29.5 C
Jakarta
Array

10 Alasan Mengapa Puasa Istimiwa di Mata Allah

Artikel Trending

10 Alasan Mengapa Puasa Istimiwa di Mata Allah
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Setiap Muslim pastinya tahu jika puasa merupakan salah satu dari lima rukun Islam. Namun di antara empat rukun lainnya, puasa menjadi satu-satunya ritual ibadah yang spesial di mata Allah swt. Hal ini bisa dibuktikan dengan hadis qudsi yang diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim dari sahabat Abu Hurairah, Rasulullah saw pernah menyampaikan bahwa Allah swt pernah berfirman:

 كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ إِلاَّ الصِّيَامَ فَإِنَّهُ لِى وَأَنَا أَجْزِى بِهِ

Semua amal manusia kembali untuknya sendiri kecuali puasa. Sesungguhnya puasa itu untuk-Ku. Aku sendiri yang akan membalasnya”

Para ulama berusaha mencari alasan kenapa hanya ritual ibadah puasa yang diistemewakan oleh Allah swt sehingga diperuntukkan bagi-Nya. Padahal seluruh amal ketaatan manusia diniati semata-mata ikhlas untuk-Nya. Al-Nawawi dalam Syarh Muslim setidaknya menyebut enam alasan;

Pertama, ritual puasa tidak pernah dipergunakan untuk sesembahan selain Allah swt. Mengingat non-Muslim juga mengagungkan sesembahan mereka dengan sembahyang, sujud, sedekah, zikir dan lainnya.

Kedua, puasa jauh dari rasa pamer (riyâ). Sebab puasa merupakan ibadah rahasia yang tersembunyi dari ‘mata’ orang lain. Sementara ibadah semisal shalat, haji, sedekah dan yang lainnya tidak dapat lepas dari penglihatan sesama.

Ketiga, orang yang berpuasa tidak mempunyai bagian dari puasa. Sebab ibadah puasa hanya murni bagi Allah swt. Sedikit sekali celah bagi manusia untuk memuji amal ibadah puasa seseorang.

Keempat, tidak makan merupakan salah satu sifat Allah swt karena Allah swt tidak butuh makan dan minum. Sehingga orang yang berpuasa ber-taqarrub dengan sifat Allah swt. Meski demikian sifat-sifat Allah swt tidak ada yang dapat menyerupai maupun menandinginya.

Kelima, pengistimewaan puasa yang hanya disandarkan pada Allah swt memberikan kesan kemulian puasa. Sebagaimana penyandaran sesuatu yang mempunyai nilai kemulian semisal onta Nabi Saleh as yang disebut dengan nâqatullâh, onta Allah (QS al-Aʻraf [7]: 73, QS Hud [11]: 64, QS al-Syams [91]: 13) dan juga baitullah, rumah Allah. Padahal hakikatnya semua onta dan rumah yang ada di dunia ini milik Allah. Tentu –seperti pandangan al-Zain bin al-Munir- pengkhususan yang tidak didapat oleh umumnya kata-kata lainnya berarti pengagungan dan pemuliaan.

Keenam, hanya Allah swt sendiri yang mengetahui kadar lipat ganda pahala puasa. Sedangkan amal ibadah lainnya sengaja ditampakkan oleh Allah swt bagi para hamba-hamba-Nya.

Ibnu Hajar al-ʻAsqalani melalui Fath al-Bârî Syarh Shahîh al-Bukhârî menambahkan beberapa alasan;

Ketujuh, puasa merupakan ibadah yang paling dicintai-Nya. Sebagaimana riwayat hadis marfûʻ al-Nasa’i dari sahabat Abu Umamah ra, hendaknya kamu berpuasa karena tidak ada ibadah yang menyamainya.

Kedelapan, puasa bukan merupakan amal penebus kedzaliman dan dosa. Mengingat semua amal ibadah dapat menjadi penebus dosa yang telah diperbuat kecuali puasa (HR. Ahmad dan Abu Dawud). Kelak pada hari kiamat saat penghitungan amal, semua amal kezaliman akan ‘memakan’ amal-amal ibadah hingga tersisa amal puasa (HR al-Baihaqi). Sebab setiap perbuatan dosa dan maksiat mempunyai pelebur dari amal-amal ketaatan yang dilakukan.

Kesembilan, puasa itu tidak nampak sehingga dicatat oleh para malaikat hafadzah. Ini didasarkan pada riwayat yang dicantumkan oleh Ibnu al-ʻArabi dalam al-Musalsalât-nya, Allah swt mengatakan ikhlas itu rahasia-Ku. Aku titipkan pada hati yang Aku cintai yang tidak bisa nampak bagi malaikat untuk ia catat maupun juga bagi setan untuk ia rusak.

Kesepuluh, berpuasa itu berarti sama dengan makhluk Allah swt yang tercipta dari cahaya yakni malaikat. Mereka semua tidak makan, minum dan tidur.

Sebenarnya masih banyak alasan-alasan lainnya yang ditemukan oleh para ulama. Sepuluh alasan ini dirasa cukup. Alhasil yang perlu digarisbawahi -masih menurut Ibnu Hajar- puasa yang masuk dalam kategori ini adalah puasa orang yang menjaga dirinya dari perbuatan dosa dan maksiat baik ucapan maupun tindakan. Wallahu Aʻlam []

Harakatuna
Harakatuna
Harakatuna.com merupakan media dakwah berbasis keislaman dan kebangsaan yang fokus pada penguatan pilar-pilar kebangsaan dan keislaman dengan ciri khas keindonesiaan. Transfer Donasi ke Rekening : BRI 033901002158309 a.n PT Harakatuna Bhakti Ummat

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru