Harakatuna.com. Yerusalem – Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyatakan pemerintahnya menanggapi secara serius berbagai pernyataan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan yang dinilai bernada permusuhan terhadap Israel. Netanyahu menegaskan Israel akan menyampaikan sikap tersebut kepada Amerika Serikat sebagai mitra strategisnya.
Pernyataan itu disampaikan Netanyahu dalam rapat kabinet di Yerusalem, Senin (29/6/2026), menyusul meningkatnya ketegangan diplomatik antara Israel dan Turki di tengah situasi keamanan kawasan Timur Tengah. “Hampir tidak ada hari berlalu tanpa Erdogan menyerukan kehancuran Negara Israel. Kami menanggapi kata-kata tersebut dengan sangat serius,” kata Netanyahu, seperti dikutip The Times of Israel.
Ia menambahkan bahwa pemerintah Israel tidak akan mengabaikan pernyataan-pernyataan tersebut. “Kami juga akan menarik perhatian teman-teman Amerika kami terhadap pernyataan-pernyataan ini. Kami tidak mengabaikannya,” lanjutnya. Hubungan Ankara dan Tel Aviv dalam beberapa waktu terakhir kembali memanas. Sejumlah pejabat tinggi Turki, termasuk Menteri Dalam Negeri Turki, melontarkan pernyataan keras terkait Yerusalem, bahkan menyerukan agar Turki “membebaskan” kota suci tersebut.
Sejak pecahnya perang Gaza yang dipicu serangan Hamas pada 7 Oktober 2023, Presiden Recep Tayyip Erdogan menjadi salah satu pemimpin dunia yang paling vokal mengkritik Israel. Erdogan berulang kali menuduh Israel melakukan genosida terhadap warga Palestina di Jalur Gaza, mendukung surat perintah penangkapan yang dikeluarkan Mahkamah Pidana Internasional (ICC) terhadap para pemimpin Israel, serta mendesak Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mempertimbangkan langkah-langkah lebih tegas terhadap Tel Aviv.
Sejumlah media Barat dan Israel juga melaporkan bahwa pada penutupan Ramadan tahun 2025, Erdogan sempat memanjatkan doa agar Israel dihancurkan. Di tengah meningkatnya ketegangan tersebut, Presiden Amerika Serikat Donald Trump disebut tetap menjalin hubungan baik dengan Erdogan.
Pekan lalu, Trump bahkan mengemukakan dugaan bahwa Turki berpotensi memberikan dukungan kepada Iran apabila konflik di kawasan semakin meluas, meski hingga kini tidak terdapat indikasi Ankara akan terlibat secara langsung dalam konfrontasi militer. Pada saat yang sama, Trump juga mengisyaratkan kemungkinan penjualan sejumlah alutsista kepada Turki menjelang Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) NATO yang dijadwalkan berlangsung awal Juli 2026.
Rencana penjualan itu disebut mencakup jet tempur siluman F-35 beserta puluhan mesin pesawat tempur, sebuah langkah yang memunculkan kekhawatiran di kalangan pejabat keamanan Israel.
Erdogan: Zionisme Mengancam Turki
Sementara itu, Presiden Recep Tayyip Erdogan kembali menegaskan sikap kerasnya terhadap Zionisme saat menghadiri kegiatan Partai Keadilan dan Pembangunan (AKP) di Ankara, Sabtu (27/6/2026).
Dalam pidatonya, Erdogan menyatakan bahwa ideologi Zionisme tidak hanya mengancam dirinya atau partainya, tetapi juga seluruh rakyat Turki. “Ideologi Zionis yang dibangun di atas genosida, pendudukan, dan ekspansionisme tidak hanya menargetkan saya secara pribadi, Partai Keadilan dan Pembangunan (AKP), ataupun Aliansi Rakyat, tetapi juga seluruh rakyat Turki,” ujar Erdogan, seperti dikutip Al Jazeera.
Ia menambahkan bahwa sikap Turki terhadap Zionisme merupakan bagian dari upaya menjaga kepentingan nasional. “Ketika kami berjuang melawan Zionisme, perjuangan tersebut bukan demi kepentingan pribadi ataupun kelompok kami, melainkan demi kelangsungan negara dan seluruh rakyat Turki,” katanya.
Di tengah memanasnya hubungan politik kedua negara, media Israel Maariv baru-baru ini menerbitkan analisis yang menyebut Turki kini menjadi tantangan keamanan yang lebih serius bagi Israel dibandingkan Iran. Dalam laporan yang dipublikasikan Senin (23/6/2026), Maariv menilai Turki memiliki sejumlah keunggulan strategis, mulai dari kekuatan militer terbesar kedua di NATO hingga industri pertahanan yang telah mencapai tingkat kemandirian sekitar 80 persen.
Media tersebut menyoroti keberadaan ratusan tank tempur, termasuk tank utama Altay, sekitar 200 pesawat tempur F-16 Fighting Falcon, sistem pertahanan udara buatan dalam negeri, serta kekuatan Angkatan Laut Turki yang memiliki 16 kapal selam, sejumlah fregat, dan kapal serbu amfibi TCG Anadolu.
Selain itu, pengalaman militer Turki dalam berbagai operasi di Suriah dan Irak dinilai telah meningkatkan kemampuan tempur pasukannya, baik dalam peperangan perkotaan maupun operasi di wilayah pegunungan. Meski Israel dan Turki masih memiliki hubungan diplomatik, relasi kedua negara dalam beberapa tahun terakhir terus mengalami pasang surut dan kembali memanas seiring konflik yang berlangsung di Jalur Gaza serta meningkatnya saling kritik antara para pemimpin kedua negara.

















Leave a Comment