25.6 C
Jakarta
Array

Membaca, Menulis, Mengajar

Artikel Trending

Membaca, Menulis, Mengajar
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Membaca, Menulis, Mengajar

Oleh: Didi Junaedi*

Ada tiga aktivitas yang selalu berkait-kelindan satu dengan lainnya dalam keseharianku. Ketiga aktivitas tersebut adalah: membaca, menulis, dan mengajar.

Membaca, karena aku ingin memenuhi titah-Nya yang pertama kali diwahyukan kepada Sang Nabi akhir zaman. Membaca, karena aku sadar bahwa menjalani hidup harus dipandu dengan ilmu. Ilmu hanya bisa didapat dengan belajar. Dan salah satu cara paling efektif untuk belajar adalah dengan membaca.

Membaca, dalam pengertiannya yang luas adalah menghimpun, mengkaji, meneliti serta memahami ilmu yang tersurat dan termaktub dalam lembar demi lembar Al-Qur’an, buku dan kitab, serta yang tersirat dalam fenomena kesaharian kita.

Dari aktivitas membaca ini aku mendapatkan ilmu dan pengetahuan tentang banyak hal, yang menjadi bekalku menjalani hidup dan kehidupan. Dari kegiatan membaca pula aku menjadi lebih terbuka dalam berpikir, berpendapat dan bersikap. Aku lebih mampu menenggang beda, memberi ruang kepada mereka yang tidak sependapat dan sepaham denganku dalam banyak hal. Karena aku sadar, ilmu Tuhan begitu luasnya, sementara pemahaman manusia begitu sempitnya. Tak layak dan tak elok bagiku untuk mencela mereka yang berbeda, mencaci mereka yang tak sevisi, menghujat mereka yang tak sependapat.

Sungguh, melalui aktivitas membaca ini aku benar-benar dibukakan lebar-lebar tentang ilmu Tuhan yang terbentang, pengetahuan Sang Alim yang tiada tanding tiada banding. Kalam suci pun menegaskan bahwa ilmu yang Tuhan berikan kepada hamba-Nya hanyalah sedikit. Dengan yang sedikit itu, apa yang bisa aku banggakan. Dengan yang sedikit itu, untuk apa aku mengencangkan urat hanya karena beda pendapat. Dengan yang sedikit itu, apa pantas aku membusungkan dada kepada sesama. Tidak! Sama sekali tidak! Ilmuku tidak ada setetes pun dari lautan ilmu-Nya yang tak bertepi. Karena itu, aku mewajibkan diriku untuk terus belajar, terus membaca, terus mengkaji dan meneliti, dan terus memahami sebatas kemampuanku.

Aktivitas selanjutnya yang terus aku lakukan setiap hari, dan aku berusaha untuk istiqamah adalah menulis. Ya, menulis adalah sebuah upaya untuk mengikat makna dari apa yang sudah aku baca, teliti, kaji dan pahami melalui lembar demi lembar kitab suci, buku, serta kitab yang ditulis oleh ilmuwan masa lalu, juga pengalaman hidup yang aku jalani, alami dan rasakan.

Menulis adalah seruan Tuhan selanjutnya setelah perintah membaca. Menulis adalah mengikat ilmu yang sudah kita dapat, agar tidak mudah lapuk ditelan waktu, hilang digilas zaman. Dengan menulis, aku mengabadikan ilmu dan pengetahuan. Dengan menulis aku tuangkan seluruh gagasan, pemahaman, serta pandangan-pandanganku tentang segala hal. Dengan menulis pula, aku melatih mengorganisasi pikiran melalui kata-kata yang teratur, sitematis dan logis. Berbeda dengan berbicara yang cenderung tidak beraturan, dan seringkali ngelantur ke sana kemari. Menulis membutuhkan pengorganisasian kalimat yang baik, pemilihan diksi yang tepat, serta mematuhi kaidah bahasa yang sudah ditetapkan.

Menulis juga menghadirkan perasaan lega, plong, bebas dan lepas dari beban pikiran dan masalah yang sedang menggelayut di benak. Menulis mampu merelaksasi pikiran dan perasaan. Bahkan, dalam sejumlah penelitian disebutkan bahwa menulis mampu meningkatkan imunitas tubuh, membuat tubuh lebih sehat, dan menjadikan seseorang yang membiasakannya terlihat awet muda.

Menulis, apalagi jika diterbitkan menjadi sebuah buku, bisa dijadikan monumen sajarah kehidupan seseorang. Atas dasar itu pula aku begitu semangat menulis. Alhamdulillah, sejauh ini sudah puluhan bahkan belasan karyaku berupa buku yang diterbitkan. Aku berharap, karya-karya tersebut menjadi penanda eksistensi dan kehadiranku di dunia ini, meski kelak aku sudah meninggalkan dunia fana ini. Dan, yang jauh lebih penting dari itu semua, aku berharap karya-karya tersebut mampu menghadirkan manfaat dan keberkahan, baik untuk diriku sendiri sebagai penulis, lebih-lebih untuk orang lain yang membaca karya-karyaku. Dan harapan tertingginya adalah, semoga kelak di hadapan Tuhan, karya-karya tersebut bisa menjadi pemberat timbangan amal kebaikanku. Amin []

*Penulis adalah dosen IAIN Syekh Nurjati Cirebon.

 

Harakatuna
Harakatuna
Harakatuna.com merupakan media dakwah berbasis keislaman dan kebangsaan yang fokus pada penguatan pilar-pilar kebangsaan dan keislaman dengan ciri khas keindonesiaan. Transfer Donasi ke Rekening : BRI 033901002158309 a.n PT Harakatuna Bhakti Ummat

Mengenal Harakatuna

Artikel SebelumnyaSekolah (Itu) Bukan Penjara
Artikel SelanjutnyaRujukan Memahami Nash

Artikel Terkait

Artikel Terbaru