Ini Penyebab Utama Kebuntuan Negosiasi Damai AS-Iran

Ahmad Fairozi, M.Hum.

12/04/2026

2
Min Read

Harakatuna.com. Islamabad – Perundingan damai antara Amerika Serikat dan Iran yang dilakuka di Islamabad pada Sabtu, 11 April 2026 belum membuahkan kesepakatan. Wakil Presiden AS JD Vance menyebut kegagalan ini terjadi karena Iran menolak sejumlah syarat yang diajukan Washington.

Dalam konferensi pers, Vance menegaskan bahwa pihaknya telah datang dengan sikap fleksibel dan itikad baik. Namun hingga akhir perundingan, kedua negara belum mencapai titik temu. “Kami meninggalkan proposal terbaik kami. Tinggal menunggu apakah Iran akan menerimanya,” ujarnya.

Presiden AS Donald Trump disebut terlibat langsung dalam proses negosiasi yang berlangsung intens selama lebih dari 20 jam. Salah satu tujuan utama Washington adalah memastikan Iran tidak memiliki senjata nuklir, baik sekarang maupun di masa depan.

Di sisi lain, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baqaei menilai pembicaraan berlangsung intens, namun keberhasilannya bergantung pada keseriusan AS. Ia juga meminta Washington menghentikan tuntutan yang dinilai berlebihan dan menghormati hak Iran.

Sejumlah isu krusial menjadi penghambat utama negosiasi. Salah satunya adalah konflik regional, termasuk serangan Israel terhadap kelompok Hizbullah di Lebanon. Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan bahwa eskalasi tersebut bisa membuat perundingan kehilangan makna.

BACA JUGA  Perang Iran–AS Picu ASEAN Lirik Energi Nuklir

Selain itu, jalur strategis Selat Hormuz juga menjadi titik sengketa. Iran menganggapnya sebagai wilayah kedaulatan, sementara AS menuntut akses bebas bagi kapal internasional tanpa biaya tambahan.

Isu paling krusial tetap terkait program nuklir. AS menuntut penghentian total pengayaan uranium, sementara Iran bersikeras bahwa aktivitas tersebut merupakan hak sah untuk tujuan sipil sesuai perjanjian internasional.

Faktor lain yang memperumit situasi adalah jaringan sekutu Iran di kawasan, seperti Hizbullah di Lebanon. Benjamin Netanyahu menegaskan tidak akan ada gencatan senjata jika menyangkut kelompok tersebut.

Di tengah tekanan ekonomi akibat sanksi, Iran juga menuntut pencabutan sanksi serta pencairan aset yang dibekukan sebagai bagian dari kesepakatan. Namun hingga kini belum ada kepastian apakah AS bersedia memenuhi tuntutan tersebut.

Dengan banyaknya kepentingan yang saling bertabrakan—mulai dari nuklir, geopolitik, hingga ekonomi—masa depan perundingan AS-Iran masih penuh ketidakpastian.

Leave a Comment

Related Post