Memperbaharui Ingatan Menjelang Muktamar NU ke-35

Artikel Trending

KhazanahResonansiMemperbaharui Ingatan Menjelang Muktamar NU ke-35

Harakatuna.com – Menjelang Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU), ruang publik mulai dipenuhi perbincangan tentang figur, peta dukungan, arah kepemimpinan, dan konfigurasi kekuatan organisasi. Semua itu penting sebagai bagian dari dinamika jam’iyah.

Satu hal mendasar yang kerap luput dari perhatian, apakah NU sedang menyiapkan masa depan dan sedang memperbaharui ingatannya?

Pertanyaan ini menjadi penting karena organisasi sebesar NU jarang kehilangan pengaruh karena kekurangan sumber daya. Organisasi lebih sering melemah ketika kehilangan kemampuan belajar dari pengalamannya sendiri. Ketika sejarah hanya diperingati tanpa dipahami, tradisi dipelihara tanpa ditafsirkan, dan keputusan organisasi berhenti menjadi pelajaran bagi generasi berikutnya.

Pada otak manusia ada bagian hippocampus, bagian otak yang berperan penting dalam membentuk sistem ingatan manusia. Fungsi pertamanya adalah konsolidasi memori, yaitu mengubah pengalaman dan memori jangka pendek menjadi memori jangka panjang agar dapat disimpan dan dipanggil kembali saat dibutuhkan.

Fungsi kedua adalah memori spasial dan navigasi, yakni kemampuan mengenali posisi, membaca lingkungan, dan menemukan arah tujuan. Fungsi ketiga adalah menghubungkan emosi dengan ingatan, sehingga sebuah pengalaman tidak hanya diingat sebagai data, tetapi juga sebagai makna yang memiliki bobot emosional.

Jika analogi ini dipindahkan ke organisasi NU, maka pelajarannya menjadi menarik. Bagaimana pengalaman panjang selama 100 tahun lebih dikonsolidasi menjadi pengetahuan kolektif kelembagaan. Pengetahuan kolektif yang menjaga orientasi, mengetahui dari mana NU berasal dan ke mana ia bergerak. Pengetahuan kolektif yang menjaga moral pengurus yang menghubungkan keputusan dengan nilai dan emosi bersama yang menghidupinya.

NU sesungguhnya dibangun di atas tradisi ingatan yang kuat. Pesantren menjaga transmisi ilmu. Sanad dan ijazah menjaga kesinambungan otoritas. Bahtsul masail menjaga kemampuan membaca realitas dan khidmah menjaga niat ikhlas dalam pengabdian. Semua itu mekanisme struktural-kultural untuk memastikan bahwa masa lalu tetap hadir sebagai sumber orientasi bagi masa depan.

Dilihat dari perspektif hippocampus, pesantren dan tradisi keilmuan NU selama ini menjalankan fungsi konsolidasi memori. Pengalaman generasi terdahulu diterjemahkan menjadi sistem pengetahuan yang diwariskan. Jaringan ulama dan struktur jam’iyah menjalankan fungsi navigasi yang menjaga arah perjalanan organisasi di tengah perubahan zaman. Sedangkan nilai ikhlas, khidmah, dan pengabdian merupakan dimensi emosional yang memberi ruh pada seluruh gerakan.

BACA JUGA  Khilafatainment: Dakwah Elite di Tengah Krisis Ekonomi

Namun ingatan tidak sama dengan pengulangan. Ingatan yang sehat bukan mengulang apa yang pernah dilakukan, melainkan memahami mengapa sesuatu dahulu dilakukan dan apakah semangat itu masih relevan hari ini. Organisasi yang hanya mengulang bentuk sering kehilangan substansi.

Dengan demikian Muktamar ke-35 semestinya tidak dipahami hanya sebagai forum memilih pengurus baru. Muktamar adalah ruang untuk memperbaharui cara organisasi memahami dirinya sendiri. Apa yang masih menjadi kekuatan? Apa yang mulai menjadi beban? Nilai apa yang perlu ditegaskan kembali? Dan kebiasaan apa yang justru menghambat pertumbuhan?

Tantangan NU hari ini juga tidak ringan. Perubahan otoritas keagamaan, percepatan teknologi, meningkatnya budaya instan, polarisasi politik, hingga persoalan integritas lembaga menjadi ujian yang tidak dapat dijawab hanya dengan mengandalkan kebesaran sejarah. Organisasi yang terlalu percaya pada masa lalunya sering terlambat membaca perubahan.

Karena itu, memperbaharui ingatan berarti membedakan antara nilai dan kebiasaan. Nilai harus dijaga, tetapi kebiasaan boleh berubah. Keikhlasan tetap menjadi fondasi, tetapi tata kelola harus berkembang. Tradisi tetap dirawat, tetapi cara menjangkau generasi baru perlu diperbaharui.

Dalam perspektif budaya organisasi, pembaruan yang berhasil tidak dimulai dari mengganti simbol, melainkan menyentuh lapisan terdalam yaitu pengetahuan kolektif yang menjadi asumsi dasar organisasi. Apakah NU masih dipahami sebagai rumah besar umat dan ruang pengabdian, atau mulai dipersempit menjadi arena pengaruh dan kompetisi kepentingan? Pertanyaan semacam ini lebih menentukan masa depan dibanding sekadar siapa yang duduk di struktur.

Era kecerdasan buatan juga memberi pelajaran baru. Teknologi modern tidak bekerja dengan menyimpan semua informasi, tetapi dengan menemukan kembali pengetahuan yang relevan pada saat dibutuhkan. Demikian pula organisasi NU. Masa depan tidak dibangun dari banyaknya arsip, melainkan dari kemampuan membaca ulang pengalaman, menemukan arah perjalanan, dan menjaga moral yang menjadi identitasnya.

Maka memperbaharui ingatan bukan berarti meninggalkan sejarah. Justru sebaliknya, kembali kepada ruh para Muassis NU dengan cara yang relevan bagi zaman. Mengingat kembali bahwa NU lahir bukan untuk NU saja, tetapi juga untuk menjaga agama, merawat masyarakat, dan membela negara.

Ayik Heriansyah
Ayik Heriansyah
Lulusan Kajian Terorisme Sekolah Kajian Stratejik dan Global (SKSG) Universitas Indonesia

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru