Membaca Peran Global Islam dalam Tatanan Dunia Kontemporer

Artikel Trending

KhazanahResensi BukuMembaca Peran Global Islam dalam Tatanan Dunia Kontemporer
Judul Buku: Islam dan Hubungan Internasional, Penulis: Rizki Damayanti, Penerbit: Wawasan Ilmu, Kota Terbit: Banyumas, Tahun Terbit: Maret 2025, Tebal Buku: 229 halaman, ISBN: 978-623-132-457-3, Peresensi: Heri Surahman.

Harakatuna.com – Dalam pusaran studi hubungan internasional (HI) kontemporer, Islam kerap ditempatkan dalam posisi yang paradoks. Di satu sisi, ia direduksi menjadi faktor sekunder identitas kultural yang dianggap kurang relevan dalam analisis kekuasaan yang realistik. Di sisi lain, ketika dibahas, Islam hanya dikaitkan dengan isu keamanan, terorisme, atau konflik Timur Tengah, sehingga melahirkan perspektif yang timpang dan tidak utuh.

Di tengah kegelisahan akademik itulah, buku Islam dan Hubungan Internasional karya Rizki Damayanti hadir sebagai kerja penting untuk menjembatani kesenjangan tersebut.

Karya ini layak mendapat apresiasi karena menempati posisi yang selama ini relatif kosong dalam literatur HI berbahasa Indonesia. Selama ini, kajian tentang Islam dan dunia global lebih banyak tersebar dalam artikel jurnal internasional atau bagian dari buku asing yang belum tentu mudah diakses oleh mahasiswa atau publik Indonesia.

Buku ini menjawab kebutuhan tersebut dengan pendekatan akademis yang kokoh namun tetap komunikatif. Lebih dari sekadar pengantar, buku ini menyusun narasi yang utuh tentang bagaimana Islam dapat dipahami sebagai bagian integral dari dinamika hubungan internasional.

Rizki Damayanti, penulisnya, tampaknya memahami betul kompleksitas isu ini. Sebagai akademisi, ia tidak terjebak dalam narasi apologetik yang romantik, juga tidak jatuh pada kritisme ala orientalis yang penuh curiga. Ia memilih jalan tengah yang produktif: menjadikan Islam sebagai perspektif analitis untuk membaca fenomena global.

Hal ini terlihat dari bagaimana ia menyusun buku ini secara sistematis dalam sepuluh bab yang saling terkait, mulai dari sejarah hubungan Islam dan HI, diplomasi modern, organisasi internasional, keamanan, ekonomi global, hingga isu HAM dan lingkungan. Setiap bab ditulis dengan gaya yang mengalir, padat informasi, namun tetap membuka ruang diskusi.

Pada bagian awal, penulis meletakkan fondasi historis yang kokoh. Ia menunjukkan bahwa keterlibatan Islam dalam politik dunia bukanlah fenomena baru pasca-9/11. Sejak masa kenabian, praktik diplomasi dan hubungan antarentitas telah berlangsung melalui mekanisme seperti perjanjian, pengiriman utusan, dan hukum perang yang kemudian dikenal dalam tradisi siyar (hukum internasional Islam).

Argumen ini penting untuk membongkar asumsi bahwa Islam baru “masuk” ke HI setelah negara-bangsa modern terbentuk. Penulis berhasil menunjukkan bahwa peradaban Islam memiliki pengalaman panjang dalam membangun hubungan lintas bangsa dan budaya, yang sayangnya kerap terabaikan dalam narasi arus utama HI.

Separuh pertama buku kemudian bergerak ke ranah yang lebih kontemporer. Penulis mengupas secara mendalam bagaimana Islam berinteraksi dengan institusi-institusi global. Analisis mengenai peran Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) misalnya, tidak hanya dideskripsikan secara permukaan, tetapi dikaji dalam konteks efektivitasnya sebagai instrumen kolektif negara-negara Muslim.

Penulis juga menyoroti dilema yang dihadapi negara-negara Muslim ketika harus menyeimbangkan antara komitmen keislaman dan kepatuhan pada norma-norma universal PBB. Pertanyaan-pertanyaan seperti “Sejauh mana OKI menjadi suara kolektif umat?” atau “Apakah negara Muslim mampu mendorong perubahan dalam sistem internasional yang didominasi Barat?” dijawab dengan analisis yang tajam dan berbasis data.

Salah satu kekuatan utama buku ini terletak pada keberaniannya memasuki isu-isu substantif seperti keamanan internasional, ekonomi global, hak asasi manusia, dan lingkungan. Dalam bab tentang Islam dan Keamanan Internasional, penulis tidak sekadar mengutuk terorisme, tetapi membedah akar konseptualnya. Ia menjelaskan secara jernih bagaimana konsep jihad yang sering disalahpahami, sejatinya memiliki aturan etik yang ketat dan sangat berbeda dengan praktik kekerasan yang mengatasnamakan agama.

BACA JUGA  Iran-Pakistan: Antara Kedaulatan Regional dan Bayang-bayang AS

Analisis semacam ini penting di tengah maraknya islamofobia global. Penulis juga menyoroti bagaimana negara-negara Muslim sering menjadi korban sekaligus aktor dalam pusaran keamanan global, dan bagaimana pendekatan keamanan yang inklusif dapat dikembangkan dari perspektif Islam.

Demikian pula dalam bab Islam dan Ekonomi Global serta Islam dan Hak Asasi Manusia. Penulis memperlihatkan bahwa Islam memiliki konsep etis yang dapat berkontribusi pada tatanan ekonomi dunia yang lebih berkeadilan, seperti larangan riba dan penekanan pada zakat. Ia juga membahas potensi sistem keuangan syariah dalam merespons krisis ekonomi global yang kerap dipicu oleh spekulasi dan ketimpangan struktural.

Dalam soal HAM, ia menunjukkan titik-titik temu antara nilai-nilai Islam dan Deklarasi Universal HAM, sembari mengakui adanya ketegangan yang masih harus dinegosiasikan. Pendekatan yang jujur dan tidak dogmatis ini membuat analisisnya terasa segar dan kredibel. Penulis tidak lantas mengatakan bahwa Islam dan HAM sepenuhnya selaras, tetapi juga tidak menempatkan keduanya dalam posisi berseberangan secara mutlak. Ia justru membuka ruang dialog untuk mencari sintesis yang lebih manusiawi dan kontekstual.

Bagian akhir buku membahas tentang masa depan hubungan Islam dan HI. Penulis optimistis bahwa seiring dengan bergesernya pusat kekuatan global ke Asia dan menguatnya suara negara-negara Selatan, kontribusi pemikiran Islam akan semakin relevan. Ia menyerukan perlunya pengembangan epistemologi HI yang lebih inklusif, yang tidak hanya bertumpu pada pengalaman Eropa, tetapi juga merangkum kekayaan tradisi peradaban lain, termasuk Islam.

Gagasan ini sangat relevan dengan wacana dekolonisasi ilmu pengetahuan yang kini mengemuka di berbagai perguruan tinggi dunia. Buku ini dapat dibaca sebagai kontribusi awal yang serius dalam proyek besar tersebut.

Secara keseluruhan, buku ini berhasil membangun sintesis yang kuat antara studi Islam dan teori hubungan internasional. Ia tidak saja relevan bagi kalangan akademisi dan mahasiswa, tetapi juga bagi diplomat, praktisi LSM, dan masyarakat umum yang ingin memahami secara lebih jernih bagaimana Islam berinteraksi dengan isu-isu global.

Apalagi, buku ini mendapat pengantar dari Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Prof. Asep Saepudin Jahar, yang menegaskan pentingnya kontribusi intelektual semacam ini dalam memperkaya wacana keislaman dan kebangsaan di Indonesia. Tentu, sebagai buku pengantar yang ambisius, masih ada ruang untuk pengembangan lebih lanjut. Misalnya, analisis yang lebih dalam tentang studi kasus konkret kebijakan luar negeri negara-negara Muslim tertentu akan memperkaya edisi berikutnya.

Selain itu, pembahasan tentang peran diaspora Muslim dalam politik global juga dapat ditambahkan untuk memberi perspektif yang lebih luas. Namun, kekurangan ini tidak mengurangi nilai penting buku ini sebagai pintu gerbang bagi siapa pun yang ingin mendalami perspektif Islam dalam percaturan dunia. Di era yang ditandai oleh polarisasi dan kesalahpahaman antarperadaban, karya ini menawarkan fondasi untuk dialog yang lebih berimbang dan saling menghargai.

Heri Surahman
Heri Surahman
Penulis. Guru SMAN 2 Jorong.

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru