Pemikiran Santri dalam Menghadapi Tantangan Zaman


0
8 shares
Istimewa

Setiap 22 Oktober kita memeringati Hari Santri Nasional (HSN). Sebuah peringatan yang tak bisa dilepaskan dari sejarah panjang tentang komitmen kebangsaan dan perjuangan kaum pesantren dalam perjuangan kemerdekaan bangsa. Di samping itu, peringatan yang ditetapkan melalui Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 22 Tahun 2015 tersebut juga harus terus dimaknai secara transformatif agar bisa memancarkan energi yang luas. Salah satunya, peringatan HSN harus bisa menjadi momentum bagi kaum pesantren untuk terus berkontribusi dalam pembangunan negeri.

 

Santri, dengan karakternya sebagai muslim yang saleh, hidup dalam tradisi yang sangat menghormati kiai, kerja keras dan sabar dalam proses belajar, serta tempaan untuk hidup mandiri, membuat santri memiliki bekal dan potensi besar untuk menjadi generasi yang kuat secara agama, pengetahuan, maupun mental dan karakter. Namun, zaman terus bergerak dengan segala tantangannya. Artinya, santri juga dituntut bisa menjawab berbagai problem yang dibawa perkembangan zaman. Dengan kata lain, santri harus punya pemikiran dan pandangan dalam menghadapi berbagai tantangan yang dihadapi masyarakat sekarang dan di masa depan.

 

Di buku ini, kita akan menemukan berbagi pemikiran santri Tasywiquth Thullab Salafiyah (TBS) Kudus yang kini telah banyak menempuh studi dan menjadi pengajar di berbagai perguruan tinggi. Buku yang juga diterbitkan untuk menyambut 90 tahun Madrasah TBS Kudus ini menyuguhkan beragam pemikiran kaum santri yang dituangkan lewat berbagai judul tulisan. Berbagai topik dibicarakan dan dikaji. Mulai dari berbagai kajian pemikiran dan keteladanan dari para kiai dan ulama besar di zaman dahulu, pemikiran santri tentang budaya, ekonomi, perkembangan ideologi transnasional, hingga respon di tengah era digital sekarang.

 

Berbagai ulasan tersebut menyimpan banyak wawasan penting untuk kita pahami dan diresapi di era sekarang. Misalnya, tentang semangat kesantrian dari para kiai, syaikh, atau ulama, yang menyimpan banyak pelajaran penting di era sekarang, terutama dalam hal adab, kesabaran, dan semangat dalam belajar. Seperti dituangkan Arif Chasanul Muna, dalam tulisan berjudul “Meneladani Kembali Semangat Kesantrian Syaikh ‘Abdul Hamid Kudus”. Syaikh ‘Abdul Hamid Kudus (1860-1915), tulis Arif, merupakan salah satu ulama keturunan Indonesia yang menetap di Makkah dan punya peran besar dalam transmisi berbagai ilmu keagamaan di Nusantara. Beliau adalah putera Syaikh Muhammad Ali Kudus, seorang alim dari Kudus.

Baca Juga:  Optimisme Kerukunan Beragama dalam Masyarakat Plural

 

Arif Chasanul Muna mendedahkan berbagai semangat kesantrian Syaikh Abdul Hamid yang penting diinternalisasikan pada diri santri-santri sekarang, bahkan masyarakat secara umum. Di antara semangat kesantrian tersebut adalah: semangat Rihlah fi Thalab al-Ilm, yaitu melakukan perjalanan menuntut ilmu ke berbagai tempat, selektif dalam memilih guru, semangat ngaji kitab mu’tabar, semangat menyambung sanad, dan semangat berkarya. Dari berbagai semangat kesantrian tersebut, kita belajar pentingnya semangat untuk terus belajar menuntut ilmu ke berbagai tempat dan banyak guru. Juga tentang pentingnya memilih guru yang benar-benar kompeten dengan ilmu yang ingin kita pelajari.

Hal tersebut penting dan relevan diresapi di era internet sekarang, di mana banyak orang berguru hanya melalui internet dan sumber-sumber yang belum jelas kredibilitasnya. Ahmad Fakhri Azizi, dalam tulisan berjudul “Mewaspadai Hadits Broadcast, Jadilah Smartperson”, menekankan pentingnya mewaspadai berbagai hadits broadcast yang kerap disebarkan di sosial media, namun kerap kali tak jelas sanad dan matan haditsnya. Alumni TBS tahun 2010 yang sedang studi di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta tersebut berharap agar santri bisa menjadi garda terdepan yang diandalkan masyarakat untuk berhati-hati dan lebih kritis dengan penyebaran hadits-hadits broadcast di sosial media.

Topik yang juga tak kalah penting adalah terkait perkembangan ideologi transnasional. Gerakan kelompok radikalisme-terorisme yang meresahkan juga harus menjadi perhatian penting bagi kalangan santri. Dengan karakternya sebagai sosok beragama yang santun, santri diharapkan bisa menjawab tantangan tersebut.

Di sini, Muhammad Autad an Nasher, mengajak kita semua untuk memerangi ideologi transnasional, baik secara fisik maupun non fisik. Secara fisik artinya secara langsung, salah satunya melalui jalur pendidikan dengan terus menanamkan semangat nasionalisme dan ide pribumisasi Islam yang lebih menekankan Islam sebagai nilai, bukan hukum formal untuk dijadikan ideologi negara.

Baca Juga:  Kurikulum Islam Indonesia: Khutbah-Khutbah Imam Besar

Kemudian, secara non-fisik artinya perang di dunia maya dengan adu gagasan. Jangan sampai dunia maya justru dikuasai narasi-narasi yang dibawa ideologi transnasional. Santri, dan umat muslim secara umum harus tampil di dunia maya agar penyebaran paham radikal-terorisme bisa diredam.

Terkait hal tersebut, Muhammad Izzul Mutho, memberikan pandangan tentang pentingnya terus menguatkan tradisi menulis di kalangan santri. Dengan menulis dan berkarya di media, pemikiran tentang beragama yang ramah dan toleran bisa diakses dan dibaca oleh masyarakat luas, sehingga membentengi umat Islam dari ideologi transnasional yang disebarkan oleh kelompok radikal-terorisme.

Di samping hal-hal tersebut, masih banyak pemikiran santri yang dihimpun di buku setebal lebih dari 300 halaman ini. Membacanya, tidak hanya membuat kita tahu tentang karakter santri, namun juga menyadarkan kita akan berbagai tantangan sekaligus peluang dan potensi kaum santri untut turut berkontribusi dalam menjawab berbagai problem dan tangan bangsa di berbagai sendi kehidupan.

Judul               : Santri Membaca Zaman; Percikan Pemikiran Kaum Pesantren

Penulis             : Santri TBS Kudus

Penerbit           : Santrimenara Pustaka

Cetakan           : 2016

Tebal               : x+312 halaman

ISBN               : 978-602-6791-93-1

*Peresensi: Al-Mahfud, penikmat buku, Lulusan STAIN Kudus (sekarang IAIN Kudus).


Like it? Share with your friends!

0
8 shares

What's Your Reaction?

Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Lucu Lucu
0
Lucu
Sedih Sedih
0
Sedih
Terkejut Terkejut
0
Terkejut
Wow Wow
0
Wow
Bingung Bingung
0
Bingung
Marah Marah
0
Marah
Suka Suka
0
Suka
Harakatuna

Harakatuna merupakan media dakwah yang mengedepankan nilai-nilai toleran, cerdas, profesional, kritis, faktual, serta akuntabel dengan prinsip utama semangat persatuan dan kesatuan bangsa yang berdasar pemahaman Islam: rahmat bagi semua makhluk di dunia.