang menggenang di pelupuk mata. Ia seakan tenggelam dengan berbagai permasalahan yang mendera dan tertidur dengan pelupuk mata menghangat.

***

Pukul 2.00 malam hari, di tengah sakit yang mendera, Senad terbangun. Rasa sakitnya makin menjadi-jadi. Kepalanya makin pening sedangkan panasnya makin meninggi, badannya ia rasakan lemas sekali seperti tidak bertenaga lagi. Matanya terlihat cekung dengan bola mata yang lemah.

Senad berusaha merengkuh air mineral yang berada di sampingnya, tanganya yang lemas seakan tak kuasa untuk memegang botol air minral itu sehingga menyebabkan botol air mineral itu hampir jatuh dan tumpah. Senad meneguk air itu untuk menambah energi di tubuhnya yang selama ini ia rasakan habis karena tidak ada asupan makanan yang masuk ke tubuhnya.

Usai meminum air itu, Senad kemudian tenggelam dalam tahajud dan munajat kepada Allah. Sesekali tubuhnya terhuyung-huyung ketika ia sedang berdiri dalam shalat. Ia merasakan kedua kakinya tidak kuasa lagi menyanggah tubuhnya yang kurus itu, matanya berkunang-kunang, dan kepalanya berdenyut-denyut kencang. Namun ia berusaha menyelesaikan shalatnya walau pun beberapa kali ia hampir terjatuh. Ia berusaha untuk tetap khusyuk membangun ‘komunikasi’ dengan Allah, Sang Kekasih sejatinya.

Baca Juga:  5700 KM Menuju Surga (Bagian XXXVI)

“Asalamu’alaikum,” ucap Senad lirih. Diusapnya mukanya lembut. Wajah tirus itu terlihat cerah dan menyejukan dengan tatapan mata yang lembut dan teduh. Pantulan-pantulan kebaikan memendar melukiskan kebaikan hatinya. Wajah itu ternyata basah. Dipenuhi dengan tetesan air mata. Usai melakukan shalat, Senad melanjutkan dengan berzikir dan berdoa kepada Allah, ia memohon kepada Allah agar diberikan kesehatan dan dimudahkan untuk mendapatkan visa dari Arab Saudi.

“Ya Allah, kini tubuh hamba telah lemah sekali. Seakan hamba tidak kuasa lagi untuk menunggu lebih lama lagi di sini. Andai Engkau tidak memberikan kesembuhan kepada hamba, maka jalan menuju ke Mekah hanya akan menjadi kenangan yang akan kubawa mati. Mudahkanlah semua urusan ibadah hamba ya Allah,” pinta Senad dalam doanya.

“Amin, amin, amin.” Dia kembali mengusap mukanya pelan. Ketika tanganya baru saja menyentuh keningnya tatapan mata Senad makin berkunang-kunang, ia seperti tidak bisa melihat apa-apa lagi. Gelap gulita. Ia tak kuasa lagi menahan rasa sakit di kepala dan tubuhnya yang menggigil itu pun akhirnya terjatuh tak sadarkan diri. Berjam-jam tubuh kurus itu tergeletak bak seonggok jasad korban kejahatan yang dilemparkan ke tengah padang pasir. Sepatu kets yang menempel di kakinya rusak penuh lobang, jaketnya rusak, dan tubuh yang penuh dengan debu karena puluhan hari dipanggang terik matahari gurun pasir.

Udara malam gurun pasir menerpa tubuh ringkih yang tergolek tak berdaya itu, seandainya ada ular gurun atau binatang-binatang buas, mungkin tubuh tak berdaya itu sudah terkoyak oleh taring-taring tajam dengan darah bercucuran membasahi pasir di gurun yang kecokelatan. Dan kisah Senad Hadjick, pejalan kaki menuju Allah itu pun akan ditangisi oleh seluruh umat Islam di dunia karena meninggal selama menunggu visa berbulan-bulan di perbatasan Arab Saudi. Hanya sinaran cahaya rembulan yang menerangi tubuhnya, seakan ingin menunjukan kepada seluruh mata umat Islam, bahwa di sana, dipinggiran perbatasan Arab Saudi nun panas di padang pasir sana, sesosok tubuh laki-laki mulia terkapar tidak berdaya. ***

Ikuti penulis di:

Wattpad:birulaut_78

Instagram: mujahidin_nur

 

 

 


Like it? Share with your friends!

0
3 shares

What's Your Reaction?

Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Lucu Lucu
0
Lucu
Sedih Sedih
1
Sedih
Terkejut Terkejut
0
Terkejut
Wow Wow
0
Wow
Bingung Bingung
0
Bingung
Marah Marah
0
Marah
Suka Suka
0
Suka
Harakatuna

Harakatuna merupakan media dakwah yang mengedepankan nilai-nilai toleran, cerdas, profesional, kritis, faktual, serta akuntabel dengan prinsip utama semangat persatuan dan kesatuan bangsa yang berdasar pemahaman Islam: rahmat bagi semua makhluk di dunia.