Moral di Era Millenial


Murid memukul dan menganiaya guru? Murid menjadikan guru seperti penyanyi dangdut yang butuh saweran? Atau bahkan murid membunuh gurunya sendiri. Itulah sekelumit fenomena di abad 21 ini, guru yang seharusnya dihormati, disegani dan dihargai eksistensinya tapi malah tak ada harganya.

Bukankah guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa? Dan seorang pahlawan tidak selayaknya mendapat perlakuan seperti itu. What happen? Apa yang sebenarnya terjadi? Apakah dunia sudah mengalami keterbalikan. Namun itulah kenyataan yang tidak bisa dipungkiri baik dari kalangan individu sendiri maupun dari masyarakat.

Murid-murid zaman ini jika dinasehati akan membantah, jika dihukum akan melawan dan bagi mereka peraturan itu dibuat untuk dilanggar. Begitulah sudut pandang murid saat ini yang sudah terkontaminasi dengan berbagai faktor baik yang dari dalam ataupun budaya luar dan juga IPTEK. Mereka bisa mengakses apapun yang mereka mau di internet dengan bebas tanpa harus bersusah payah, sedangkan orang tuanya sibuk bekerja mencari nafkah dan mengumpulkan harta benda sebanyak-banyaknya tanpa peduli kepada perkembangan anak.

Dan terkadang asisten rumah tangganya menjadi sasaran empuk untuk menjadi agent of baby sister atau orang yang mengasuh anak tersebut hingga dewasa. Sekalipun ada yang mengawasi perkembangan anak tetap saja hasilnya tidak maksimal karena yang dibutuhkan anak hanyalah kasih sayang dan perhatian langsung dari orang tuanya bukan orang lain.

Dan saat anak tidak mendapatkan keinginan dan hasratnya tersebut maka dia akan berusaha mencari pelarian di luar keluarganya atau mencari perhatian dari orang lain yang bukan orang tuanya karena saat berada dirumahnya sendiri, keluarga seoalah mengabaikannya.

Dari pergaulan dengan orang lain inilah yang akan menjadi salah satu faktor penentu karakter anak, ketika dia bergaul dengan orang yang baik maka otomatis dia akan ketularan baiknya dan ketika dia bergaul dengan orang yang buruk maka secara tidak langsung karakter anak juga akan seperti itu. Hal ini sesuai dengan sabda Rosululloh yang artinya : “ Permisalan teman yang baik itu seperti penjual minyak wangi, meskipun kita tidak membelinya tapi kita dapat merasakan aroma harum baunya. Sedangkan permisalan teman yang buruk itu seperti seorang pandai besi sekalipun kita tidak mendekatinya tapi kita akan menghirup aroma asapnya yang tidak sedap”.

Nah dari sinilah mulai muncul bibit-bibit pertentangan dari sang anak karena orang tuanya terlalu sibuk dan tidak memantau ruang lingkup pergaulan anak, baik dari segi teman, media elektronik seperti internet dan lainnya, maupun dari segi lingkungan.

Baca Juga:  Bahaya Laten Radikalisme di Kampus

Orang tua juga melepas begitu saja kepercayaan kepada sekolah seolah seperti bengkel yang akan memperbaiki moral dan akhlak anak ketika menyimpang, namun faktanya tidak demikian sekolah hanyalah fasilitator dan pendidikan utama dan yang paling pertama adalah keluarganya.

Keluarga mempunyai presentasi terbesar dalam mempengaruhi perkembangan pendidikan anak, saat harmonis tentu anak akan terlihat tenang dan aroma kenyamanan terpancar dari wajahnya. Kalau keluarganya broken lalu sibuk dengan urusan nya masing-masing tanpa peduli dengan kebutuhan dan kondisi anak maka akan terlihat kegelisahan dan terpancar kemurungan dari mukanya sang anak.

Sampai-sampai saat anaknya mendapat nilai jelekpun, orang tua harus mecari tempat pembelajaran privat untuk anaknya agar mendapat nilai bagus, tapi adakah yang mau memprivatkan anaknya saat akhlaknya buruk dan menyimpang? Tentu saja tidak. Kebanyakan orang tua lebih mementingkan intelektual ketimbang moral, sehingga tidak banyak murid-murid sekarang yang nilai intelektualnya bagus namun dari segi moral dan akhlak nol besar. Mengingat sudut pandang orang tua dengan berbagai kesibukannya ingin agar anaknya pintar walhasil moralnyapun jadi terkesampingkan.

