Gen Z di Persimpangan Digital: Membangun Ketahanan Diri dari Radikalisasi Online

Artikel Trending

KhazanahPerspektifGen Z di Persimpangan Digital: Membangun Ketahanan Diri dari Radikalisasi Online

Harakatuna.com – Generasi Z yang lahir antara tahun 1997 hingga 2012 tumbuh bersama internet dan menghabiskan sebagian besar waktunya di media sosial setiap hari. Kebiasaan ini membuat mereka sangat rentan terhadap pengaruh buruk dari kelompok-kelompok yang menyebarkan paham ekstrem secara daring.

Jurnal IJEVSS yang diterbitkan oleh Cita Konsultindo pada tahun 2024 mencatat bahwa algoritma media sosial dirancang untuk terus menyajikan konten yang memancing emosi kuat seperti kemarahan dan ketakutan. Pemahaman yang baik tentang cara kerja internet menjadi bekal penting bagi setiap anak muda agar mampu memilah informasi dengan lebih bijak.

Laporan ThePrint edisi Januari 2026 yang ditulis oleh Saman Ayesha Kidwai menyebutkan bahwa penyebaran paham ekstrem kepada anak muda kini berlangsung melalui platform digital yang tersebar luas seperti media sosial, ekosistem permainan daring, dan forum obrolan terenkripsi.

Para perekrut kelompok ekstrem memanfaatkan krisis identitas, rasa sepi, dan keinginan untuk diterima oleh suatu kelompok sebagai pintu masuk untuk memengaruhi remaja. Andy Meeks selaku Kepala Investigasi Counter-Terrorism Policing North West di Inggris menegaskan bahwa ancaman ini terus berkembang dan sulit dideteksi dengan cara-cara lama. Generasi Z perlu membekali diri dengan kemampuan membaca informasi secara kritis agar terhindar dari jebakan tersebut.

Kemampuan menelusuri sumber informasi hingga ke asalnya merupakan keahlian paling penting di era digital saat ini. Setiap konten yang beredar di media sosial perlu diperiksa kebenarannya sebelum dipercaya atau dibagikan kepada orang lain. Komisi Eropa melalui EU Knowledge Hub on Prevention of Radicalisation menegaskan bahwa konten ekstrem di internet sering kali dikemas dengan cara yang tampak meyakinkan dan mudah dipercaya. Generasi Z perlu melatih kebiasaan bertanya “dari mana sumber informasi ini?” sebelum menelan mentah-mentah setiap konten yang mereka temui di layar.

Laporan dari NC State University Violence Prevention Task Force tahun 2025 merekomendasikan agar pengguna muda segera melaporkan dan memblokir akun-akun yang menyebarkan kebencian di platform digital. Tindakan aktif tersebut membantu menjaga lingkungan digital agar lebih sehat bagi semua pengguna.

Platform besar seperti YouTube, Instagram, dan TikTok sudah menyediakan fitur pelaporan konten berbahaya yang dapat digunakan kapan saja. Keberanian untuk menggunakan fitur tersebut merupakan bentuk tanggung jawab sosial yang dapat dilakukan oleh siapa saja tanpa keahlian khusus.

Pentingnya Memperluas Wawasan

Algoritma media sosial cenderung menyajikan konten yang serupa dengan apa yang sudah sering ditonton atau disukai oleh penggunanya. Kebiasaan ini secara perlahan membentuk gelembung informasi yang membuat seseorang melihat satu sudut pandang saja secara berulang-ulang.

Penelitian dari Children and Screens Institute di Amerika Serikat menunjukkan bahwa paparan terhadap satu jenis konten secara terus-menerus dapat memperkuat pandangan ekstrem seseorang tanpa ia sadari. Gen Z perlu secara aktif mencari dan mengikuti pembuat konten yang memiliki latar belakang, pandangan, dan pengalaman yang berbeda-beda.

Kebiasaan menggulir layar tanpa tujuan selama berjam-jam dapat menguras energi pikiran dan membuat seseorang lebih mudah terpengaruh konten negatif. American Academy of Child and Adolescent Psychiatry atau AACAP merekomendasikan agar anak muda menggantinya dengan bergabung di komunitas daring yang berfokus pada hal-hal positif seperti hobi, seni, atau kegiatan sukarela.

