Apakah Presiden Kita Kafir?


-1
204 shares, -1 points

“Apakah presiden kita kafir?” demikian Ustadz Riyadh bin Badr Bajrey membacakan sebuah pertanyaan yang ditulis oleh jama’ah di selembar kertas.

“Aduuuhh,” spontan Ustadz Riyadh menjawab dengan raut wajah yang kesal dan terdengar gelak tawa dari para jama’ah. Selama beberapa saat, ia terdiam.

Ia lantas mengatakan, “Gak usah ngaji ke sini deh. Geli. Ngajinya sama yang berjemur barengan di Monas aja sono lo. (Kelompok) yang begitu mudahnya mengatakan kafir, kafir. Allaaaah.”

Menurutnya, Presiden Joko Widodo adalah beragama Islam. Penguasa kita Muslim. “Kecuali memang agamanya non-Islam ya berarti non muslim dia. Tapi dia kan Muslim. Apa yang membuatmu ragu dari keislamannya?”

“”Pemerintahan kita pemerintahan Islam? Pemerintahan Islam, sudah. Walaupun menerapkan hukum lain selain hukum Islam, itu kekurangannya. Tapi apakah dengan itu menjadi pemerintahan kafir? Tidak. Pemerintahan Islam dengan segala kekurangannya,” tegas Ustadz Riyadh.

Ia kemudian menjelaskan bahwa Rukun Islam dikoordinir oleh Pemerintahan di bawah kepemimpinan Joko Widodo – Jusuf Kalla.

“Ente masuk Islam, diatur gak perubahan KTP sama pemerintah? Diatur. Salat? Diatur gak waktunya sama pemerintah? Waktu salat pake teropong dan lain-lain. Puasa? Diatur gak sama pemerintah? Tanggal berapa mulainya, tanggal berapa salat ied-nya. Diatur gak sama pemerintah? Diatur. Zakat, diatur gak sama pemerintah? (Ada) Badan Amil Zakat. Haji, diatur gak sama pemerintah? Diatur sama pemerintah, dikoordinir. Rukun Islam dikoordinir, ente masih mau kafirin yang Islamnya yang mana dong? Paparnya dengan agak kesal.

Ustadz Riyad menuturkan bahwa orang yang bertanya demikian adalah orang yang salah tempat. “Bagus pake tulisan. Coba tanya langsung, gue jenggut-jenggut,” katanya disambut tawa hadirin.

Ia mengakui bahwa pemerintah banyak sekali jasa yang telah diberikan untuk bangsa Indonesia sekalipun masih banyak kekurangan. Perjuangannya untuk maslahat umum untuk manusia, banya. Dan itu pahala yang besar mengalir kepadanya.

Baca Juga:  Motivasi dari Sosok Profesor

“Dengan itu dihapuskan dosa-dosa dan kekurangannya. Belum lagi lidahmu yang terus membicarakan keburukannya. Nambah habis dosa-dosanya. Sungguh, dia (Presiden Jokowi) lebih mulia daripadamu,” tegas Ustadz Riyadh.

Ia melanjutkan, “Tidaklah kau berjuang kecuali hanya untuk maslahat dirimu sendiri, bukan? Adapun mereka (pemerintah), kalau pun bekerja mengorbankan waktu dan tenaga untuk maslahat siapa? Iya ada human error. Tapi dia (Jokowi) bukan malaikat yang punya sayap. Enggak, manusia kok. Kalian yang gak siap sama pemerintahan yang adil dan baik. Kalian yang gak siap”.

“Bukankah Umar bin Abdul Aziz akhirnya dibunuh? Kenapa? Terlalu mulia untuk rakyat yang kualitasnya sudah menurun. Bukankah Umar bin Khattab dibunuh? Kenapa? Kualitas rakyatnya menurun, Umar terlalu mulia, (makanya) dibunuh. Begitu pun Utsman dibunuh, begitu pun Ali dibunuh. Begitu kan?”

Menurutnya, Allah itu Maha Adil.

“Dan serusak-rusaknya mereka (pemerintah), perjuangan, waktu dan tenaga mereka (dikorbankan) untuk mengurusi maslahat orang banyak. Dan banyak (rakyat) yang susah diatur.”

“Kenapa kau tak arahkan lidahmu untuk mendoakan keislaman, keimanan, taufiq, hidayah baginya. Kenapa harus mempertanyakan keislamannya? Ente salah tempat ngaji sama ane, salah tempat ente,” katanya.

*Aru el-Gete, Kader IPNU Bekasi

Tonton video lengkapnya…


Like it? Share with your friends!

-1
204 shares, -1 points

What's Your Reaction?

Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Lucu Lucu
0
Lucu
Sedih Sedih
0
Sedih
Terkejut Terkejut
0
Terkejut
Wow Wow
0
Wow
Bingung Bingung
0
Bingung
Marah Marah
0
Marah
Suka Suka
5
Suka
Harakatuna

Harakatuna merupakan media dakwah yang mengedepankan nilai-nilai toleran, cerdas, profesional, kritis, faktual, serta akuntabel dengan prinsip utama semangat persatuan dan kesatuan bangsa yang berdasar pemahaman Islam: rahmat bagi semua makhluk di dunia.