Tidak hanya itu, anggapan orang tua yang menjadikan sekolah sebagai tempat perbaikan atau bengkel bagi anak-anaknya menambah pundi-pundi bibit murid yang berani kepada guru. Dari guru sendiri pun terdapat beberapa kendala dan faktor yang mempengaruhi baik akhlak mapun moral anak, diantaranya guru yang sukanya menghukum dengan kekerasan baik itu pemukulan atau yang menyangkut fisik lainnya, secara tidak langsung anak akan meniru apa yang dilakukan guru tersebut.

Seperti cerita di film dilan 1990 yang menayangkan dia memukul dan memberontak kepada Pak Suroto gurunya yang biasanya menghukum murid dengan kekerasan. Itu salah satu contoh yang memberikan kita pelajaran bahwa murid akan mengikuti jejak gurunya dalam menjadikan kekerasan di lingkungan pendidikan yang seolah adalah hal biasa. Bagi murid, guru adalah seorang figur dan teladan jika mendidik muridnya dengan bijak, baik dan halus tentu kelak anak muridnya melakukan hal yang sama, begitu juga kebalikannya.

Baca Juga:  Berebut Ulama

Faktor lainnya adalah adanya undang-undang perlindungan anak yang menjadikan murid terasa memiliki angin segar dan bisa melakukan apapun karena merasa terbentengi, sedangkan guru memiliki rasa khawatir dan takut saat melakukan penghukuman sehingga dalam mendidik muridnyapun terasa terkekang dan tidak bebas. Ketika murid melakukan salah atau perilaku yang menyimpang seperti merokok saat pelajaran berlangsung seharusnya guru langsung menegur dan melakukan pendekatan agar apa yang disampaikan bisa diterima dengan baik oleh murid.

Di zaman milleneal ini, menegur saja tidak cukup harus dilakukan berbagai pendekatan dan berbagai macam hal untuk mengetahui psikis anak. Jadi guru juga harus mengupgrade mind-setnya yang dulunya berpikir bahwa murid hanya bertugas mendengarkan, mencatat dan melaksanakan perintah guru.

Namun murid sekarang itu lebih hyperactive dan selalu ingin menunjukan kepada dunia dengan semboyan it’s me dan lebih suka diakui keberadaannya sehingga di zaman ini banyak murid melakukan hal-hal aneh dalam tanda kutip negatif agar eksistensinya diakui. Dan menurut mereka itu merupakan sesuatu yang keren dari pada hanya nurut dan mengikuti apa yang dikatakan guru pasti nanti akan dicap dengan ketinggalan zaman dan juga kudet.

Rasa seperti itulah yang menimbulkan fenomena murid berani melawan gurunya ditambah lagi proses belajar mengajar yang disebut student learning. Seolah olah semua kendali itu diserahkan murid, dan dia bebas berbuat sesuka hati dalam proses pembelajarannya bersama guru.

Padahal sama sekali tidak, Student learning harus mempunyai batasan  sekalipun murid adalah pemeran utamanya namun guru di sini adalah sebagai pengarah plus fasilitator yang akan menuntun murid kepada hal-hal yang lebih bisa mengembangkan potensinya.

Maka ruang gerak murid jadi terkondisikan dan tidak menjorok ke hal-hal negatif. Sebagai guru, hendaknya memperhatikan moral dan akhlak lebih dulu sebelum mendidik dan mengembangkan potensinya apalagi intelektualnya. Hal ini senada dengan sabda rosul yang artinya “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia”.

Mau jadi apa bangsai ini kedepannya, jika baik dari pihak dalam yaitu keluarga maupun sekolah sama-sama lebih mengutamakan potensi dan intelektualnya ketimbang moral dan akhlak? Belum lagi adanya serangan dari luar baik dari lingkungan, budaya maupun IPTEK.

Baca Juga:  Awal Mula Munculnya Gerakan HTI di Indonesia

*Abid Nurhuda, mahasiswa Pendidikan Agama Islam FIT IAIN Surakarta Sekaligus Musyrif PPTQ Abi-Umi.


Like it? Share with your friends!

What's Your Reaction?

Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Lucu Lucu
0
Lucu
Sedih Sedih
0
Sedih
Terkejut Terkejut
0
Terkejut
Wow Wow
0
Wow
Bingung Bingung
0
Bingung
Marah Marah
0
Marah
Suka Suka
0
Suka
Harakatuna

Harakatuna merupakan media dakwah yang mengedepankan nilai-nilai toleran, cerdas, profesional, kritis, faktual, serta akuntabel dengan prinsip utama semangat persatuan dan kesatuan bangsa yang berdasar pemahaman Islam: rahmat bagi semua makhluk di dunia.