Nabi Yusuf, Kemuliaan, dan Dakwah yang Ramah


Banyak kemuliaan dan hikmah dari kisah Nabi Yusuf As yang bisa kita teladani dan kita resapi. Di buku ini, Abd Rahem mengisahkan perjalanan hidup Nabi Yusuf As dengan bahasa indah sekaligus reflektif. Berbekal kisah dalam Al Quran, yakni Surat Yusuf yang terdiri dari 111 ayat, sekaligus berbagai tafsirnya, ia menyuguhkan kisah yang tak sekadar indah, namun juga menyentuh dan menggugah. Kita akan melihat bagaimana cobaan demi cobaan yang dihadapi Nabi Yusuf sejak kecil, hingga menginjak remaja, dan dewasa.

Dikisahkan, Nabi Yusuf merupakan putra Nabi Ya’kub As dan memiliki sebelas orang saudara. 10 saudara seayah (saudara tiri) dari tiga istri Nabi Ya’kub dan satu orang saudara seayah seibu (saudara kandung) dari istri Nabi Ya’kub bernama Rahil. Sepuluh saudara tiri tersebut menaruh kecemburuan pada Nabi Yusuf karena merasa kasih sayang Nabi Ya’kub terlalu besar ketimbang pada mereka. Kecemburuan tersebut menjadi awal mula cobaan demi cobaan hidup Nabi Yusuf.

Suatu ketika, sepuluh saudara tiri tersebut tega menyingkirkan Nabi Yusuf dengan menceburkannya dalam sumur. Nabi Yusuf pun ditemukan sekelompok musafir dan dijual sebagai budak, lalu dibeli seorang petinggi Mesir bernama Qitfir, yang memiliki istri bernama Zulaikha. Di rumah Qitfir, Nabi Yusuf dirawat dan menjadi remaja yang tumbuh dengan sangat baik. “Secara fisik dan psikologis, Nabi Yusuf mengalami perkembangan mengagumkan. Keluhuran akhlaknya dibarengi dengan parasnya yang rupawan,” tulis Abd Rahem.

Namun, ketampanan tersebut membawa persoalan baru ketika Zulaikha tak mampu membendung perasaannya pada Nabi Yusuf. Ketika sang suami tidak di rumah, istri petinggi Mesir itu menggoda Nabi Yusuf. Nabi Yusuf menghindar dan menjauh, namun Zulaikha mengejar hingga gamis Nabi Yusuf koyak karena ditarik Zulaikha dari belakang, sebelum akhirnya Qitfir memergoki keduanya. Qitfir geram. Zulaikha mengelak dan berbalik menuduh Nabi Yusuf yang hendak berbuat jahat padanya. Lewat kesaksian dari seseorang, akhirnya Qitfir sadar jika istrinya sendiri yang hendak berlaku tak pantas pada Nabi Yusuf. Qitfir meminta Nabi Yusuf melupakan kejadian tersebut dan menasihati istrinya.

Baca Juga:  Sosialisme-Marxisme dan Islam

Namun cinta Zulaikha masih membara. Ia tak menyerah. Di hadapan para tamu yang diundang untuk melihat ketampanan budaknya itu, Zulaikha mengancam Nabi Yusuf dengan penjara jika masih menolak cintanya. Tapi, Nabi Yusuf tak gentar. Ia memilih penjara ketimbang takhluk pada Zulaikha yang sudah buta karena cintanya. Baginya, penjara justru tempat pengasingan yang aman untuk menghindari bujuk rayu dan godaan wanita-wanita pembesar Mesir saat itu yang sama-sama takjub oleh ketampanannya (hlm 100). Meski dalam posisi sulit sebagai seorang budak yang disudutkan dan terancam, itu tak membuat Nabi Yusuf takhluk pada Zulaikha.

Penjara menjadi babak baru dalam hidup Nabi Yusuf. Setelah disingkirkan saudaranya sendiri, dirawat oleh tuannya hingga tumbuh dewasa, difitnah oleh tuannya, ia kembali harus menjalani masa-masa sulit di balik jeruji besi. Namun, rupanya penjara tak sedikit pun mengubahnya. Nabi Yusuf tetap sabar dan bersandar sepenuhnya pada Allah Swt. Di penjara, beliau bahkan tetap menjalankan dakwah. Ia menjalin persahabatan akrab dengan dua orang tahanan lain yang merupakan mantan pelayan minuman dan pembuat roti raja.

Bahkan, karena kebaikan Nabi Yusuf, kedua tahanan tersebut begitu mengagumi dan menaruh kepercayaan besar pada beliau. Pelan tapi pasti, Nabi Yusuf mengajak kedua temannya ke jalan tauhid dan menanamkan nilai-nilai ketuhanan pada mereka yang sebelumnya berlaku syirik. Di sinilah, ada hikmah berharga terkait bagaima menjalankan dakwah secara damai yang dilakukan oleh Nabi Yusuf kepada dua sahabatnya di penjara tersebut.

Dakwah ramah

Melalui sumber utama dari Surat Yusuf ayat 37-41 dan berbagai tafsir, seperti Tafsir asy-Syarawi dan Tafsir Al-Maraghi, penulis mengisahkan bagaimana Nabi Yusuf menjalin komunikasi intens dengan dua sahabatnya tersebut. Mula-mula, Nabi Yusuf yang diminta kedua tahanan itu menafsirkan mimpi mereka, tak langsung menjawab terkait mimpi. Nabi Yusuf menjelaskan kemampuannya membaca masa depan tak lain semata merupakan anugerah dari Allah Swt. Dari sini, Nabi Yusuf kemudian menegaskan tentang agama yang ia anut, yaitu dari garis ayahnya, kakeknya, dam buyutnya.

Baca Juga:  Sesederhana Mahar untuk Maharani

Setelah menegaskan, Nabi Yusuf melanjutkan dengan penjelasan mengenai ketauhidan; eksistensi Allah Swt, yang tiada sekutu apa pun bagi-Nya. Kemudian beliau memberi penekanan bahwa agama yang ia yakini merupakan karunia Allah Swt. tapi justru kebanyakan manusia tak menyadarinya sehingga enggan bersyukur. Kemudian, Nabi Yusuf menekankan lagi dalam bentuk pertanyaan; “Hai kedua penghuni penjara, manakah yang baik, tuhan-tuhan yang bermacam-macam itu ataukah Allah Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa?”  (QS. Yusuf [12]: 39).

Abd Rahem menulis, berdasarkan pertanyaan tersebut terlihat sapaan Nabi Yusuf terhadap dua sahabatnya di penjara itu, tidak lain membuktikan bagaimana beliau memuliakan dan menghargai mereka. Nabi Yusuf berupaya meminta keduanya untuk memikirkan perilaku kesyirikan (meyakini tuhan yang bermacam-macam) yang mereka lakukan dan memberi pertimbangan betapa sangat jauhnya itu dengan eksistensi Tuhan yang sebenarnya: Allah Yang Maha Esa sekaligus Perkasa. Nabi Yusuf di saat bersamaan memerintah mereka meninggalkan perilaku syirik dan mengajak mereka untuk mengesakan Tuhan Yang Maha Perkasa. “Dengan pertanyaan itu, Nabi Yusuf sedang memerankan tiga sikap; meminta tanpa permintaan, memerintah tanpa perintah, dan mengajak tanpa ajakan” (hlm 114).

Selanjutnya, dari pertanyaan, Nabi Yusuf melanjutkan dengan menerangkan tuhan-tuhan yang mereka yakini itu hanyalah ciptaan mereka sendiri. Pemberian nama-nama Tuhan mereka pun datang dari mereka sendiri yang diterima secara turun-temurun. Lalu, Nabi Yusuf menunjukkan eksistensi Tuhan yang sebenarnya, yaitu Dia yang memiliki keputusan atas segala perkara; Dia yang memerintahkan umat manusia untuk tidak menyembah selain-Nya.

Semua itu menggambarkan kelihaian komunikasi Nabi Yusuf dalam berdakwah. “Berbagai langkah komunikasi yang beliau lakukan mulai dari menggiring, menegaskan, menjelaskan, meminta, memerintah, mengajak, sampai pada menerangkan, sama sekali tidak mengesankan adanya pemaksaan, intimidasi, dan intervensi,” tulis Abd Rahem dalam kisahnya (hlm 116).

Baca Juga:  Membongkar Khilafah HTI dan Meneguhkan Pancasila

Setelah menjalani masa-masa dalam penjara, Nabi Yusuf akhirnya dibebaskan setelah terbukti tidak bersalah di pengadilan. Bahkan, Nabi Yusuf kemudian mendapatkan pangkat dan kemuliaan setelah membuat Raja Mesir terpesona oleh kecerdasan, kesabaran dan kehormatan yang begitu kuat dijaganya. Nabi Yusuf diangkat menjadi orang terdekat Raja dan berhasil memimpin rakyat Mesir menghadapi masa-masa paceklik kekurangan pangan.

Pada akhirnya, kisah Nabi Yusuf yang diungkap dalam buku ini memberi kita pelajaran tentang bagaimana tetap menjadi seseorang yang mulia dan berada di jalan Allah Swt. di tengah segala cobaan yang sangat berat. Karena selalu sabar dan bersandar sepenuhnya pada Allah Swt, Nabi Yusuf berhasil melewati berbagai cobaan, bahkan kemudian mendapatkan kemuliaan. Di samping itu, melalui cara beliau berkomunikasi dan mengajak kedua sahabatnya ke jalan tauhid saat di dalam penjara, terpancar hikmah tentang bagaimana berdakwah secara damai, penuh pengertian dan penghargaan, tanpa pemaksaan, apalagi kekerasan. Wallahu a’lam..

Judul               : Yusuf Zulaikha
Penulis             : Abd Rahem
Penerbit           : Diva Press
Catakan           : 1, Juli 2018
Tebal               : 244 halaman
ISBN               : 978-602-391-536-1

Peresensi         : Al-Mahfud, penimat buku, dari Pati.
menulis artikel dan ulasan buku di berbagai media massa.


Like it? Share with your friends!

What's Your Reaction?

Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Lucu Lucu
0
Lucu
Sedih Sedih
0
Sedih
Terkejut Terkejut
0
Terkejut
Wow Wow
0
Wow
Bingung Bingung
0
Bingung
Marah Marah
0
Marah
Suka Suka
1
Suka
Harakatuna

Harakatuna merupakan media dakwah yang mengedepankan nilai-nilai toleran, cerdas, profesional, kritis, faktual, serta akuntabel dengan prinsip utama semangat persatuan dan kesatuan bangsa yang berdasar pemahaman Islam: rahmat bagi semua makhluk di dunia.