25 C
Jakarta

Sejauh Mana Islamisasi di Era Pak Harto?

Artikel Trending

KhazanahOpiniSejauh Mana Islamisasi di Era Pak Harto?
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Harakatuna.com – Memasuki bulan Juni bangsa Indonesia berjumpa dengan sejumlah momen bersejarah. Mulai dari hari lahir Pak Harto, hari lahir Bung Karno, hari lahir piagam Jakarta hingga hari wafatnya Mayjen Pranoto Reksasamudro. Pak Harto yang lahir pada tanggal 8 Juni kini genap seabad.

Sekalipun beliaunya sudah wafat, namanya tak tenggelam begitu saja. Terhadap orang yang wafat idealnya membahas aspek-aspek positifnya saja. Termasuk dalam tulisan singkat ini dibahas sejauh mana Islamisasi yang sudah dilakukan Pak Harto.

Islamisasi yang dilakukan beliau terkait dengan masa senjanya. Orang jawa dikala masa senja akan makin religius, begitu yang saya tangkap dari artikel Dr. M. Bambang Pranowo dalam buku Reinventing Indonesia (terbitan Mizan). Sejarah mencatat pak Harto di awal-awal mengendalikan bangsa Indonesia terlihat alergi kepada Islam. Contoh sepele yaitu alergi mendengan kata “Insya Allah”.

Diungkap Prof. Salim Said dalam buku Menyaksikan 30 Tahun Pemerintahan Otoriter Soeharto, kata Insya Allah diucapkan Subchan ZE kala menemui beliau di kantor Kostrad. Suchan ZE tak sendirian alias ditemani Harry Tjan Silalahi. Usai pertemuan, Subchan bilang kepada Harry, “Wah Soeharto ini memang abangan tulen.”

Perjalanan waktu mampu merubah karakter seseorang. Dari yang awalnya alergi Islam berganti berpihak kepada Islam. Pemimpin yang berpihak kepada Islam otomatis dia berperan langsung dalam Islamisasi bangsa ini. Sejauh data yang berhasil saya himpun, ada tiga bentuk Islamisasi, diantaranya: 1) ranah Ibadah 2) ranah ekonomi 3) ranah hukum. Adapun ranah politik, sudah nyata sekali beliau tak suka terhadap pembahasan Piagam jakarta, rehabilitasi Masyumi hingga tidak suka NU dipimpin oleh kader NU sendiri.

Ranah Ibadah diwujudkan dalam bentuk pendirian masjid-masjid melalui Yayasan amal Bakti Muslim Pancasila. Selain pembangunan masjid, di laman soeharto.co disebutkan Yayasan ini juga mengadakan Kegiatan Da’i Transmigrasi kerjasama Majelis Ulama Indonesia untuk 2.688 orang Da’i.

BACA JUGA  Konstruksi Menuju Iklim Harmoni, Toleransi dan Damai

Masih dalam ranah ibadah, Pak Harto tercatat naik haji bersama Bu Tien. Selesai berhaji pada tahun 1991, namanya berganti Haji Muhammad Soeharto. Perkara haji betulan ataukah sekedar pencitraan, hanya Allah swt yang tahu. Satu hal yang perlu diingat pembaca setia laman Harakatuna, di posisi ini pak Harto sudah bertransformasi dari sosok abangan ke santri.

Berikutnya di ranah ekonomi, Pak Harto merestui pendirian Bank Muamalat. Sebuah bank yang promotor utamanya KH. Hasan Basri. Laman bisnis.com (26/4/2021)  mewartakan Pak Harto kala itu mengimbau calon jemaah haji untuk ikut membeli saham Bank Muamalat Indonesia (BMI). Langkah yang disarankan yakni dengan menyisihkan sebagian biaya transportasi ke daerahnya masing-masing. Langkah itu guna menambah modal bank baru ini.

Di ranah politik, islamisasi diwujudkan dalam kebijakan transmigrasi. Merujuk keterangan laman wikipedia, islamisasi di Indonesia bagian timur dilakukan Pak harto melalui program transmigrasi. Program yang berjalan selama tiga dekade ini membuat populasi Islam di sana meningkat. Khusus di Irian Jaya atau yang kini berubah nama menjadi Papua, Islamisasi masih dilakukan ustadz Fadlan Garamatan. Sabun dan shampo dijadikan modal awal dalam mengenalkan agama Islam di Papua.

Selain transmigrasi, pak Harto turut andil dalam ranah legislasi hukum yang bernuansa islami. Seperti yang disinggung EMK. Alidar dalam jurnal Legitimasi, Vol.1 No. 2, Januari-Juni 2012, diantaranya: Undang-Undang nomor 1 tahun 1974 tentang Perkawinan, Peraturan Pemerintah Nomor 48 tahun 1977 tentang Wakaf, UU Peradilan Agama (1989), hingga Inpres nomor 1 tahun 1991 tentang Kompilasi Hukum Islam hingga UU nomor 7 tahun 1992 tentang Perbankan.

Sebelum mengakhiri artikelini, dalam perspektif saya, gaya Pak Harto berbeda dengan Bung Karno. Jika Bung Karno awal memimpin merangkul kubu Islam, namun di pengujung kepemimpinannya beliau condong ke kubu kiri. Maka langkah-langkah yang dilakukan Pak Harto adalah dari kubu militer ke kubu Islam. Wallahu a’lam.

Fadh Ahmad Arifan
Alumni Fakultas Syariah UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Artikel Terbaru