30.3 C
Jakarta
Array

Keistimewaan Nabi Besar Muhammad Saw (3)

Artikel Trending

Keistimewaan Nabi Besar Muhammad Saw (3)
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Sebagai makhluk termulia yang diciptakan oleh Allah Sang Maha Kuasa, Nabi Besar Muhammad saw diberi kemulian dan keistimewaan oleh Allah swt yang tidak henti-hentinya menunjukkan kemuliaannya dibanding ciptaan lainnya. Begitupun juga para nabi-nabi Allah swt yang menjadi insan-insan pilihan di antara semua manusia di dunia, mereka diberi kekhususan yang tidak dimiliki oleh manusia biasa.  Diantara keistimewaan yang dimiliki oleh Nabi Muhammad saw, Nabi penutup para nabi ini adalah kotoran air kecil dan air besar beliau akan langsung ditelan oleh bumi. Bahkan kotoran beliau mengeluarkan bau harum yang semerbak bak minyak wangi.

Dalam satu riwayat Aisyah ra pernah bertanya kepada Rasulullah saw, “Wahai Rasulullah saw, saya sebelumnya melihatmu masuk toilet lalu bagaimana bisa orang yang masuk ke toilet setelahmu tidak melihat bekas kotoran yang keluar darimu?
Rasulullah saw menjawab, “Aisyah, tahukah kamu, Allah swt telah memerintahkan bumi untuk menelan semua kotoran yang keluar dari para nabi”. Al-Baihaqi dalam Dalâil al-Nubuwwah, juga menyebutkan riwayat dari Aisyah ra. Hanya saja ada beberapa keterangan tambahan, yakni “Aku tidak melihat apapun tapi aku malah menciup bau harum.

Ibnu Sabuʻ dalam al-Syifâ meriwayatkan dari sejumlah sahabat, bahwa saat menemani di perjalanan mereka melihat Nabi saw menyelesaikan hajatnya di suatu tempat. Ketika Nabi saw selesai, salah satu di antara mereka mendatangi tempat itu namun tidak mendapati bekas kotoran air besar maupun air kecil. Di tempat itu dia menemukan tiga buah batu yang kemudian diambilnya. Ketiga batu itu berbau harum seperti bau minyak wangi. Riwayat-riwayat yang menerangkan kekhususan ini diperkuat oleh jalur periwayatan yang lain.

Selain keistimewaan di atas berupa kotoran yang langsung tertelan, Nabi Besar Muhammad saw juga mempunyai keistimewaan lain yaitu kesucian kotoran air besar dan kecil beliau. Ibnu Katsir dalam al-Fushûl fî Sîrah al-Rasûl menukil riwayat al-Baihaqi yang menyatakan bahwa Nabi Muhammad saw pernah buang air kecil di suatu wadah lalu diletakkan di bawah Kasur beliau saw. Kemudian saat Nabi saw ingin buang air kecil lagi ternyata wadah itu sudah kosong. Lalu beliau saw bertanya pada Barakah Ummu Yusuf, seorang pembantu Ummu Habibah dari Habasyah, “di mana kencing yang sebelumnya ada di wadah ini?” Barakah Ummu Yusuf menjawab, “Saya telah meminumnya, wahai Rasul” Riwayat ini juga diriwayatkan juga oleh Abu Dawud dan al-Nasa’i. Menurut jalur periwayatan lain yang dicantumkan oleh al-Suyuthi dalam al-Khashâish al-Kubrâ serta Muhammad bin Yusuf al-Syami dalam Subul al-Hudâ wa al-Rasyâd fî Sîrah Khayr al-ʻIbâd, ditemukan keterangan tambahan yakni saat Barakah Ummu Yusuf menjawab, “saya meminumnya”, Nabi Muhammad saw menimpali, “(mudah-mudahan) sehat, wahai Ummu Yusuf”. Menurut riwayat lainnya, jawaban Nabi saw adalah “perutmu tidak akan merasakan sakit” .Diketahui semenjak meminumnya, Barakah Ummu Yusuf tidak pernah sakit selama hidupnya hingga ajal menjemput.

Namun mengenai hukum kesucian kotoran Nabi saw ditemukan perbedaan pendapat. Diantara ulama yang memandang suci adalah al-Rafiʻi, al-Suyuthi, Ibnu Katsir. Sedangkan yang menilai tidak suci salah satunya Ibnu al-Mulaqqin. Terlepas dari perbedaan pandangan mengenai kesucian kotoran Nabi saw, alhasil berbagai riwayat yang dinukil oleh para ulama di atas menunjukkan betapa istimewanya Nabi Besar Muhammad saw di mata Allah saw sehingga menjaga kotoran dengan cara tertelan oleh bumi sekaligus mengganti bau busuk yang umumnya melekat pada kotoran dengan bau harum semerbak sewangi minyak misik. [Ali Fitriana]

Harakatuna
Harakatuna
Harakatuna.com merupakan media dakwah berbasis keislaman dan kebangsaan yang fokus pada penguatan pilar-pilar kebangsaan dan keislaman dengan ciri khas keindonesiaan. Transfer Donasi ke Rekening : BRI 033901002158309 a.n PT Harakatuna Bhakti Ummat

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru