Sejarah di Balik Munculnya Metode Kritik Hadis (Bagian III)


Maka sejak saat itu, para ahli hadis lebih selektif dalam meneliti dan menyelidiki Hadis yang tersebar. Berbeda dengan penelitian yang telah dilakukan oleh para sahabat, para ahli hadis akhir abad pertama atau dari kalangan tabi’in menitik-beratkan kepada penelitian transmisi (sanad) hadis. Perbedaannya terletak pada ucapan sahabat ketika meriwayatkan sebuah hadis yang disandarkan kepada Rasul Saw. umat Islam pada waktu itu langsung menerima sekaligus meyakininya meskipun diketahui ia tidak secara langsung mendengarkannya dari Rasul Saw. secara langsung. Namun, jika seorang tabi’in meriwayatkan sebuah hadis Nabi dalam ucapannya, maka hadis yang ia riwayatkan menjadi hadis mursal dan hadis mursal merupakan salah satu jenis hadis ḍa’īf.

Perbedaan dalam meneliti hadis Nabi dari masa sahabat sampai pada masa tabi’in menunjukkan adanya perkembangan metode kritik hadis di dalam wilyah kajian dari awal kemunculannya pada saat Nabi Saw. masih hidup. Karena para sahabat hidup dan mengalami setiap kejadian bersama Nabi, tentunya hadis sudah sangat melekat dalam pikiran dan hati mereka. Di samping itu juga, Nabi Saw. membimibng dan mengajarkan segala hal kepada mereka sehingga mereka dijauhkan dari sifat bohong. Keutamaan ini tidak berlaku pada generasi setelah sahabat, akibatnya terjadi banyak (khalal) celah di dalam periwayatan hadis Nabi. Telah menjadi hal yang wajar setiap kali terjadi celah maka bertambah ketat pula pengawasannya. Begitupula ketika sebagian tabi’in meriwayatkan kebohongan maka bertambah ketat aturan dalam meneliti transmisi hadis tersebut. Sehingga metode kritik hadis ini berkembang menjadi sesuatu yang berlaku untuk meneliti otentisitas sebuah hadis yang disandarkan kepada Nabi.

Celah dalam periwayatan hadis yang berupa aib, kesalahan, cela, ataupun cacat berdampak kepada ketepercayaan (autentisitas) hadis itu sendiri. Sehingga, pada masa setelah sahabat sampai awal abad ketiga para ahli hadis membuat persyaratan-persyaratan yang sangat ketat untuk para perawi yang diterima hadisnya dengan meneliti identitas periwayat hadis tersebut. Persoalan terkait penelitian otentisitas hadis terus berlanjut dari awal abad ketiga sampai pada abad pertengahan atau masa tadwīn yaitu ketika ilmu-ilmu hadis dibukukan secara komperhensif oleh para ahli hadis klasik yang berusaha keras untuk membuktikan otentisitas hadis. Meskipun demikian, para ahli hadis klasik tidak secara terang dan detail menyebutkan kriteria hadis yang dianggap sahih atau hadis yang dianggap daif. Penelitian terhadap hadis yang dilakukan oleh para ahli  hadis klasik membahas problem di dalam pembuktian otentisitas periwayatan hadis sebagai sumber ajaran Islam.

Baca Juga:  Kisah Penduduk Surga Kelas Bawah

Like it? Share with your friends!

What's Your Reaction?

Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Lucu Lucu
0
Lucu
Sedih Sedih
0
Sedih
Terkejut Terkejut
0
Terkejut
Wow Wow
0
Wow
Bingung Bingung
0
Bingung
Marah Marah
0
Marah
Suka Suka
1
Suka
Harakatuna

Harakatuna merupakan media dakwah yang mengedepankan nilai-nilai toleran, cerdas, profesional, kritis, faktual, serta akuntabel dengan prinsip utama semangat persatuan dan kesatuan bangsa yang berdasar pemahaman Islam: rahmat bagi semua makhluk di dunia.