Perbedaan Antara Al-Qur’an dan Mushaf


-6
4 shares, -6 points

Perbedaan Antara Al-Qur’an dan Mushaf

Indonesia sebagai negara yang mayoritas penduduknya muslim pasti lebih banyak terpengaruh istilah-istilah islami yang pada akhirnya menjadi bagian dari bahasa Indonesia. Sayangnya tidak semua kata-kata serapan tersebut ditransfer maknanya secara utuh. Hal ini berakibat pada kata serapan yang menjadi tidak sesuai ataukurang tepat dengan esensi yang dimaksud dalam bahasa sumber. Sebut saja kata‘Al-Quran’ dan kata‘Mushaf’. Dua istilah ini memiliki perbedaan sangat tipis yang tidak banyak diketahui oleh khalayak ramai. Bahkan masih banyak yang menganggap Al-Quran itu adalah mushaf.

Para ulama memiliki berbagai macam versi dalam mendefinisikan Al-Quran. Salah satu yang paling komprehensif dan disepakati oleh ulama dan pakar ushul ialah definisi yang termuat dalam kitab al-Tibyaan karya al-Shabuni,

yaitu ‘Kalam Allah yang diturunkan bagi Nabi Muhammad penutup para nabi melalui perantara Jibril yang tertulis dalam mushaf-mushaf dan sampai pada kita melalui jalur mutawatir yang membacanya dinilai ibadah dan urutannya dimulai dari surah Al Fatihah hingga surah Al Nas’. Sedangkan mushaf adalah ‘suatu lembaran-lembaran terjilid yang menghimpun ayat-ayat suci Al-Quran secara urut dan utuh’.

Kamus Besar Bahasa Indonesia sendiri mengartikan mushaf sebagai ‘bagian naskah Al-Quran yang bertulis tangan’. Penamaan mushaf bagi buku jilidan yang menghimpun ayat-ayat Al-Quran ini sebenarnya sudah ada sejak era awal Islam. Ada silang pendapat mengenai orang yang memberi nama mushaf. Dalam kitab al-Mashahif  karya al-Sajistani ada riwayat bahwa Nabi saw sendiri pernah menyebutkan redaksi mushaf. Menurut al-Suyuthi dalam Mu’tarak al-Aqraan juga al-‘Askari dalam al-Awaail, orang yang mencari nama mushaf adalah Abu Bakar al-Shiddiq. Sedangkan dalam pandangan al-Zarkasyi dalam kitab al-Burhaan, saudara kandung Abdullah bin Mas’ud yang bernama ‘Utbah bin Mas’ud-lah yang mengusulkan nama mushaf.Terlepas dari perbedaan pendapat tentang siapa pertama kali yang menamainya, mushaf merupakan nama yang sudah ada sejak abad pertama perkembangan Islam.

Baca Juga:  Memaknai Kisah-Kisah Al-Quran (Bagian-I)

Dari sini bisa diperbandingkan bahwa Al-Quran bukan berbentuk material sedangkan mushaf itu material. Riilnya, Al-Quran itu tidak bisa disentuh dan yang dapat disentuh itu mushaf. Lebih jelasnya, yang dibaca itu Al-Quran melalui media berupa mushaf. Namun kesalahan pemahaman ini sudah menjadi kesalahan umum. Orang yang berhadas kecil tidak diperkenankan memegang mushaf namun diperbolehkan membaca Al-Quran. Sedangkan siapapun yang berhadas besar dilarang membaca Al-Quran lebih-lebih lagi menyentuh mushaf. (Ali Fitriana)

 

 

 


Like it? Share with your friends!

-6
4 shares, -6 points

What's Your Reaction?

Tidak Suka Tidak Suka
2
Tidak Suka
Lucu Lucu
0
Lucu
Sedih Sedih
2
Sedih
Terkejut Terkejut
1
Terkejut
Wow Wow
4
Wow
Bingung Bingung
6
Bingung
Marah Marah
3
Marah
Suka Suka
31
Suka
Harakatuna

Harakatuna merupakan media dakwah yang mengedepankan nilai-nilai toleran, cerdas, profesional, kritis, faktual, serta akuntabel dengan prinsip utama semangat persatuan dan kesatuan bangsa yang berdasar pemahaman Islam: rahmat bagi semua makhluk di dunia.