31.9 C
Jakarta

Keluarga: Pusat Gerakan Sosial dalam Disengagement Pelaku Teror

Artikel Trending

KhazanahTelaahKeluarga: Pusat Gerakan Sosial dalam Disengagement Pelaku Teror
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Harakatuna.com- Pembahasan terorisme yang terus menjadi ancaman NKRI, selalu menarik perhatian kita semua untuk terus dikaji dalam mempersiapkan upaya preventif dan upaya memperbaiki pasca terjadinya aksi terorisme. Sebab di balik dari aksi teror yang dilakukan oleh seseorang, ada proses panjang yang sudah dilakukan. Bagi orang-orang yang sudah menjadi pelaku teror, yang diwujudkan dengan pemahaman yang dimiliki dalam bentuk kekerasan, memaknai teror sebagai satu-satunya jalan untuk melakukan jihad. Ketika seseorang sudah memiliki niat untuk meninggal group atau kelompok yang selama ini menjadi basis pemikiran dan gerakan yang diyakini, maka pada proses itulah pentingnya disengagement.

Disengagement merupakan soft line approach yang lain, menitikberatkan pada perbaikan hubungan sosial mantan pelaku tindak pidana terorisme guna mencegah masuknya kembali mereka pada jaringan atau komunitasnya serta pencegahan pengulangan kejahatan yang sama. Apa yang melatar belakangi seseorang meninggal kelompok teror yang sudah menjadi bagian dari kehidupannya? Harris (2010) menjelaskan bahwa ada tiga faktor seseorang meninggalkan jalan kekerasan, di antaranya: faktor normatif, afektif, dan ke-continue-an.

Faktor normatif berkaitan dengan ideologi pelaku teror. Dalam fase ini, pelaku memahami pergeseran pemahaman dan arah perjuangan pelaku, beralih dari penggunaan cara-cara kekerasan ke jalan damai dalam memperjuangkan ideologi jihad. Faktor afektif berkaitan dengan kebimbangan dan keprihatinan pelaku melihat penderitaan korban yang tidak berdosa. Faktor ke-continue-an berkaitan dengan hasrat pelaku untuk memulai kehidupan baru.

Pada fase ini, perlunya sumber yang harus bisa mengawal perubahan seseorang supaya tidak kembali masuk pada circle yang sama, siapa sumber tersebut? Satu-satunya yang paling keluarga. Mengapa keluarga menjadi sangat penting?

Keluarga dan peran sentral perlawanan terorisme

Din Wahid, peneliti PPIM UIN Jakarta, dalam sebuah seminar yang bertajuk “Keluarga & Peranannya dalam Pembentukan Terorisme di Indonesia” pada Jumat. 30 September 2022 lalu, menyampaikan bahwa,

“Keluarga itu sangat penting, memang peran keluarga dalam teori gerakan sosial itu menjadi salah satu sumber mobilisasi yang sangat kuat, jadi kalo teori gerakan sosial salah satu biasa yang digunakan itu adalah reason mobilization theory.”

Gerakan sosial yang dimaksud bisa dipahami sebagai bentuk perlawanan yang bisa diberikan oleh keluarga untuk memberikan keamanan dan kenyamanan pada seseorang yang sudah masuk dalam pelaku teror.  Dalam konteks ini, pelaku teror yang sudah keluar dari circle tersebut, membutuhkan support system yang cukup besar untuk lebih menguatkan diri atas keputusan keluar dari apa yang selama ini dilakukan. Keluarga, sebagai kelompok masyarakat terdekat pelaku teror, sangat bisa dimanfaatkan tempat pulang ketika seseorang mengalami dilema dalam menjalani kehidupan atas konsekuensi pilihan keluar dari lingkungannya. Tentu, ia akan dikucilkan oleh orang-orang di lingkungannya. Desakan untuk diajak kembali pada pertemanan teror itu sangat besar, sehingga butuh mental yang kuat bagi seseorang untuk benar-benar meninggalkan.

BACA JUGA  Upaya Memadamkan Konflik Kekerasan dengan Perdamaian

Dukungan keluarga berperan sangat penting dalam proses Disengagement. Bagi keluarga yang mendapati anggota keluarganya pernah menjadi pelaku teror mereka justru upaya yang perlu dilakukan dengan memberikan wawasan baru mengenai jihad yang sesungguhnya, bukan dengan cara membenci atau bahkan mengasingkan seseorang tersebut. Atas dasar itu, keluarga harus benar-benar memahami perannya sebagai ruang aman utama bagi anggota keluarganya yang sedang terjebak dalam pelaku teror. Apabila keluarga justru mengasingkan pelaku teror tersebut, yang terjadi adalah, ia akan kembali pada kelompok teror karena tidak memiliki pondasi yang kuat atas pilihan sebelumnya.

Dengan demikian, basis gerakan sosial yang bisa diperankan oleh keluarga dalam proses Disengagement bagi pelaku teror, memiliki makna besar terhadap orang tersebut. Jika ada yang menyebut bahwa keluarga adalah bibit utama dalam menyemai perdamaian dan memberantas terorisme, sangat benar adanya. Kasih sayang yang diberikan oleh keluarga untuk melindungi anggota keluarganya, terutama orang tua kepada anak, tidak bisa ditukar dengan teori manapun, Sekalipun teori ekonomi kapitalisme mengatakan bahwa kebaikan seseorang terjadi hanya karena seseorang tersebut  ingin mendapatkan keuntungan, kebaikan keluarga, utamanya orang tua, diberikan kepada seorang anak dengan tidak berharap balasan, atau tidak ingin mendapatkan keuntungan sedikitpun. Keluarga benar-benar melindungi, memberikan kebaikan, tanpa meminta untuk dibalas apapun atas kasih sayang yang sudah diberikan. Wallahu a’lam

Muallifah
Muallifah
Mahasiswi Magister Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta. Bisa disapa melalui instagram @muallifah_ifa

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru