Harakatuna.com – Rupiah yang terus berada di bawah tekanan sering dijelaskan melalui variabel ekonomi yang bersifat teknis, mulai dari suku bunga, inflasi, cadangan devisa, hingga arus modal. Penjelasan tersebut memang penting, tetapi tidak cukup.
Dalam dunia yang semakin terintegrasi, nilai tukar tidak hanya mencerminkan kesehatan ekonomi suatu negara, melainkan juga menunjukkan posisi negara tersebut dalam peta kekuatan global. Karena itu, pelemahan rupiah perlu dibaca sebagai fenomena ekonomi sekaligus fenomena geopolitik.
Indonesia saat ini berada di tengah perubahan besar yang sedang berlangsung pada tingkat global. Rivalitas kekuatan besar, transformasi teknologi, perubahan arsitektur energi, dan pergeseran pusat-pusat pertumbuhan ekonomi dunia berlangsung secara bersamaan. Dalam situasi seperti itu, rupiah menjadi salah satu instrumen yang paling cepat merekam dampak perubahan tersebut.
Sejarah Indonesia sendiri menunjukkan pola yang menarik. Setiap sekitar tiga dekade, bangsa ini menghadapi guncangan besar yang mengubah orientasi politik dan ekonominya. Akhir 1960-an ditandai transisi menuju Orde Baru. Tiga dekade kemudian, krisis moneter 1997–1998 meruntuhkan fondasi Orde Baru dan melahirkan era reformasi.
Kini, menjelang 30 tahun pasca Reformasi. Muncul pertanyaan apakah Indonesia sedang memasuki fase restrukturisasi sejarah berikutnya? Jika benar demikian, maka pelemahan rupiah bukan sekadar persoalan pasar, tetapi isyarat dari perubahan besar Indonesia.
Perubahan global itu semakin relevan ketika banyak analis berbicara tentang dunia pasca-2030. Teknologi kecerdasan buatan, energi baru, otomatisasi industri, dan transformasi digital diperkirakan akan mengubah struktur ekonomi dunia secara radikal. Pernyataan Bill Gates bahwa dunia setelah 2030 akan sangat berbeda sesungguhnya merupakan peringatan bahwa negara-negara yang gagal bertransformasi akan tertinggal.
Secara alamiah posisi Indonesia semakin strategis dalam percaturan geopolitik global. Kawasan Indo-Pasifik telah menjadi pusat rivalitas antara Amerika Serikat dan Tiongkok.
Amerika berupaya mempertahankan dominasi maritim dan sistem keamanan yang telah dibangunnya selama puluhan tahun. Akan tetapi, Tiongkok tidak tinggal diam. Mereka juga mau menjadi penguasa kawasan Indo-Pasifik dengan memperluas pengaruh ekonomi dan logistiknya melalui jaringan perdagangan dan investasi. Dalam konfigurasi seperti itu, Indonesia salah satu titik kunci yang diperebutkan pengaruhnya.
Karena itulah setiap perkembangan yang berkaitan dengan akses militer, jalur pelayaran, atau kerja sama strategis di wilayah Indonesia selalu memiliki makna geopolitik yang jauh lebih besar daripada yang tampak di permukaan. Ketika posisi strategis meningkat, tekanan terhadap negara yang bersangkutan juga meningkat.
Tekanan tersebut tidak selalu berbentuk ancaman militer. Tekanan dapat hadir melalui pasar keuangan, persepsi investor, lembaga pemeringkat, hingga fluktuasi mata uang. Di sinilah pukulan dolar terhadap rupiah menjadi relevan.
Kendati demikian dalam konteks tersebut, kurang tepat bila menyimpulkan bahwa pelemahan rupiah semata-mata merupakan hasil rekayasa kekuatan asing. Akan tetapi, juga terlalu naif jika menganggap bahwa geopolitik tidak memiliki pengaruh terhadap stabilitas mata uang.
Yang sesungguhnya terjadi adalah pertemuan antara kerentanan domestik dan tekanan struktural global. Rupiah menjadi rapuh karena fondasi ekonomi nasional belum cukup kuat menghadapi sistem internasional yang masih didominasi oleh kekuatan besar.
Tekanan lain datang dari Timur Tengah yang sedang mengalami perubahan konfigurasi kekuatan implikasi dari kemenangan sementara Iran atas Amerika-Israel dalam perang sejak 28 Februari lalu. Konflik dan persaingan regional di Timur Tengah otomatis mengubah arsitektur energi dunia.
Bagi Indonesia yang masih menjadi pengimpor energi, setiap kenaikan harga minyak berarti meningkatnya kebutuhan devisa dan tekanan terhadap nilai tukar. Dalam situasi demikian, rupiah menjadi korban pertama yang harus menanggung konsekuensi dari konflik yang bahkan terjadi ribuan kilometer dari Nusantara.
Karena itu, persoalan utama yang dihadapi Indonesia bukan sekadar bagaimana menguatkan rupiah dalam jangka pendek, melainkan bagaimana membangun fondasi ekonomi dan geopolitik yang mampu bertahan dalam dunia yang semakin multipolar. Rupiah pada akhirnya adalah simbol kedaulatan dan cermin posisi Indonesia dalam percaturan global.
Secara geopolitik ketika rupiah terus melemah, yang sesungguhnya sedang dipertaruhkan adalah kemampuan bangsa ini untuk tetap menjadi subjek sejarah umat manusia, bukan sebagai tumbal dari pertarungan geopolitik dunia.
