30.9 C
Jakarta
Array

Lima Alasan Mengapa Dinamai Lailatul Qadar

Artikel Trending

Lima Alasan Mengapa Dinamai Lailatul Qadar
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Sebagai malam terbaik sepanjang tahun, lailatul qadar memiliki rahasia-rahasia yang membuatnya menjadi daya tarik tersendiri khususnya bagi orang-orang saleh. Penamaan lailatul qadar sejatinya langsung dari Tuhan Sang Maha Agung, Allah swt. Para ulama hanya mencoba menduga saja ada apa dibalik penamaan tersebut.

Lailatul qadar sudah menjadi kata baku dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia. Namun penulisan qadar tidak memakai huruf ‘q’, akan tetapi huruf ‘k’, lailatulkadar. Dalam tulisan ini sengaja tidak memakai kata baku yakni kadar, sebab dalam bahasa Arab kadar berarti keruh. Sehingga ini sangat jauh sekali dari arti dan apa yang dimiliki oleh lailatul qadar. Sebenarnya jika merujuk ke bahasa sumbernya, bahasa Arab, penulisan yang sesuai adalah qadr bukan qadar. Seiring lidah orang Indonesia kerap kesulitan mengeja kata yang berakhiran dua huruf mati semisal qadr. Sementara al-Razi menilai qadr dan qadar itu sebenarnya tunggal.

Maka penulis menempuh jalan tengah memilih kata qadar. Jika dirinci secara mendalam lailatul qadar terdiri dari dua kata; lailatul yang berarti malam. Sedangkan qadar multimakna. Dilihat dari akar katanya qadar mempunyai makna asal ‘batas inti puncaknya sesuatu’. Sehingga qadr atau qadar merupakan ketentuan Allah swt bagi segala sesuatu yang sesuai dengan batas yang diinginkan-Nya (Maqâyîs al-Lughah). Dalam penggunaannya di bahasa Arab, qadr multiarti di antaranya kemulian; ketentuan; harga; kedudukan; dan ukuran.

Para ulama –di antaranya al-Razi, al-Qurthubi dan al-Zamakhsyari- setidaknya memiliki lima (5) jawaban dipilihnya penamaan lailatul qadar, sebagai berikut:

Pertama, bermakna malam penentuan. Sebab –sebagaimana riwayat Atha’ dari Ibnu Abbas- pada malam lailatul qadar Allah swt menampakkan segala takdir mulai ajal, rezeki, hujan, lahir anak dan lainnya selama satu tahun ke depan untuk ditulis malaikat di lauh al-mahfûdz (QS al-Dukhan [44]: 4).

Kedua, bermakna malam kemulian dan agung seperti yang diungkapkan oleh al-Zuhri. Makna kemulian ini bisa diambil secara tersirat dari QS al-Qadr [97]: 3, yang menyatakan malam lailatul qadar lebih baik dari seribu bulan. Sementara keagungan malam itu dibuktikan dengan QS al-Qadr [97]: 2, apa yang kamu ketahui tentang lailatul qadar?

Pertanyaan Allah swt memberikan kesan tidakmampuan mengetahui puncak keagungannya. Selanjutnya kemulian dan keagungan lailatul qadar ini ada dua kemungkinan yakni; a. didapatkan oleh orang yang melaksanakan amal kebajikan dan ketaatan pada malam itu; b. dimiliki oleh amal kebaikan, sebab di malam itu pahalanya berlimpah dan amal lebih mudah diterima.

Ketiga, bermakna malam yang tinggi kedudukannya (qadr). Sebab pada malam itu –sebagaimana yang dinyatakan oleh Abu Bakar al-Warraq- Allah swt menurunkan kitab suci yang memiliki (qadr) kedudukan tinggi melalui perantara malaikat yang berkedudukan tinggi (qadr) diperuntukkan untuk umat yang paling tinggi kedudukannya (qadr). Bisa jadi penyebutan redaksi qadr sebanyak tiga kali dalam surah al-Qadr karena sebab ini. Namun ada juga yang berpendapat, orang yang menghidupkan malam lailatul qadar maka akan mempunyai (qadr) kedudukan tinggi.

Keempat, bermakna malam saat bumi penuh sesak oleh turunnya para malaikat. Pendapat ini diungkapkan oleh al-Khalil berdasarkan QS al-Thalaq [65]: 7 yang mana qudira juga berarti sempit.

Kelima, bermakna malam pembagian rahmat. Pandangan ini dinukil oleh al-Qurthubi dari Sahl al-Tustari.

Harakatuna
Harakatuna
Harakatuna.com merupakan media dakwah berbasis keislaman dan kebangsaan yang fokus pada penguatan pilar-pilar kebangsaan dan keislaman dengan ciri khas keindonesiaan. Transfer Donasi ke Rekening : BRI 033901002158309 a.n PT Harakatuna Bhakti Ummat

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru