25.7 C
Jakarta

KAMI DKI Deklarasikan Tolak Kelompok Intoleran dan Radikalisme

Artikel Trending

AkhbarNasionalKAMI DKI Deklarasikan Tolak Kelompok Intoleran dan Radikalisme
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Harakatuna.com. Jakarta  – Pengurus Wilayah Komunitas Aktivis Muda Indonesia (KAMI) menggelar Seminar dan Deklarasi dengan mengangkat tema “Kasus Duren Tiga dan Penunggangan Oleh Kelompok Radikal” di Jakarta pada Kamis (8/9).

Acara tersebut menghadirkan narasumber, Islah Bahrawi selaku Direktur Eksekutif Jaringan Moderat Indonesia dan Pemerhati Radikalisme, Ekstremisme dan Terorisme.

Menurut Cak Islah, kasus “Duren Tiga” telah dimanfaatkan dan ditunggangi oleh para kelompok eksternal yang memang ingin menjatuhkan muruah Polri. Terutama dari kelompok radikal yang sejak lama selalu berusaha mendegradasi para penegak hukum.

Islah mengingatkan untuk menyadari masih banyak polisi yang berdedikasi penuh terhadap pelayanan masyarakat, institusi Polri dan NKRI dalam menjalankan tugasnya.

“Jangan dibungkus sama seolah semua anggota Polri buruk,” kata Islah.

Mantan aktivis 90-an ini juga mempertegas dalam menyikapi semua itu institusi Polri butuh diskresi penuh dari Kapolri agar kasus “Duren Tiga” ini segera dituntaskan.

Tujuannya supaya tidak terus-menerus menjadi headline di media sehingga mudah tergiring liar untuk selanjutnya dijadikan alat oleh kelompok radikal dalam membangun public distrust terhadap kepolisian.

Dia menambahkan lagi, masifnya penunggangan ini telah membias ke mana-mana. Bahkan seolah melibatkan paksa tiga nama Kapolda, terutama kepada Kapolda Metro Jaya yang memang sejak lama dipersekusi secara digital dan sosial oleh kelompok radikal.

“Bayangkan saja, isu hoaks tentang ini pun di framing melalui media mainstream ternama, ini kan bahaya sekali,” kata Islah.

Narasumber lainnya dalam acara tersebut adalah Mantan Direktur LKBHMI PB HMI Abdul Rorano.

BACA JUGA  Waspadai Mimbar Agama untuk Penyebaran Radikalisme

Abdul Rorano menjelaskan kasus Duren Tiga, sebenarnya titik pentingnya berada pada persoalan kepercayaan publik kepada institusi Polri.

Menurut Rorano Kapolri harus berani mengambil sikap tegas dalam menuntaskan kasus Duren Tiga secepatnya dan mengesampingkan opini publik yang berkembang.

“Prinsipnya, Kapolri harus punyai sikap tegas dalam menuntaskan kasus Duren Tiga ini. Sehingga denyut jantung Presisi bisa dirasakan oleh masyarakat,” ujar Rorano.

Dalam seminar ini, Rorano juga menyampaikan institusi Polri harus segera berbenah demi total recovery di seluruh kesatuan kerja Polri.

“Pembenahan internal harus segera dilakukan demi mengembalikan kepercayaan masyarakat terhadap Polri,” kata dia.

“Saat ini, menurut survei kepercayaan masyarakat kepada Polri kembali menurun secara signifikan dari indeks sebelumnya. Hal ini diakibatkan kasus Duren Tiga yang tak kunjung usai,” ungkap Rorano.

Pada akhir agenda Seminar bersama PW KAMI DKI, Cak Islah menyatakan penunggangan dalam kasus Duren Tiga ini akan sulit untuk ditangkal jika kasus Duren Tiga dibiarkan berkembang liar.

Islah khawatir isu kasus Duren Tiga makin lama akan ditunggangi berbagai kepentingan internal dan eksternal, yang pada akhirnya akan membangun subordinasi dan disobedience di dalam institusi Polri sendiri.

“Lemahnya mental anggota Polri bisa juga menimbulkan rasa takut dalam menjalankan tugasnya selaku penegak hukum,” kata Islah.

Islah menegaskan makin melebarnya kasus Duren Tiga bisa memunculkan kurang percaya diri Polri dan inferiority complex akibat bully dari publik yang berkepanjangan.

“Ini akan makin tambah runyam ketika kelompok radikal ikut membangun opini publik dengan menunggangi kasus ini,” kata dia.

Ahmad Fairozi
Ahmad Fairozihttps://www.penasantri.id/
Mahasiswa UNUSIA Jakarta, Alumni PP. Annuqayah daerah Lubangsa

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru