26.6 C
Jakarta

Hagia Sophia dan Kebijakan Jenaka Populis Ala Erdogan

Artikel Trending

Habib yang Menjamur

Dulu, saat saya kecil, di jalan-jalan tidak pernah terpampang baliho. Suasana damai sekali, bahkan tatkala gaduh pun, ya, paling itu karena persoalan biasa. Tidak...

Hukum Menyimpan Tali Pusar Bayi Menurut Islam

Tali pusar adalah jalan yang menghubungkan antara ibu dan bayinya ketika masih dikandungan. Tali pusar ini berfungsi untuk menyalurkan makanan dan oksigen dari ibu...

Rizieq Shihab Mati Langkah?

Pesta penyambutan kepulangan Rizieq Shihab berubah menjadi bencana bagi masa depan perjuangan politik Rizieq Shihab dan kawan-kawan. Belum genap satu bulan menginjak kaki di...

Memberantas FPI, Memberantas Pembising Negeri

Sejumlah anggota TNI berseragam lengkap mendatangi Markas DPP Front Pembela Islam (FPI) di Petamburan, Jakarta Pusat, pada Kamis (19/11) lalu. Mereka menurunkan baliho Habib...

Ampuhnya Doa Orang Puasa

Berbicara tentang manjurnya doa orang puasa sejenak kita akan langsung tertuju pada sebuah hadis dalam Sunan Ibnu Majah yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Amr...

Makna Rahmat dalam Al-Qur’an Al-Karim

Rahmat terdiri dari tiga huruf râ’, hâ’, dan mîm. Menurut Ibnu Faris dalam Maqâyîs al-Lughah setiap kata Arab yang berakar dari tiga huruf râ’,...

Relasi Iman, Keadilan dan Demokrasi ala Cak Nur

Nurcholish Madjid, atau yang biasa dipanggil Cak Nur, dikenal luas sebagai salah satu cendekiawan Muslim terbesar di Indonesia. Pemikirannya merupakan suatu usaha untuk mencari...

Bagaimana Hukum Memberi Nasehat dalam Islam?

Tahukah kalian, mengapa agama merupakan suatu nasehat? Kehidupan seseorang bisa berubah dengan nasehat anda. Jalan kehidupan seseorang juga bisa berubah sedemikian baik lantaran duduk...

Aya Sofya atau Hagia Shopia adalah situs bersejarah sejak zaman Bizantium. Mulanya difungsikan sebagai Gereja Ortodok, kemudian pada masa Al-Fatih 1453 menjadi masjid, beralih menjadi museum pada masa Mustafa Kemal Attaturk tahun 1935. Tahun 2020, tepatnya 85 tahun setelah berfungsi sebagai museum, kini kembali menjadi masjid.

Sebagian besar umat muslim menyambut baik konversi fungsi tersebut, walaupun sebenarnya menyisakan sejumlah problem serius, apalagi kebijakan tersebut tidak berdasar pada kebutuhan masyarakat luas, tapi lebih tepatnya hanya berpijak pada kepentingan politik praktis semata. Gus Zuhairi Misrawi menyebut fenomena ini dengan sebutan Erdoganisme.

Resonansi  euforia tersebut juga bergetar kencang di tanah air dengan pengertian sebagai indikator kebangkitan Islam. Erdoganisme terasa tidak terlalu kentara jelas dibalik bayang-bayang kebijakan populis bercorak Islam, Vedi R Hadiz menyebutnya populisme Islam. Kepentingan personal-sektarian terkemas pada semangat dan identitas keagamaan. Padahal, segala bentuk populisme dan segala hal yang mensifatinya tidak pernah jauh dari kepentingan ekonomi dan kekuasaan.

Erdogan begitu lihai memainkan kebangkitan identitas keagamaan walau suatu saat umatlah yang akan menanggung resikonya. Berbagai protes yang dilayangkan oleh Gereja Ortodok diabaikan, bahkan pintu dialog itu sengaja ditutup sekaligus benar-benar mengabaikan suratan historis dari Hagia Sophia.

Konversi menjadi masjid bukan hal yang mendesak bagi masyarakat Turki, khususnya warga Istanbul, karena di sekitar Hagia Sophia juga berdiri ratusan masjid yang masih mencukupi untuk memenuhi kebutuhan masyarakat setempat. Tapi ini bukan persoalan kebutuhan, namun lebih sekedar persoalan citra, citra Erdogan untuk periode berikutnya.

Sejarah Hagia Sophia yang Terus Berkecamuk

Dilaporkan oleh Aljazeera.com, Erdogan saat ini telah membuat kesalahan, menjadikan Turki kembali pada situasi 6 abad silam. Pada saat yang sama Turki menposisikan dirinya sebagai pembuka provokasi masyarakat dunia untuk kembali bergesekan atas nama simbol-simbol keagamaan.

Selain dari respon serius tersebut, beberapa terdapat respon netizen yang di media sosial yang tergolong lucu. Misalnya, mereka ada yang bilang, berdoa di dalam Gereja itu lebih menyenangkan dan menentramkan. Satu pesan lagi yang terkesan sangat jenaka adalah saran bagi Erdogan, seharusnya kebijakan Erdogan lebih baik dari sebelumnya, yaitu menjadi Hagia Sophia sebagai Masjid di hari Jum’at, menjadi Gereja di hari minggu dan menjadi museum selain dari dua hari itu.

Masukan yang cukup sederhana dan jenaka, tapi masih lebih bagus daripada kebijakan serius tetapi senyatanya mengundang konflik di kemudian hari. Disitu kemudian kita sulit membedakan mana sebenarnya yang benar-benar lelucon dalam hidup ini. Hagia Sophia adalah milik bersama, bukan seperti lelucon yang dibuat oleh Erogan.

 

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Artikel Terbaru

Teroris MIT dan Polusi Akhlak

Bangkitnya MIT menghentak kita. Publik kembali dikagetkan dengan aksi pembantaian keji kepada satu keluarga yang dilakukan oleh Mujahidin Indonesia Timur (MIT) pimpinan Ali Kalora,...

Hizbullah Tuntut Pembunuhan Fakhrizadeh

Harakatuna.com. Bairut - Hizbullah mengecam keras pembunuhan Fakhrizadeh, fisikawan nuklir dan kepala pusat inovasi Kementerian Pertahanan Iran. Hizbullah menyebutnya sebagai serangan teroris. "Hizbullah mengecam keras serangan teroris...

Mujahidin Indonesia Timur (MIT) Mengampanyekan Terorisme Bermodus Jihad

Beberapa hari yang lalu sekitar enam rumah di kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah diserang oleh orang tak dikenal (OTK). Beberapa media menyebutkan, orang tersebut adalah...

Ulama Harus Membawa Kedamaian dan Kerukunan Bagi Umat

Harakatuna.com. Jakarta - Tidak dapat dipungkiri bahwa sejarah kemerdekaan Indonesia lahir dari peran penting para ulama. Ulama adalah teladan tidak hanya dalam aspek keagamaan,...

Tidak Dikatakan Beriman, Orang Yang Suka Mencaci Maki

Sekarang ini keadaan ruang publik kita bisa dikhawatirkan mencemaskan, kalau tidak ingin dikatakan darurat. Bagaimana tidak sekarang ujaran kebencian, saling mencaci terjadi dimana-mana mengisi...

Akademisi IAIN Palu, Lukman Thahir Sebut Pembunuh di Sigi Cari Perhatian Asing

Harakatuna.com. Palu-Akademisi Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Palu, Provinsi Sulawesi Tengah, Dr Lukman S Thahir, berpandangan  aksi pembunuhan empat warga Sigi yang dilakukan oleh...

Habib Rizieq dan Peta Politik Islam Mendatang

Pada tanggal 10 November lalu Habib Rizieq Syihab (HRS) telah pulang ke tanah air. Kedatangannya disambut seperti pahlawan. Ribuan bahkan jutaan orang berkumpul di...