Sebuah Ikhtiar Merawat Keberagaman

Di sinilah, semestinya jurnalis tidak hanya berorientasi klik, melainkan juga menjalankan fungsi sosialnya untuk mengedukasi masyarakat.


Publik tidak bisa hidup tanpa informasi. Sementara informasi biasa mereka dapatkan dari sumber internet, sebagian kecil media massa. Praksis, apa pun yang tersaji di dalamnya, dipercaya sebagai fakta yang benar-benar terjadi di masyarakat. Sehingga, produk jurnalistik para jurnalis menentukan pembentukan opini publik. Jika informasi atau warta yang disajikan membawa misi-misi yang baik, misal persatuan dan perdamaian, publik pun terdidik untuk condong ke situ. Sebaliknya, jika berita yang diproduksi hanya membawa misi ekonomi, yakni mendulang klik –karena itu provokatif-sensasional, tanpa memerhatikan efek sosial-politiknya, maka akan membahayakan kesehatan opini publik.

Terutama isu-isu yang berkaitan dengan ketegangan berbasis suku, agama, ras, dan kelompok (SARA). Banyak media memberitakan konflik yang menyeret SARA terjebak pada argumen-argumen emosional, yang boleh jadi muncul dari latar belakang wartawan, sehingga produksi berita yang dipublikasikan pun memuat diksi-diksi penghakiman seperti “sesat”, “kafir”, dan sejenisnya, yang ditujukan kepada person maupun kelompok tertentu. Penggunaan kata yang menghakimi ini, lalu dipahami oleh publik sebagai sebuah kebenaran mutlak.

Mengingat peran strategis media atau pers dalam membentuk opini publik, maka penting kiranya si produsen mampu menyajikan pemberitaan dengan adil. Dalam penulisan berita, jurnalis tidak diperkenankan untuk memasukan opini pribadinya, sehingga kata-kata yang bernuansa subyektif harus dihindari. Terlebih kata-kata yang bermakna buruk semisal “sesat”, “kafir”, dsb, tentu tak boleh digunakan, kecuali itu merupakan statemen seorang narasumber atau pernyataan resmi pemerintah, itupun mesti diverifikasi validitasnya.

Sebenarnya, buku Jurnalisme Bukan Juru Ketik: Panduan Meliput Isu Keberagaman ditujukan kepada segenap jurnalis manapun, ketika berhadapan dengan fenomena kekerasan berbasis SARA. Hal ini sebagai respon dari merebaknya pemberitaan yang ngawur, dengan serampangan memvonis “sakit jiwa”, perlu “disyahadatkan”, dsb ketika memberitakan kelompok minoritas. (halaman 45)

Baca Juga:  Menghentikan Pemahaman Hadis secara Sporadis

Diterbitkan oleh Aliansi Jurnalis Indepen (AJI) bekerja sama dengan Aliansi Nasional Bhinneka Tunggal Ika (ANBTI), mengisyaratkan bahwa masih ada jurnalis dan pegiat organisasi yang peduli dengan kesatuan dan kedamaian Indonesia. Bahwa mereka yang nota bene berlatar dari media massa beragam, bahkan termasuk juga media online, mencoba untuk menyamakan persepsi supaya dalam meliput keberagaman tidak terjebak pada praktik jurnalisme perang.

Secara khusus, remotivi.or.id (21/07/2015) mencatat tujuh hal berkaitan dengan pemberitaan di media daring (dalam jaringan), yaitu mengorbankan akurasi demi kecepatan dan klik; memasak berita dari sumber tak teruji; gagal paham konteks peristiwa; memberitakan dahulu, ralat kemudian; menyiram api yang dinyalakan sendiri; provokatif; dan narasumber elitis. (halaman 45)

Ironisnya, media online yang menyajikan berita-berita sensasional justru diminati oleh warganet. Maka wajar belaka jika masyarakat cenderung gampang menghakimi sesat kelompok tertentu, karena kesehariannya disuguhkan berita-berita provokatif-sensasional. Di sinilah, semestinya jurnalis tidak hanya berorientasi klik, melainkan juga menjalankan fungsi sosialnya untuk mengedukasi masyarakat.

Sekalipun buku ini ditujukan kepada jurnalis, tapi bukan berarti pembaca dari berbagai latar belakang tidak perlu membacanya. Justru, karena kini banyak masyarakat yang menjadi konsumen (sebagai pembaca) sekaligus produsen (sebagai penulis) informasi, maka perlu mencermati indikator yang dijelaskan dalam buku ini, berkaitan dengan berita-berita yang terserak di media online dan cetak. Setidaknya, pembaca bisa mengetahui bahwa berita diproduksi dengan cara merekonstruksi realitas, dan tidak semua fakta di lapangan disajikan di dalamnya. Hanya fakta-fakta yang bersesuaian dengan misi medialah, yang dijadikan bahan berita. Ini yang dalam teori komunikasi disebut praktik framing.

Pembaca juga dapat mencermati contoh pemberitaan yang termuat pada bagian akhir buku ini. Bersumber dari berbagai media online dan jurnalis yang dinilai telah mampu menerapkan praktik jurnalisme damai dalam meliput keberagaman.

Baca Juga:  Agama dan Kesadaran dalam Beragama

Judul Buku    : Jurnalis Bukan Juru Ketik: Panduan Meliput Isu Keberagaman

Penulis            : Agnes dkk

Penerbit          : AJI dan ANBTI

Cetakan          : I, Agustus 2018

Tebal              : 139 halaman

Peresensi        : Imron Mustofa, Alumni UIN Sunan Kalijaga, mantan reporter LPM Paradigma

dokumen istimewa


Like it? Share with your friends!

What's Your Reaction?

Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Lucu Lucu
0
Lucu
Sedih Sedih
0
Sedih
Terkejut Terkejut
0
Terkejut
Wow Wow
0
Wow
Bingung Bingung
0
Bingung
Marah Marah
0
Marah
Suka Suka
0
Suka
Imron Mustofa

Alumni UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Penulis lepas asal Kebumen, yang untuk sementara waktu berdomisili di Jogja.