32.8 C
Jakarta

Menumbuhkan Literasi Keagamaan yang Moderat

Artikel Trending

Habib yang Menjamur

Dulu, saat saya kecil, di jalan-jalan tidak pernah terpampang baliho. Suasana damai sekali, bahkan tatkala gaduh pun, ya, paling itu karena persoalan biasa. Tidak...

Rizieq Shihab Mati Langkah?

Pesta penyambutan kepulangan Rizieq Shihab berubah menjadi bencana bagi masa depan perjuangan politik Rizieq Shihab dan kawan-kawan. Belum genap satu bulan menginjak kaki di...

Hukum Menyimpan Tali Pusar Bayi Menurut Islam

Tali pusar adalah jalan yang menghubungkan antara ibu dan bayinya ketika masih dikandungan. Tali pusar ini berfungsi untuk menyalurkan makanan dan oksigen dari ibu...

Ampuhnya Doa Orang Puasa

Berbicara tentang manjurnya doa orang puasa sejenak kita akan langsung tertuju pada sebuah hadis dalam Sunan Ibnu Majah yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Amr...

Relasi Iman, Keadilan dan Demokrasi ala Cak Nur

Nurcholish Madjid, atau yang biasa dipanggil Cak Nur, dikenal luas sebagai salah satu cendekiawan Muslim terbesar di Indonesia. Pemikirannya merupakan suatu usaha untuk mencari...

Makna Rahmat dalam Al-Qur’an Al-Karim

Rahmat terdiri dari tiga huruf râ’, hâ’, dan mîm. Menurut Ibnu Faris dalam Maqâyîs al-Lughah setiap kata Arab yang berakar dari tiga huruf râ’,...

Bagaimana Hukum Memberi Nasehat dalam Islam?

Tahukah kalian, mengapa agama merupakan suatu nasehat? Kehidupan seseorang bisa berubah dengan nasehat anda. Jalan kehidupan seseorang juga bisa berubah sedemikian baik lantaran duduk...

Presiden Soekarno, Waliyul Amri Dhoruri Bi-Syaukah

Presiden Soekarno, Waliyul Amri Dhoruri Bi-Syaukah Usai Kuliah Subuh, para santri yang menonton tayangan Khazanah dari sebuah stasiun televisi terlibat kegaduhan karena saling berkomentar tentang...

Sudah menjadi rahasia umum bahwa masyarakat kita memiliki tingkat minat baca yang rendah. Tentu ini bukan omong kosong belaka. Hasil laporan Programme for International Student Assessment (PISA) menunjukkan indeks literasi membaca kita hanya naik satu poin, dari 396 pada 2012 menjadi 397 pada laporan 2015.
Selain itu data United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) pada 2016, di lingkup dunia ada sekitar 263 juta anak putus sekolah yang minim kemampuan literasi dasar. Masalah terbesarnya adalah, mampukan kita mencipta khazanah literasi moderat.

Dari lanskap global, indeks literasi warga Indonesia berada pada anak tangga bawah. Data statistik dari UNESCO, Indonesia berada di peringkat 60 dari total 61 negara, yang berada dalam indeks literasi internasional. Negeri ini berada pada tingkat literasi rendah, di bawah peringkat negara-negara Asia Tenggara dan satu peringkat di atas Botswana. Dengan kondisi demikian, tidak heran jika masyarakat kita mudah sekali terpancing dengan berita-berita yang tidak jelas kebenarannya (hoaks). Menghasilkan perdebatan tanpa henti bahkan menyentuh diskursus tentang keagamaan. Dalam beberapa tahun terakhir, agama seringkali dijadikan medan kontestasi isu serta pertempuran melawan narasi keindonesiaan.

Survei PPIM UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang dipublikasi pada akhir 2017 mengungkap alarm bagi kebhinekaan dan keindonesiaan kita. Survei ini merilis narasi kebencian yang demikian bergelombang dalam denyut nadi. Peneliti PPIM mewawancara guru PAI (Pendidikan Agama Islam), dosen PAI, siswa serta mahasiswa di seluruh Indonesia. Survei ini melibatkan 2181 responden dari 35 provinsi, 68 kabupaten/kota, terdiri dari 264 guru, 58 dosen, 1522 siswa dan 337 mahasiswa.

Dari survei ini, teknologi digital dan media sosial menjadi instrumen penting persebaran informasi. Sebanyak 54,87 persen generasi milenial mengakui bahwa sumber pengetahuan agama mereka dari internet dan media sosial. Pendidikan agama, tidak hanya bersumber dari pendidikan formal di sekolah dan universitas, namun juga dari ustaz-ulama yang memiliki akun interaktif di media sosial.

Minimnya Literasi Moderat di Lingkungan Pendidikan

Narasi yang terbangun dalam lanskap keagamaan, terungkap betapa kebencian tersebar tanpa didasari pemahaman komprehensif atas liyan. Sebanyak 64,66 persen guru dan dosen memandang Ahmadiyah sebagai aliran Islam yang dibenci. Sementara, Syiah berada pada peringkat kedua sebagai aliran yang tidak disukai, pada skor 55,6 persen. Pada sisi lain, 44,72 persen guru dan dosen tidak setuju jika pemerintah melindungi Syiah dan Ahmadiyah.

Pada lingkaran siswa dan mahasiswa, pendidikan agama menjadi pintu masuk memahami keragaman dan cara pandang mereka terhadapa perbedaan. Ironisnya, sebanyak 48,95 persen responden menyebut bahwa pendidikan agama mempengaruhi mereka untuk tidak bergaul dengan pemeluk agama lain. Sementara, 58,5 persen responden siswa dan mahasiswa memiliki cara pandang keagamaan yang radikal.

Data ini menunjukkan gejala serius yang tidak bisa dianggap remeh. Setidaknya dalam beberapa tahun terakhir, kita mundur beberapa langkah dalam konteks literasi keagamaan yaitu berupa ketidaksanggupan memahami perbedaan. Islam bagi mereka para penjustifikasi, Islam atau tidaknya orang lain adalah Islam harus sesuai standar yang mereka anut. Islam yang text minded berputar disekitar dalil naqli seraya menginjak-injak akal dan nalar jika itu dianggap bertentangan dengan teks-teks suci yang mereka anut dan mereka tafsirkan secara dangkal.

Islam bagi mereka adalah Islam yang marah, ngamukan dan tersulut sumbunya bila disenggol, semakin pendek sumbunya maka dianggap semakin besar ghirah (semangat) jihadnya. Mereka tidak pernah mau tahu dengan moderatisme dan toleransi, karena bagi mereka bersikap toleran dan menjunjung pluralitas adalah liberal dan penghianatan pada kaffahnya beragama. Semakin fanatik maka semakin kaffah, semakin ashobiyyah (fanatik buta) semakin dianggap membela agama.

Sehingga siapapun yang berislam dengan penafsiran sesuai dengan mereka adalah pengikut Qur’an dan Sunnah. Sementara yang berbeda dari apa yang mereka dan para ulama mereka anut adalah kaum ingkar sunnah, dan tempatnya pasti neraka. Sungguh betapa mengerikannya pemahaman seperti ini.

Oleh karena itu, kita perlu oksigen penyegaran dari literasi keagamaan yang menghargai kebhinekaan, memandang perbedaan perbedaan (khilafiyyah) sebagai rahmah. Kita membutuhkan penyegaran literasi keagamaan yang mencakup literasi keindonesiaan di dalamnya.

Harakatuna
Harakatuna
Harakatuna.com merupakan media dakwah berbasis keislaman dan kebangsaan yang fokus pada penguatan pilar-pilar kebangsaan dan keislaman dengan ciri khas keindonesiaan. Transfer Donasi ke Rekening : BRI 033901002158309 a.n PT Harakatuna Bhakti Ummat

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Artikel Terbaru

Serial Kebangsaan (I): Spirit Kebangsaan dan Kelalaian FPI

Sekitar semingguan kemarin, saya dapatkan sebuah buku yang cukup menarik dan tentunya masih relevan dibaca di era sekarang, apalagi buku ini baru saja launching....

Bom Mobil Meledak di Afghanistan, 30 Petugas Keamanan Tewas

Harakatuna.com. Ghazni-Sebuah mobil berisi bom meledak di Provinsi Ghazni, Afghanistan. Setidaknya 30 aparat keamanan tewas akibat ledakan tersebut. Seperti dilansir Reuters, Senin (30/11/2020), Direktur Rumah...

Uang Kertas Mengalami Perubahan Nilai, Bagaimana dengan Mekanisme Pembayaran Hutang?

Sudah kita ketahui bersama bahwa seiring perubahan zaman maka berubah pula nilai sebuah mata uang. Terdapat beberapa kasus yang memiliki inti permasalahan sama, yakni...

Eks Napiter, Haris Amir Falah Sebut Paham Radikalisme Mengancam Pancasila

Harakatuna.com. Solo – Munculnya paham radikalisme ekstrem yang tersebar di wilayah Indonesia mengancam Pancasila dan kedaulatan NKRI. Hal ini perlu diantisipasi, mengingat mereka telah...

Wanita dalam Pusaran Aksi Radikalisme dan Terorisme

Berbagai aksi terorisme dan radikalisme dalam beberapa dasawarsa ini kain “subur” terlebih di era milenial ini. Bergama aksi teror di Indonesia semakin banyak terjadi...

Hayya ‘Alal Jihad, Mari Berjihad Berantas FPI!

Boleh jadi, setelah membaca tulisan ini, atau sekadar membaca judulnya saja, Hayya ‘Alal Jihad, sementara orang akan berkomentar: “Bocah kemarin sore kok mau bubarkan...

Israel Musnahkan Tangga Bersejarah Masjid Al-Aqsa

Harakatuna.com. Yerusalem - Pemerintah Kota Yerusalem Israel menghancurkan tangga bersejarah yang mengarah ke Bab Al-Asbat, Masjid Al-Aqsa dan Kota Tua Yerusalem. Penghancuran tangga bersejarah ini...