Lima Pelajar SMP di Makassar Terpapar Paham Radikal Lewat Game Online

Artikel Trending

AkhbarDaerahLima Pelajar SMP di Makassar Terpapar Paham Radikal Lewat Game Online

Harakatuna.com. Makassar – Lima siswa SMP di Kota Makassar, Sulawesi Selatan, diduga terpapar paham radikal melalui game online dan media sosial. Kelima pelajar tersebut diketahui masuk dalam jaringan berpaham ekstrem sejak 2025.

Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Kota Makassar, Ita Isdiana Anwar, mengatakan para pelajar itu diketahui tergabung dalam 28 grup WhatsApp yang menjadi media penyebaran konten radikal.

“Mayoritas berasal dari keluarga menengah atas, cerdas, dan tidak menunjukkan perilaku mencolok. Justru mereka terpapar melalui game online dan media sosial,” ujar Ita, Jumat (15/5/2026).

Ia menjelaskan, kasus tersebut terungkap setelah DP3A bersama Densus 88 Antiteror Polri melakukan penjangkauan dan pendampingan sejak awal tahun lalu. Dari hasil penelusuran, ditemukan fakta bahwa anak-anak maupun orang tua mereka tidak menyadari telah terpapar jaringan berpaham radikal.

“Pada saat kami turun ke rumah, anak dan orang tuanya sama-sama kaget. Mereka tidak sadar sudah masuk dalam pemahaman jaringan tersebut,” katanya.

Menurut Ita, proses pendampingan dilakukan secara tertutup bersama Densus 88. Tim melakukan penelusuran hingga ke rumah masing-masing anak tanpa diketahui sebelumnya guna memastikan kondisi psikologis dan lingkungan keluarga.

BACA JUGA  Belasan Ribu Pelajar Jambi Deklarasi Tolak Radikalisme dan Bullying

DP3A kemudian memberikan pendampingan psikologis secara bertahap, tidak hanya kepada para pelajar, tetapi juga kepada orang tua mereka.
Ita menegaskan bahwa kelima siswa tersebut belum sampai pada tahap tindakan berbahaya seperti merakit bom atau aksi teror lainnya.

“Kasus ini berbeda dengan beberapa kejadian di Pulau Jawa yang sudah masuk tahap eksekusi teknis. Di Makassar belum sampai ke sana,” jelasnya.

Setelah mendapatkan pendampingan dan pemahaman yang benar, para pelajar tersebut disebut mulai berkomitmen keluar dari jaringan radikal secara bertahap. DP3A juga terus melakukan konseling pemulihan dan penguatan pola pikir terhadap mereka.

Lebih lanjut, Ita mengingatkan para orang tua agar lebih aktif mengawasi aktivitas digital anak, terutama ketika mulai menunjukkan perilaku tertutup dan terlalu lama menghabiskan waktu di depan gawai maupun laptop.

“Saya sudah meminta izin untuk menyampaikan hal ini kepada masyarakat supaya lebih waspada. Hati-hati dengan aktivitas digital anak-anak kita. Lindungi anak-anak kita,” tegasnya.

Kasus tersebut menjadi pengingat bahwa ruang digital, termasuk permainan daring dan media sosial, dapat dimanfaatkan kelompok ekstrem untuk menyebarkan propaganda dan merekrut anggota baru dari kalangan remaja.

Ahmad Fairozi, M.Hum.
Ahmad Fairozi, M.Hum.https://www.penasantri.id/
Mahasiswa UNUSIA Jakarta, Alumni PP. Annuqayah daerah Lubangsa

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru