25.8 C
Jakarta
Array

Membangun Tatanan yang Islami

Artikel Trending

Membangun Tatanan yang Islami
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Judul               : Perlukah Negara Islam

Penulis             : Agus Mustofa

Penerbit           : PADMA Press

Tebal               : 272

ISBN               : 978-979-1070-29-4

Dewasa ini, gerakan-gerakan transnasional yang hendak mendirikan Negara Islam (Khilafah) semakin menguat. Bahkan, gerakan ini sudah dominan, baik dalam aksi lapangan maupun pemberitaan, sehingga seakan-akan mewakili suara Islam secara keseluruhan. Padahal, jika ditelisik lebih dalam, mereka lebih banyak menampilkan wajah gerang dan radikal. Tak ayal, banyak kalangan mengaitkan gerakan tersebut dengan terorisme dan sejenisnya (h. 9).

Yang menarik adalah, negara atau kelompok yang mengusung konsep negara agama, dalam penerapannya lebih cenderung menunjukkan sebuah ambisi untuk meraih kekuasaan semata. Sebagai contoh, pertikaian panjang yang terjadi di Iran dan Iraq (yang digadang-gadang sebagai negara Islam Modern) dalam beberapa dasawarsa belakangan ini. Akibat pertikaian itu, lebih dari seribu orang mati karena meletusnya peperangan yang disebabkan oleh pertentangan antar kelompok sebagaimana yang disebut. Sehingga, Mohammad Abduh (1849-1905 M) mengatakan: “Saya melihat Islam di Barat tapi saya tidak temukan Kaum Muslim di sana. Sebaliknya, saya menemukan Kaum Muslim di Timur tapi saya tidak melihat ada Islam di sana.

Dalam bingkai inilah, Agus Mustofa menghadirkan bagaimana cara memandang agama secara komprehensif. Menurutnya, kelompok yang ngotot hendak mendirikan Negara Agama tetapi tidak disertai dengan spirit dan subtansi ajaran Islam, justru malah mencoreng wajah Islam. Logikanya begini, sebut saja Indonesia sebagai Negara Agama (perwakilan pemerintahan yang islami), jika Indonesia gagal mensejahterakan masyarakat dan menjadi negara maju dan beradab (sebagai bukti pengejawantahan nilai dan subtansi Islam) maka orang akan mudah mengeneralisasi bahwa Islam telah gagal dalam membangun tataan masyarakat.

Untuk itu, Agus Mustofa menguraikan sekaligus mengetengahkan kelompok yang saling berseberangan, bahwa bagaimana seharusnya pemerintahan Islam itu diselenggarakan agar mencapai tujuan yang sudah digariskan dalam Alquran dan hadis, yakni membangun tatan yang rahmatan lil alamin (h. 13).

Buku ini sekaligus menjawab kelompok Islam seperti HTI, bahwa berjuang di jalan Allah dan menegakkan syariat Islam tidak melulu harus mewujudkan Khilafah. Bahwa umat Islam memang perlu memiliki wadah yang bisa memperjuangkan kepentingan umat Islam di seluruh dunia. Akan tetapi, caranya harus benar, tidak terus meruntuhkan pemerintahan tertentu dan menggantinya dengan sistem yang baru, Khilafah. Justru, membangun negeri baru bukan akan menyelesaikan masalah, tetapi akan memunculkan banyak masalah. Sebab, akan ada rebutan kekuasaan atau wilayah-wilayah. Selain itu, boleh jadi negara belum berdiri, sudah digempur oleh negara-negara yang sudah eksis dan mapan duluan (h. 251).

Setiap negara memiliki sejarah dan karakteristik yang berbeda-beda. Jadi, sebagai umat Islam yang baik dan mengerti konteks kekinian dan kedisinian, akan lebih arif jika mengedepankan subtansi dan esensi, daripada formalitas. Jadi, yang dibutuhkan bukan semata-mata bentuk Negara Islam, tapi bagaimana membangun tatan yang Islami, Rahmatan lil Alamin. Dan untuk mewujudkan tatan itu, sekali lagi, tidak harus membentuk negara Islam!

*Muhammad NajibMahasiswa Pascasarjana  UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

 

Harakatuna
Harakatuna
Harakatuna.com merupakan media dakwah berbasis keislaman dan kebangsaan yang fokus pada penguatan pilar-pilar kebangsaan dan keislaman dengan ciri khas keindonesiaan. Transfer Donasi ke Rekening : BRI 033901002158309 a.n PT Harakatuna Bhakti Ummat

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru