31.3 C
Jakarta

Nabi Yusuf, Kemuliaan, dan Dakwah yang Ramah

Artikel Trending

Habib yang Menjamur

Dulu, saat saya kecil, di jalan-jalan tidak pernah terpampang baliho. Suasana damai sekali, bahkan tatkala gaduh pun, ya, paling itu karena persoalan biasa. Tidak...

Hukum Menyimpan Tali Pusar Bayi Menurut Islam

Tali pusar adalah jalan yang menghubungkan antara ibu dan bayinya ketika masih dikandungan. Tali pusar ini berfungsi untuk menyalurkan makanan dan oksigen dari ibu...

Ampuhnya Doa Orang Puasa

Berbicara tentang manjurnya doa orang puasa sejenak kita akan langsung tertuju pada sebuah hadis dalam Sunan Ibnu Majah yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Amr...

Rizieq Shihab Mati Langkah?

Pesta penyambutan kepulangan Rizieq Shihab berubah menjadi bencana bagi masa depan perjuangan politik Rizieq Shihab dan kawan-kawan. Belum genap satu bulan menginjak kaki di...

Makna Rahmat dalam Al-Qur’an Al-Karim

Rahmat terdiri dari tiga huruf râ’, hâ’, dan mîm. Menurut Ibnu Faris dalam Maqâyîs al-Lughah setiap kata Arab yang berakar dari tiga huruf râ’,...

Relasi Iman, Keadilan dan Demokrasi ala Cak Nur

Nurcholish Madjid, atau yang biasa dipanggil Cak Nur, dikenal luas sebagai salah satu cendekiawan Muslim terbesar di Indonesia. Pemikirannya merupakan suatu usaha untuk mencari...

Wudhu Menurut aL-Qur’an dan Sunah

Wudhu merupakan ritual penting dalam Islam untuk menjaga kesucian dalam beribadah. Perintah dan dasar landasan berwudhu berangkat dari firman Allah swt dalam QS al-Maidah...

Presiden Soekarno, Waliyul Amri Dhoruri Bi-Syaukah

Presiden Soekarno, Waliyul Amri Dhoruri Bi-Syaukah Usai Kuliah Subuh, para santri yang menonton tayangan Khazanah dari sebuah stasiun televisi terlibat kegaduhan karena saling berkomentar tentang...

Banyak kemuliaan dan hikmah dari kisah Nabi Yusuf As yang bisa kita teladani dan kita resapi. Di buku ini, Abd Rahem mengisahkan perjalanan hidup Nabi Yusuf As dengan bahasa indah sekaligus reflektif. Berbekal kisah dalam Al Quran, yakni Surat Yusuf yang terdiri dari 111 ayat, sekaligus berbagai tafsirnya, ia menyuguhkan kisah yang tak sekadar indah, namun juga menyentuh dan menggugah. Kita akan melihat bagaimana cobaan demi cobaan yang dihadapi Nabi Yusuf sejak kecil, hingga menginjak remaja, dan dewasa.

Dikisahkan, Nabi Yusuf merupakan putra Nabi Ya’kub As dan memiliki sebelas orang saudara. 10 saudara seayah (saudara tiri) dari tiga istri Nabi Ya’kub dan satu orang saudara seayah seibu (saudara kandung) dari istri Nabi Ya’kub bernama Rahil. Sepuluh saudara tiri tersebut menaruh kecemburuan pada Nabi Yusuf karena merasa kasih sayang Nabi Ya’kub terlalu besar ketimbang pada mereka. Kecemburuan tersebut menjadi awal mula cobaan demi cobaan hidup Nabi Yusuf.

Suatu ketika, sepuluh saudara tiri tersebut tega menyingkirkan Nabi Yusuf dengan menceburkannya dalam sumur. Nabi Yusuf pun ditemukan sekelompok musafir dan dijual sebagai budak, lalu dibeli seorang petinggi Mesir bernama Qitfir, yang memiliki istri bernama Zulaikha. Di rumah Qitfir, Nabi Yusuf dirawat dan menjadi remaja yang tumbuh dengan sangat baik. “Secara fisik dan psikologis, Nabi Yusuf mengalami perkembangan mengagumkan. Keluhuran akhlaknya dibarengi dengan parasnya yang rupawan,” tulis Abd Rahem.

Namun, ketampanan tersebut membawa persoalan baru ketika Zulaikha tak mampu membendung perasaannya pada Nabi Yusuf. Ketika sang suami tidak di rumah, istri petinggi Mesir itu menggoda Nabi Yusuf. Nabi Yusuf menghindar dan menjauh, namun Zulaikha mengejar hingga gamis Nabi Yusuf koyak karena ditarik Zulaikha dari belakang, sebelum akhirnya Qitfir memergoki keduanya. Qitfir geram. Zulaikha mengelak dan berbalik menuduh Nabi Yusuf yang hendak berbuat jahat padanya. Lewat kesaksian dari seseorang, akhirnya Qitfir sadar jika istrinya sendiri yang hendak berlaku tak pantas pada Nabi Yusuf. Qitfir meminta Nabi Yusuf melupakan kejadian tersebut dan menasihati istrinya.

Namun cinta Zulaikha masih membara. Ia tak menyerah. Di hadapan para tamu yang diundang untuk melihat ketampanan budaknya itu, Zulaikha mengancam Nabi Yusuf dengan penjara jika masih menolak cintanya. Tapi, Nabi Yusuf tak gentar. Ia memilih penjara ketimbang takhluk pada Zulaikha yang sudah buta karena cintanya. Baginya, penjara justru tempat pengasingan yang aman untuk menghindari bujuk rayu dan godaan wanita-wanita pembesar Mesir saat itu yang sama-sama takjub oleh ketampanannya (hlm 100). Meski dalam posisi sulit sebagai seorang budak yang disudutkan dan terancam, itu tak membuat Nabi Yusuf takhluk pada Zulaikha.

Penjara menjadi babak baru dalam hidup Nabi Yusuf. Setelah disingkirkan saudaranya sendiri, dirawat oleh tuannya hingga tumbuh dewasa, difitnah oleh tuannya, ia kembali harus menjalani masa-masa sulit di balik jeruji besi. Namun, rupanya penjara tak sedikit pun mengubahnya. Nabi Yusuf tetap sabar dan bersandar sepenuhnya pada Allah Swt. Di penjara, beliau bahkan tetap menjalankan dakwah. Ia menjalin persahabatan akrab dengan dua orang tahanan lain yang merupakan mantan pelayan minuman dan pembuat roti raja.

Bahkan, karena kebaikan Nabi Yusuf, kedua tahanan tersebut begitu mengagumi dan menaruh kepercayaan besar pada beliau. Pelan tapi pasti, Nabi Yusuf mengajak kedua temannya ke jalan tauhid dan menanamkan nilai-nilai ketuhanan pada mereka yang sebelumnya berlaku syirik. Di sinilah, ada hikmah berharga terkait bagaima menjalankan dakwah secara damai yang dilakukan oleh Nabi Yusuf kepada dua sahabatnya di penjara tersebut.

Dakwah ramah

Melalui sumber utama dari Surat Yusuf ayat 37-41 dan berbagai tafsir, seperti Tafsir asy-Syarawi dan Tafsir Al-Maraghi, penulis mengisahkan bagaimana Nabi Yusuf menjalin komunikasi intens dengan dua sahabatnya tersebut. Mula-mula, Nabi Yusuf yang diminta kedua tahanan itu menafsirkan mimpi mereka, tak langsung menjawab terkait mimpi. Nabi Yusuf menjelaskan kemampuannya membaca masa depan tak lain semata merupakan anugerah dari Allah Swt. Dari sini, Nabi Yusuf kemudian menegaskan tentang agama yang ia anut, yaitu dari garis ayahnya, kakeknya, dam buyutnya.

Setelah menegaskan, Nabi Yusuf melanjutkan dengan penjelasan mengenai ketauhidan; eksistensi Allah Swt, yang tiada sekutu apa pun bagi-Nya. Kemudian beliau memberi penekanan bahwa agama yang ia yakini merupakan karunia Allah Swt. tapi justru kebanyakan manusia tak menyadarinya sehingga enggan bersyukur. Kemudian, Nabi Yusuf menekankan lagi dalam bentuk pertanyaan; “Hai kedua penghuni penjara, manakah yang baik, tuhan-tuhan yang bermacam-macam itu ataukah Allah Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa?”  (QS. Yusuf [12]: 39).

Abd Rahem menulis, berdasarkan pertanyaan tersebut terlihat sapaan Nabi Yusuf terhadap dua sahabatnya di penjara itu, tidak lain membuktikan bagaimana beliau memuliakan dan menghargai mereka. Nabi Yusuf berupaya meminta keduanya untuk memikirkan perilaku kesyirikan (meyakini tuhan yang bermacam-macam) yang mereka lakukan dan memberi pertimbangan betapa sangat jauhnya itu dengan eksistensi Tuhan yang sebenarnya: Allah Yang Maha Esa sekaligus Perkasa. Nabi Yusuf di saat bersamaan memerintah mereka meninggalkan perilaku syirik dan mengajak mereka untuk mengesakan Tuhan Yang Maha Perkasa. “Dengan pertanyaan itu, Nabi Yusuf sedang memerankan tiga sikap; meminta tanpa permintaan, memerintah tanpa perintah, dan mengajak tanpa ajakan” (hlm 114).

Selanjutnya, dari pertanyaan, Nabi Yusuf melanjutkan dengan menerangkan tuhan-tuhan yang mereka yakini itu hanyalah ciptaan mereka sendiri. Pemberian nama-nama Tuhan mereka pun datang dari mereka sendiri yang diterima secara turun-temurun. Lalu, Nabi Yusuf menunjukkan eksistensi Tuhan yang sebenarnya, yaitu Dia yang memiliki keputusan atas segala perkara; Dia yang memerintahkan umat manusia untuk tidak menyembah selain-Nya.

Semua itu menggambarkan kelihaian komunikasi Nabi Yusuf dalam berdakwah. “Berbagai langkah komunikasi yang beliau lakukan mulai dari menggiring, menegaskan, menjelaskan, meminta, memerintah, mengajak, sampai pada menerangkan, sama sekali tidak mengesankan adanya pemaksaan, intimidasi, dan intervensi,” tulis Abd Rahem dalam kisahnya (hlm 116).

Setelah menjalani masa-masa dalam penjara, Nabi Yusuf akhirnya dibebaskan setelah terbukti tidak bersalah di pengadilan. Bahkan, Nabi Yusuf kemudian mendapatkan pangkat dan kemuliaan setelah membuat Raja Mesir terpesona oleh kecerdasan, kesabaran dan kehormatan yang begitu kuat dijaganya. Nabi Yusuf diangkat menjadi orang terdekat Raja dan berhasil memimpin rakyat Mesir menghadapi masa-masa paceklik kekurangan pangan.

Pada akhirnya, kisah Nabi Yusuf yang diungkap dalam buku ini memberi kita pelajaran tentang bagaimana tetap menjadi seseorang yang mulia dan berada di jalan Allah Swt. di tengah segala cobaan yang sangat berat. Karena selalu sabar dan bersandar sepenuhnya pada Allah Swt, Nabi Yusuf berhasil melewati berbagai cobaan, bahkan kemudian mendapatkan kemuliaan. Di samping itu, melalui cara beliau berkomunikasi dan mengajak kedua sahabatnya ke jalan tauhid saat di dalam penjara, terpancar hikmah tentang bagaimana berdakwah secara damai, penuh pengertian dan penghargaan, tanpa pemaksaan, apalagi kekerasan. Wallahu a’lam..

Judul               : Yusuf Zulaikha
Penulis             : Abd Rahem
Penerbit           : Diva Press
Catakan           : 1, Juli 2018
Tebal               : 244 halaman
ISBN               : 978-602-391-536-1

Peresensi         : Al-Mahfud, penimat buku, dari Pati.
menulis artikel dan ulasan buku di berbagai media massa.

Harakatuna
Harakatuna
Harakatuna.com merupakan media dakwah berbasis keislaman dan kebangsaan yang fokus pada penguatan pilar-pilar kebangsaan dan keislaman dengan ciri khas keindonesiaan. Transfer Donasi ke Rekening : BRI 033901002158309 a.n PT Harakatuna Bhakti Ummat

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Artikel Terbaru

900 Pejuang Suriah Pulang dari Nagorno Karabakh

Harakatuna.com. Damaskus - Lebih dari 900 pejuang Suriah pro-Turki telah kembali ke negara itu setelah berakhirnya pertempuran di daerah sengketa Nagorno-Karabakh. Hal itu diungkapkan pengawas perang Suriah yang...

Permohonan Maaf Habib Rizieq Bukti Revolusi Akhlak?

Kelihatannya memang benar, meski tak sepenuhnya setuju, bahwa kedatangan Habib Rizieq, sosok yang disebut sebagai Imam Besar ini, tidak lain sebagai salah satu faktor...

Revolusi Akhlak Butuh Wali Mursyid Bukan Imam Besar

Pidato Rizieq Shihab pada acara Reuni Aksi Bela Islam 212 kemarin, terlihat daya juang Rizieq Shihab mulai melemah. Dari suaranya, seperti orang sedang sakit....

Tidak Ada Toleransi Bagi Teroris

Harakatuna.com. Jakarta - Ketua MPR RI Bambang Soesatyo menegaskan tidak ada toleransi bagi teroris di Poso, Sulawesi Tengah, yang dilakukan kelompok Mujahidin Indonesia Timur...

Hukum Mengakses Wifi Tanpa Izin, Haramkah?

Di zaman serba canggih ini, kebutuhan akan akses internet sangat meningkat. Akses internet telah menjadi kebutuhan pokok yang harus dipenuhi layaknya kebutuhan sandang, papan...

Kampus Harus Berani Suarakan Kewaspadaan Penyebaran Paham Radikal

Harakatuna.com. Medan – Perguruan tinggi dengan para akademisinya aktif menyuarakan kewaspadaan penyebaran paham radikal intoleran serta memberikan pembelajaran literasi digital kepada mahasiswa dan generasi...

Melihat Poros Radikalisme di Tubuh Pendidikan dan Tafsir Remoderasinya

Bukan barang aneh dan baru di tubuh pendidikan tercemari paham radikalisme. Keterlibatan dan bersemayam paham radikal sudah lama dan nampaknya seolah menjadi model di...

Ideologi Teroris dan Cara Memberantasnya

Ideologi teroris dan sikapnya dalam dasawarsa mutakhir ini semakin memiriskan. Pemenggalan demi pemenggalan atas nama agama mereka lakukan. Sungguh begitu banyak contoh untuk dibeberkan atau...