Komunitas semacam ini mendorong percakapan yang saling menghargai dan membangun, jauh dari pola saling menyerang yang umum ditemui di ruang-ruang debat media sosial. Pergantian kebiasaan kecil ini memberikan dampak besar pada kesehatan pikiran dan ketahanan diri terhadap pengaruh buruk.

BACA JUGA  "Log In" Deddy Corbuzier: Ini Alasan Kaum Radikal Kehilangan Panggung Digital

Keseimbangan antara waktu di depan layar dan aktivitas di dunia luar merupakan kunci kesehatan mental bagi anak muda di era digital. ThePrint mencatat bahwa para perekrut kelompok ekstrem secara sengaja menyasar remaja yang merasa kesepian dan kehilangan rasa memiliki di kehidupan nyata mereka.

Children and Screens Institute menyarankan agar Gen Z aktif terlibat di tempat-tempat pertemuan fisik seperti pusat komunitas, klub olahraga, sanggar seni, atau kelompok relawan. Keterlibatan aktif di ruang-ruang fisik ini membantu membangun rasa memiliki dan identitas diri yang kuat secara sehat.

AACAP mendorong anak muda untuk selalu menjaga komunikasi terbuka dengan orang tua, guru, atau orang dewasa yang dipercaya tentang pengalaman mereka di dunia maya. Apabila seseorang mulai merasakan ketertarikan terhadap ide-ide yang memecah belah atau pandangan yang semakin ekstrem, ia perlu segera membicarakannya dengan orang terdekat atau konselor sekolah.

Melindungi Anak dari Ekstremisme Digital

Lembaga Children and Screens: Institute of Digital Media and Child Development di New York pada tahun 2023 menerbitkan panduan khusus tentang bahaya radikalisasi anak di ruang digital. Brian Hughes dari Polarization and Extremism Research and Innovation Lab atau PERIL menjelaskan bahwa setiap anak muda kini mustahil terhindar dari paparan konten ekstrem setiap kali membuka perangkat digitalnya.

Alex Newhouse dari Middlebury Institute of International Studies di Monterey mengungkapkan bahwa pelaku penyebaran paham ekstrem sering kali adalah remaja berusia 13 hingga 21 tahun itu sendiri, bahkan ia mencatat sebuah organisasi teroris yang didirikan oleh anak berusia 13 tahun. Katie Paul selaku Direktur Tech Transparency Project menambahkan bahwa platform seperti Facebook dirancang dengan algoritma yang secara otomatis memperkuat konten ekstrem, termasuk halaman terkait ISIS, kepada penggunanya tanpa disadari.

Orang tua perlu mengenali tanda-tanda awal perubahan perilaku anak seperti ketertarikan berlebihan pada satu komunitas daring, penggunaan bahasa kebencian yang asing, serta penarikan diri dari hubungan dengan keluarga dan teman. Jennie King dari Institute for Strategic Dialogue mendorong orang tua untuk membangun percakapan terbuka dengan anak tentang cara kerja algoritma dan tujuan di balik setiap konten yang mereka temui di internet.

Pertanyaan sederhana seperti “Apa tujuan informasi ini dibuat?” dapat melatih anak menjadi konsumen informasi yang lebih cerdas dan kritis. Orang tua yang mau berbagi pengalaman pribadi tentang kesalahan mereka sendiri saat membaca informasi keliru di internet akan menciptakan ruang diskusi yang aman dan jujur bersama anak.

Newhouse mengingatkan bahwa pandemi Covid-19 menjadi peristiwa radikalisasi massal karena isolasi sosial mendorong anak-anak mencari rasa memiliki di kelompok ekstrem daring. Kegiatan fisik seperti olahraga, seni, dan kegiatan sukarela di pusat komunitas memberikan rasa kebersamaan yang sehat sehingga anak-anak memiliki benteng sosial yang kuat.

Paul Barrett dari NYU Stern Center for Business and Human Rights mendorong orang tua untuk aktif mendesak wakil rakyat agar segera mengatur platform media sosial dengan lebih ketat, termasuk mewajibkan transparansi algoritma melalui otoritas Federal Trade Commission (FTC). Tekanan publik dari para orang tua merupakan kekuatan yang dapat mendorong perubahan kebijakan demi melindungi generasi muda dari ancaman radikalisasi digital.

Layyin Lala
Layyin Lala
Santri Pondok Pesantren Salafiyah Syafiiyah Nurul Huda Mergosono Malang dan Mahasiswa Universitas Brawijaya yang suka menulis dan berefleksi

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru