Percikan Air Kasih Sayang

Percikan Air Kasih Sayang

Oleh: Abdul Rosyid*

Di antara tanda kasih sayang kepada orang lain adalah menginginkan agar orang yang disayangi mendapatkan sesuatu yang sangat berarti dan sangat berharga baginya. Suami yang salih lagi cerdas, tentu menginginkan agar istrinya mendapatkan kemuliaan akhirat, agar senantiasa bisa bersama dalam kekekalan yang penuh kenikmatan. Demikian pula istri salihah lagi cerdas, tentu menginginkan suaminya senantiasa bersama selamanya, di kehidupan fana ini, terlebih di keabadian nantinya.

Shalat lail (malam), merupakan ibadah utama yang menghadirkan rahmat Allah Ta’ala. Jika sesorang sudah diliputi oleh rahmat-Nya di akhirat kelak, maka tidak ada satu makhluk pun yang mampu menghalanginya untuk masuk ke dalam surga-Nya. Suami salih dan memiliki kecerdasan spiritual yang tinggi, senantiasa berusaha menjaga shalat lailnya. Ia pun tidak ingin menikmati keindahan munajat kepada Allah sendirian saja, maka ia selalu mengajak istrinya untuk bersama-sama mengabdikan diri di keheningan malam yang kenikmatanya sungguh luar biasa. Demikian pula sang istri. Jika dirinya merupakan pribadi shalihah dengan kecerdasan spiritual yang juga handal, ia pun memiliki tekad yang sama dengan suaminya, ingin agar senantiasa bisa qiyam lail bersama.

Sepasang suami istri yang penuh berkah seperti ini, akan berusaha seberat apa pun, jika sudah bangun terlebih dahulu, untuk membangunkan pasangan hidupnya agar bersama bisa merengkuh kemuliaan di hadapan Rabb-nya. Meski untuk itu, salah satu dari keduanya harus memercikkan air kepada pasangan yang mungkin kadang merasa enggan untuk bangun.Tekad membara untuk mulia bersama inilah yang menumbuhkan rasa “tega”, memberikan percikan air kasih saying ke wajah kekasih hatinya, agar bersemangat untuk mengusir tiga selimut setan yang setiap malam senantiasa menghangatkan suasana malam sehingga tidur terasa sangat nyenyak.

Baca Juga:  Macam-Macam Hati (Qalb) (1)

Rasulullah SAW bersabda, “Allah merahmati seorang suami yang bangun di malam hari lalu ia shalat dan membangunkan istrinya, jika sang istri enggan, ia percikkan air ke wajahnya. Dan Allah merahmati seorang istri yang bangun di malam hari lalu dia shalat dan membangunkan suaminya, jika sang suami enggan, ia percikkan air pada wajahnya” (HR. Abu Dawud dalam Shahih Al-Targhib wa Al-Tarhib).

Betapa indahnya kehidupan suami istri yang digambarkan dalam hadis di atas. Mereka saling memiliki azam, yakni tekad yang kuat, untuk mendapatkan kemuliaan malam dengan shalat lail dan tidak rela membiarkan pasangannya terlelap dalam tidur panjang hingga subuh. Maka, percikan air kasih sayang, ia cipratkan untuk menjadikan pasangannya bangun melaksanakan amal mulia yang serupa. Keindahan semacam ini tidak akan terjadi, tanpa adanya kesepakatan dan tanpa adanya tekad mulia dari keduanya agar mereka dimasukkan ke dalam golongan yang banyak melakukan dzikir kepada Allah.

Nabi Muhammad saw bersabda, “Apabila seorang suami membangunkan istrinya di malam hari lalu mereka shalat dua rakaat, niscaya mereka dicatat tergolong ke dalam orang-orang yang banyak mengingat (Allah)” (HR. Abu Dawud dan lainnya).

Demikianlah gambaran suami istri teladan, yang rela mendapatkan percikan air kasih saying dari pasangannya, agar mereka beradua senantiasa mampu terjaga, melaksanakan ibadah malam yang sangat mulia, yang merupakan kebiasaan orang-orang shalih sejak zaman dahulu, dan merupakan amalan pencegah dosa dan kemaksiatan. []

*Penulis adalah kolumnis, tinggal di Magelang