Santri, Kiai, dan Pesantren

Hemat kata, santri, kiai dan pesantren merupakan entitas yang kemudian menjadi penopang berdirinya dan bertahannya sebuah peradaban yang ada di Indonesia


0
95 shares

Dalam kesejarahan maupun peradaban yang ada di Indonesia, posisi dan peran pesantren tidak bisa dilepaskan. Sebab apa? Di sanalah berkumpulnya para santri—menempa diri, belajar, menjalani proses dalam kehidupan,melatih daya tahan hidup (survive) hingga menemukan sebuah jati diri yang kemudian memberikan kebermanfaatan dalam tataran masyarakat maupun lingkungannya dalam konteks kehidupan berbangsa, bernegara dan beragama sesuai dengan kapasitas dan kemampuan yang mereka miliki.

Buku berjudulkan Peradaban Sarung ini laik dijadikan sebagai sebuah referensi maupun objek bagi siapa saja yang mau mengenal maupun menelusuri—napak tilas hal-ihwal dunia pesantren. Ach. Dhofir Zuhry menyajikan tulisan demi tulisan yang reflektif, informatif, dan dengan menggunakan bahasa yang mudah dipahami yang memungkinkan setiap pembaca dapat gamblang memaknai setiap pesan dan makna yang hendak ia sampaikan.

Dalam buku tersebut, Gus Dhofir membagi menjadi ke dalam empat bagian, yang masing-masing adalah: Veni, Vidi, Santri; Pemimpin Orkestra; Citra Rasa Pesantren serta Menjadi Santri, Menjadi Indonesia. Perlu diketahui, sang penulis berangkat dari sebuah pengalaman—di sisi lain pernah berada pada posisi sebagai seorang santri, ia juga merupakan sosok yang mengawali kelahiran sebuah pondok pesantren yang ada di Kepanjen, Kabupaten Malang—Pesantren Luhur Baitul Hikmah serta Sekolah Tinggi Filsafat (STF) Al Farabi.

Santri, kiai, dan pesantren menjadi tiga hal pokok dan substantif dari tulisan demi tulisan yang ada dalam buku tersebut. Gus Dhofir mengajak para pembaca untuk mendedah kesederhanaan demi kesederhanaan, perjuangan demi perjuangan, pelajaran demi pelajaran serta keugaharian demi keguagarian dalam tiga subjek tersebut. Yang mana, bisa jadi apa yang terjadi dalam dunia mereka tidak banyak ditemukan pada kehidupan-kehidupan sehari-hari kita.

Istilah santri tidak terlepas dari tradisi cantrik yang ada di agama Hindu. Ia bermula dari “shastri” dalam bahasa Sansekerta yang berarti orang yang mempelajari Shastra (Kitab Suci) di pe-shastri-an atau pesantren. Lebih lanjut, Dhofir menjelaskan bahwa istilah “santri” merupakan gabungan dari huruf Arab Sin, Nun, Ta’, Ra’, dan Ya’. Sin artinya Salik ilal-Akhirah (menempuh jalan spiritual menuju akhirat), Nun bermakna Na-ib ‘anil-Masyayikh (penerus para guru), Ta’ berarti Tarik ‘anil-Ma’ashi (meninggalkan maksiat), Ra’ akronim dari Raghib ilal-Khayr (selalu menghasrati kebaikan) dan Ya’ adalah Yarjus-Salamah (optimis terhadap keselamatan).

“Kita tahu bahwa santri yang belajar di pesantren datang dari berbagai latar belakang ekonomi, ragam suku, budaya, bahasa, bahkan aliran. Namun demikian, mereka disatukan oleh kiai dalam sebuah orkestra kehidupan pesantren sebagai bekal membangun bangsa dan mendidik umat manusia. Anda tahu, orkestra terdiri atas banyak alat musik dan instrumen, tetapi tujuannya hanya satu: harmoni.” (hlm. 12).

Fakta tersebut tak bisa ditampik. Jutaan santri yang tersebar di pelbagai pesantren yang ada di Indonesia terus bertungkus-lumus dalam tiap tapak demi tapak pada proses yang mereka hadapi. “Umumnya, pesantren berawal dari sosok kiai di suatu tempat, kemudian datang santri yang ingin belajar agama kepadanya, mula-mula orang tua, kemudian remaja. Setelah semakin hari semakin banyak santri berduyun-duyun, timbullah inisiatif untuk mendirikan pondok atau asrama di samping kediaman kiai” (hlm. 159).

Abdurrahman Wahid pernah menuliskan esai berjudulkan Asal-Usul Tradisi Keilmuan di Pesantren (Isam Kosmopolitan, 2007). Dalam tulisan tersebut, Gus Dur banyak mengetengahkan hal-ihwal dunia pesantren, baik dari aspek kesejarahan, metode keilmuan yang ada hingga perkembangan yang berlangsung. Salah satu hal yang disampaikan Gus Dur dalam tulisan tersebut adalah terkait mengenai sumber tradisi keilmuan Islam yang ada di pesantren yang terdiri dari dua gelombang.

Yang mana—pertama, gelombang pengetahuan keislaman yang datang ke kawasan Nusantara dalam abad ke-13 Masehi, bersamaan dengan masuknya Islam ke kawasan Nusantara dalam lingkup cukup luas. Kedua, gelombang ketika para ulama kawasan Nusantara menggali ilmu di Semenanjung Arabia, khususnya di Makkah dan kembali setelah itu ke tanah air untuk mendirikan pesantren-pesantren besar.

Senada dengan apa yang ditulis oleh Gus Dhofir—banyak tulisan yang juga mengetengahkan perkembangan demi perkembangan yang ada di dunia pesantren. Seperti diantaranya pada tulisan yang berjudul Pesantren Itu…, ia memaparkan jumlah perkembangan pesantren yang ada di Indonesia. Ada dua sumber yang diuliskan oleh Gus Dhofir. Pertama, berasal dari peneliti pendidikan Islam dari Jerman, Manfred Ziemek—mengutip temuan UNESCO yang mengatakan pada 1954 tercatat ada 53.077 pesantren di seluruh Indonesia.

Kedua, Pusat Pengembangan Penelitian dan Pendidikan Pelatihan (P-5) Kementerian Agama pernah melakukan rilis bahwasannya jumlah pesantren di 33 provinsi di seluruh Indonesia mencapai 28.000 pesantren dengan jumlah santri mencapai 3,85 juta jiwa. Hal tersebut tentu saja memberikan gambaran dan keoptimisan dunia pesantren dalam jangka ke depan akan terus menjadi peran sentral dalam pendidikan yang ada di Indonesia.

Selain itu, perlu dirinci lebih mendalam tentang apa yang menjadi pembeda antara pendidikan di pesantren dengan pendidikan lain di luar pesantren—sekolah umum maupun formal dengan pelbagai ragam jenisnya. Salah satu hal yang membedakan adalah pengajaran kitab-kitab klasik. “Oleh karena keberadaannya menjadi unsur utama dan sekaligus menjadi ciri pembeda antara pesantren dan lembaga pendidikan lainnya, berdasarkan catatan sejarah, pesantren telah mengajarkan kitab-kitab klasik, khususnya yang bernuansa Ahlus-Sunnah wal-Jamaah” (hlm. 19).

Kiprah dan peran kiai tak luput juga menjadi bahasan dalam tulisan-tulisan Gus Dhofir. Salah satunya, kita bisa mendapati penjelasan melali tulisan yang berjudulkan Kiai Kampung—yang mana dijelaskan bahwasannya dalam bahasa Gus Dhofir menyebut sebagai “kiai klasik”—mereka lah yang menyepi dari keramaian, mendirikan pesantren di pinggiran negeri, jauh dari ingar-bingar modernitas yang acapkali mengasingkan diri pada kepentingan maupun kemaslahatan umat. “Pada saat yang sama, mubalig bukan semata agamawan, ia adalah seorang ilmuwan, teolog, orator, intelektual, penjaga tradisi, dan kearifan lokal” (hlm. 76).

Hemat kata, santri, kiai dan pesantren merupakan entitas yang kemudian menjadi penopang berdirinya dan bertahannya sebuah peradaban yang ada di Indonesia. Sejarah panjang yang pernah dilalui oleh merka sangatlah banyak—katakanlah bagaimana mereka terlibat dalam melawan maupun mengusir penjajah baik berupa kolonialisme, imperialisme maupun isme-isme lainnya yang mengancam keutuhan Nusantara. Di luar itu tentu saja adalah pada aktualisasi dari adagium, al muhafadzatu ‘alal qadimis shalih wal akhdzu bil jadidil aslah, menjaga tradisi lama dan menerima tradisi baru yang lebih baik.

Judul                           : Peradaban Sarung

Penulis                         : Ach. Dhofir Zuhry

Penerbit                       : Elex Media Komputido

Cetakan                       : Pertama, 2018

Jumlah Halaman          : xvi + 256 halaman

ISBN                           : 978-602-04-7705-3

 

Baca Juga:  Membaca Salafi Dari Dulu, Sekarang dan (Mungkin) Nanti

Oleh: Joko Priyono. Sekretaris LTN PCNU Kota Surakarta. Penulis Buku Manifesto Cinta (2017) dan Bola Fisika (2018).


Like it? Share with your friends!

0
95 shares

What's Your Reaction?

Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Lucu Lucu
0
Lucu
Sedih Sedih
0
Sedih
Terkejut Terkejut
0
Terkejut
Wow Wow
0
Wow
Bingung Bingung
0
Bingung
Marah Marah
0
Marah
Suka Suka
0
Suka
Joko Priyono